Di balik mimbar kayu berlapis kain beludru hijau, kaki saya gemetar.
Untung orang-orang hanya melihat wajah saya.
Saya berdiri di depan jamaah Masjid Spadem, beberapa menit sebelum sholat tarawih dimulai. Masjid penuh sesak, jauh melampaui ramainya jamaah Subuh atau waktu-waktu shalat lainnya. Orang-orang duduk bersila, menunggu. Anak-anak pesantren kilat duduk berkelompok. Bapa, Mama, dan Kaka Ham ada di antara jamaah.
Saya mencoba melihat ke depan, tapi tidak terlalu berani menatap siapa-siapa.
Di tangan saya ada kertas kecil berisi catatan kultum. Isinya hanya beberapa poin. Saya tidak ingat lagi materinya. Tentang puasa, sabar, atau keutamaan Ramadan. Tema yang aman untuk anak SMP yang tiba-tiba harus bicara tujuh menit di depan orang banyak.
Yang saya ingat justru kaki saya.
Bergetar.
Seperti ada mesin kecil menyala dari lutut ke bawah.
Mimbar menyelamatkan saya malam itu. Kalau tidak ada mimbar, semua orang mungkin bisa melihat bahwa penceramah kecil itu sedang berusaha keras supaya tidak kelihatan takut.
Saya mulai bicara.
Suara saya kecil di awal. Terlalu hati-hati. Mungkin terlalu cepat. Saya membaca kertas, lalu mengangkat muka sedikit, lalu kembali lagi ke kertas. Beberapa kalimat pertama seperti harus ditarik keluar satu per satu.
Tujuh menit bisa terasa sangat lama kalau orang sebanyak itu sedang menatapmu.
***
Waktu itu saya masih kelas 1 SMP. Baru beberapa bulan masuk SMP Negeri 2 Merauke. Dunia SMP jauh lebih besar daripada SD Spadem. Di SD, meskipun saya pendiam, semuanya terasa dekat. Teman-teman sudah dikenal sejak kecil: Leni, Manda, Oji, Arman. Rumah mereka dekat. Kalau mau main, tinggal panggil dari depan pagar.
Di SMP, wajah-wajah baru datang dari banyak sekolah. Saya masuk kelas 1E. Oji di 1F. Leni dan Manda malah beda sekolah. Lingkaran kecil masa SD tidak sepenuhnya ikut masuk ke hari-hari baru itu.
Saya tetap bukan anak yang cepat akrab.
Tapi SMP membuat saya harus lebih sering bicara.
Saya masuk Pramuka. Masuk OSIS. Di OSIS saya menjadi anggota Seksi Bela Negara, yang masih dekat dengan kegiatan Pramuka. Kalau ada rapat OSIS setelah bel pulang sekolah, saya sering mendapat tugas masuk ke kelas-kelas saat jam terakhir untuk memberi pengumuman.
Bagi orang lain, itu mungkin pekerjaan kecil.
Bagi saya, itu seperti naik panggung berkali-kali.
Saya harus mengetuk pintu kelas orang. Menunggu guru mengizinkan. Masuk. Berdiri di depan murid-murid yang sebagian saya kenal, sebagian tidak. Lalu berkata bahwa anggota OSIS jangan pulang dulu karena ada rapat.
Pada awalnya, kaki saya gemetar juga. Suara keluar terlalu cepat. Saya tidak berani mengangkat muka. Saya bicara seperti orang yang ingin segera selesai lalu hilang.
Setelah beberapa kali, tubuh mulai paham: berdiri di depan orang tidak semenakutkan itu.
Di Pramuka juga begitu. Setiap Jumat sore kami latihan. Pembina kami waktu itu Kaka Adolf, Kaka Adi, dan Kaka Muhtardi. Mereka semua kenal Kaka Ham, karena Kaka Ham anak Pramuka juga. Tahun 1992 ia mewakili Merauke ke Raimuna Nasional di Cibubur, Jakarta.
Saya sering dikenal sebagai adiknya Kaka Ham dulu.
“Ini Ilham pu adik to?”
Kalimat itu bisa menjadi pintu perkenalan, bisa juga menjadi celah untuk diolok-olok.
Saya tidak marah. Tapi saya tidak suka menjadi pusat perhatian. Setiap kali nama Kaka Ham disebut, rasanya seperti ada lampu diarahkan ke muka saya.
Apalagi kalau pembina mulai menyuruh anak-anak maju ke depan untuk menyanyi, menari, atau memimpin yel-yel. Saya paling takut bagian itu.
Kalau latihan semaphore, saya suka. Morse, saya suka. Sandi-sandi, saya suka. Hal-hal yang ada aturan, tanda, pola, dan bisa dipelajari diam-diam, saya suka. Tapi kalau disuruh berdiri di depan lalu bernyanyi atau menari, badan saya langsung terasa kaku.
Seperti ada yang salah pasang antara kepala dan kaki.
Dari OSIS dan Pramuka, sedikit demi sedikit saya belajar berdiri di depan orang. Bukan karena tiba-tiba berani. Karena ada tugas. Karena nama sudah disebut. Karena pintu kelas sudah diketuk. Karena rombongan Pramuka sudah menunggu.
Di luar sekolah, hari-hari saya juga mulai padat.
Setiap Senin dan Kamis sore, jam tiga sampai lima, saya belajar madrasah di Masjid Spadem. Setelah itu pulang sebentar, lalu jam enam sampai tujuh lanjut mengaji. Saya sudah belajar mengaji sejak SD, tapi baru saat SMP saya masuk Al-Qur’an besar.
Waktu itu di lingkungan kami belum ada metode Iqro. Kami belajar manual, memakai papan tulis, mengikuti guru, mengulang huruf dan bacaan pelan-pelan. Prosesnya lama. Dari SD sampai SMP baru cukup lancar untuk bisa masuk ke mushaf besar.
Masjid Spadem menjadi tempat kedua setelah rumah dan sekolah.
Di sana ada Pak Mukinun dan Pak Ali. Mereka mengajar kami madrasah dan mengaji. Kadang menjelang Magrib atau Isya, mereka menyuruh anak-anak adzan.
Itu kehormatan kecil yang besar sekali.
Kalau waktu sholat sudah dekat, kami langsung baku rebe. Ambil wudhu cepat-cepat. Lari ke dalam masjid. Siapa yang lebih dulu sampai ke mikrofon punya peluang lebih besar.
“Sa dulu! Sa dulu!”
“Seh, Ko sudah kemarin!”
“Pele, Pa Guru, saya saja e!”
Anak-anak yang biasanya disuruh diam, tiba-tiba berebut menjadi suara paling keras di kampung.
Kalau saya kebagian adzan, dada saya terasa membusung sedikit. Setelah pulang, saya biasanya bertanya kepada Bapa dan Mama, “Tadi dengar Ade adzan ka tidak?”
Saya ingin memastikan suara saya sampai ke rumah.
Bagi anak yang lebih sering diam, didengar dari jauh bukan hal kecil.
***
Lalu tibalah Ramadan.
Di SMP, kami mulai punya pesantren kilat. Satu minggu pertama bulan puasa, ruangan madrasah di Masjid Spadem dipakai untuk menginap. Anak laki-laki tidur di satu sisi, anak perempuan di sisi lain, bagian tengah tetap dipakai untuk belajar. Tikar digelar di lantai. Tas dan sarung ditaruh dekat tempat tidur masing-masing.
Malam hari, anak-anak berbisik, tertawa kecil, lalu dimarahi supaya tidur.
Setiap selesai Subuh dan sebelum Tarawih, ada kultum.
Kuliah tujuh menit.
Namanya terdengar ringan. Tujuh menit. Seperti sebentar saja. Tapi bagi kami, tujuh menit bisa menjadi beban seharian, tergantung jadwalnya.
Pak Ali biasanya menunjuk mendadak, paling cepat satu hari sebelumnya.
Semua anak berharap mendapat giliran setelah Subuh. Jamaah Subuh tidak terlalu banyak. Orang masih mengantuk. Kalau salah sedikit, mungkin tidak terlalu kelihatan. Kalau suara gemetar, mungkin tertutup udara pagi.
Yang paling kami takuti adalah giliran sebelum tarawih.
Masjid penuh.
Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, remaja. Semua duduk menunggu. Semua bisa melihat siapa yang berdiri di depan.
Dan saya mendapat giliran itu.
Sebelum tarawih.
Saya tidak ingat apakah saya protes atau hanya diam. Sepertinya saya diam. Anak seperti saya biasanya lebih sering diam ketika sebenarnya ingin sekali minta tukar.
Seharian saya memikirkan kultum itu.
Materi harus disiapkan. Kalimat pembuka harus diingat. Salam jangan lupa. Ayat atau hadits, kalau ada, jangan salah baca. Penutup jangan terlalu panjang. Jangan terlalu pendek juga. Tujuh menit harus cukup. Jangan sampai baru tiga menit sudah tidak tahu mau bicara apa lagi.
Sore itu, waktu seperti jalan terlalu cepat.
Buka puasa lewat. Magrib lewat. Makan sedikit. Lalu orang-orang mulai bersiap ke masjid. Biasanya saya senang pergi tarawih. Malam itu, jalan ke masjid terasa seperti jalan menuju ujian.
Begitu sampai, jamaah sudah mulai penuh.
Saya melihat Bapa, Mama, dan Kaka Ham.
Mereka duduk di antara orang-orang. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Saya hanya tahu mereka ada di situ, dan saya tidak mungkin lari.
Saya naik ke depan.
Mimbar itu tiba-tiba terasa tinggi.
Saya memberi salam.
Jamaah menjawab.
Lalu saya mulai.
Pada detik-detik pertama, suara saya seperti bukan suara saya sendiri. Terlalu resmi. Terlalu hati-hati. Saya membaca catatan. Saya mencoba mengingat kalimat yang sudah saya siapkan. Kaki tetap gemetar di balik mimbar.
Lalu, pelan-pelan, napas mulai teratur.
Kalimat kedua lebih mudah daripada kalimat pertama. Kalimat ketiga lebih mudah daripada kalimat kedua. Saya mulai agak lupa bahwa orang-orang sedang melihat. Kertas di tangan tidak lagi terlalu bergetar. Suara saya mulai keluar lebih utuh.
Saya tidak lagi hanya membaca.
Saya mulai bicara.
Tujuh menit itu akhirnya lewat.
Tidak ada tepuk tangan. Ini masjid, bukan panggung lomba. Tapi setelah salam penutup, tubuh saya terasa ringan sekali, seperti baru lepas dari sesuatu yang sejak siang menahan perut.
Saya turun dari mimbar dan kembali duduk di antara anak-anak pesantren kilat. Ada senggolan bahu, ada senyum yang menahan godaan. Saya tidak ingat jelas.
Yang saya ingat, kaki saya sudah berhenti gemetar.
Lalu tarawih dimulai. Saya berdiri dalam saf, kembali menjadi anak biasa. Bukan penceramah. Bukan orang yang dilihat. Hanya satu anak kecil di antara banyak orang yang rukuk dan sujud bersama.
Setelah itu, urusan lain menunggu: buku amaliah Ramadan.
Sekolah memberi kami buku khusus untuk mencatat kegiatan selama bulan puasa. Ada kolom puasa, sholat lima waktu, sholat berjamaah, tarawih, ringkasan ceramah, tanda tangan orang tua, dan tanda tangan penceramah.
Selama pesantren kilat, penceramahnya kami sendiri.
Jadi kami saling tanda tangan.
Anak yang baru selesai kultum menjadi orang penting sebentar. Teman-teman datang membawa buku.
“Tanda tangan di sini.”
“Ko tulis nama juga.”
“Cepat sudah, pake Sa pu bolpen ni.”
Saya tanda tangan di buku teman-teman.
Lalu saya membuka buku saya sendiri.
Di kolom penceramah malam itu, saya tanda tangan di atas nama saya sendiri.
Waktu itu tidak terasa aneh. Mungkin sedikit lucu. Selama pesantren kilat, kami memang bergantian menjadi penceramah, pendengar, dan pemburu tanda tangan.
Malam itu saya kembali ke ruang tidur madrasah dengan badan lelah. Tikar tergelar di lantai. Tas dan sarung berantakan di dekat tempat tidur masing-masing. Anak-anak masih berbisik dan tertawa kecil, mencari alasan untuk belum tidur.
Saya merebahkan badan.
Besoknya, saya tetap anak kelas 1E yang sama. Canggung kalau harus masuk ke kelas orang untuk memberi pengumuman OSIS. Kaku kalau pembina Pramuka menyuruh maju menyanyi atau menari. Lebih senang dengan semaphore, Morse, sandi, tulisan, dan hal-hal yang bisa saya siapkan diam-diam.
Tapi malam itu, saya sudah pernah berdiri di mimbar.
Saya sudah pernah memberi salam.
Jamaah menjawab.
Saya sudah pernah bicara sampai selesai.
Di ruang madrasah Spadem yang pelan-pelan menjadi sepi, saya memejamkan mata.
Kaki saya sudah diam.

Leave a Reply