Ada dua benda dari masa kecil yang sampai hari ini masih bisa membawa saya pulang ke satu sore di Merauke: celengan kaleng dan Minyak Tawon.
Dulu di Merauke, rumah kami seperti berdiri di pinggir kesunyian.
Kalau saya bilang kami cuma punya satu tetangga, maksud saya adalah tetangga yang benar-benar menempel di samping rumah. Di depan jalan dan di belakang tentu ada rumah-rumah lain. Tapi di sisi kiri, hanya rumah Om Abe yang berdampingan langsung dengan rumah kami, dipisahkan oleh gang kecil. Gang itu sebenarnya baru ada setelah Bapa dan Om Abe sama-sama merelakan sedikit tanah dari halaman masing-masing supaya orang bisa lewat ke belakang.
Di sisi kanan rumah kami masih tanah kosong milik AURI. Penuh semak dan pohon-pohon liar. Baru setelah melewati tanah kosong itu, ada rumah Komandan Lanud. Jadi kalau di rumah kami ada yang bilang, “orang sebelah”, semua orang langsung tahu: itu keluarga Om Abe.
Waktu itu saya masih kecil sekali. Baru empat tahun, baru masuk TK Nol Kecil. Tapi ada beberapa ingatan yang, entah kenapa, tinggal lebih lama dari yang lain.
Om Abe sebenarnya orang baik. Beliau bekerja sebagai PNS di Kantor Pajak. Kalau sedang marah, beliau sering mengucapkan kata, “brenset, seh!” Namun, ada satu kebiasaan yang pelan-pelan menggerogoti rumah tangganya: beliau suka minum. Awal bulan biasanya keadaan masih aman. Beras ada, gula ada, teh ada. Kebutuhan pokok yang diambil dari koperasi kantor masih cukup. Tapi belum juga bulan selesai, isi dapur mereka sering sudah menipis satu per satu.
Saya masih ingat sore-sore tertentu di rumah sebelah. Leni mengaduk teh manis di gelas enamel. Bunyi sendok kecil beradu dengan bibir gelas:
ting, ting, ting.
Ah, sa pu hati langsung rasa tra enak. Sa su tahu itu tanda apa.
Kalau sudah begitu, biasanya mereka makan nasi kosong disiram teh manis. Tidak ada lauk. Kadang-kadang beras pun tinggal sedikit sekali, harus dibagi untuk banyak orang. Sebagai anak kecil, saya tentu belum mengerti urusan orang dewasa. Saya belum paham bagaimana gaji bisa habis, bagaimana dapur bisa kosong, atau kenapa orang yang baik bisa tetap membuat keluarganya susah.
Yang saya tahu cuma satu: melihat teman-teman saya makan begitu, dada saya terasa sesak.
Pernah satu sore, saya datang main ke rumah sebelah. Leni bilang mereka belum makan siang. Beras di rumah sudah habis. Saya tidak banyak berpikir. Saya langsung pulang, ambil kantong plastik, masuk ke dapur, lalu mengisi plastik itu dengan beras dari rumah kami. Setelah itu saya bawa kembali ke Leni.
Malamnya Mama panggil saya.
Beliau tidak berteriak. Suaranya justru pelan, tapi berat.
“Ko kalau mau kasih orang, bilang saja. Mama tra larang. Tapi jangan ko ambil diam-diam begitu.”
Saya menunduk. Waktu itu saya bingung. Di kepala kecil saya, memberi beras kepada Leni terasa seperti perbuatan baik. Tapi dari Mama saya tahu, mengambil sesuatu diam-diam tetap salah, sekalipun niatnya menolong.
Saya kira pelajaran itu selesai di sana.
Ternyata belum.
Beberapa waktu kemudian, kejadian serupa datang lagi. Sore itu saya bermain ke rumah sebelah. Leni kembali sedang mengaduk teh manis di gelas enamel. Saya tidak perlu bertanya lagi. Saya tahu rumah itu sedang kekurangan makanan.
Umur empat tahun tentu belum tahu apa itu kemiskinan. Tapi anak kecil mungkin lebih cepat tahu kalau kawannya sedang susah.
Entah pikiran dari mana yang masuk ke kepala saya waktu itu. Tiba-tiba saja saya bilang:
“Len, ko makan bakso saja. Ko tunggu e.”
Saya pulang cepat-cepat ke rumah. Di dalam kamar ada celengan kaleng besar, ukurannya hampir seperti kaleng biskuit Regal. Celengan itu kami isi bersama-sama: saya, Kaka Lili, dan Kaka Ham. Isinya uang logam dua puluh lima, lima puluh, dan seratus rupiah.
Saya ambil sendok dari dapur, lalu mulai mencungkil lubang celengan itu.
Bukan gampang. Saya cungkil, saya goyang-goyang, saya kocok-kocok. Lama sekali. Tangan saya sampai lecet sedikit. Tapi akhirnya beberapa uang logam berhasil keluar satu per satu dan jatuh berdenting di lantai.
Saya hitung baik-baik.
Delapan ratus rupiah.
Waktu itu harga bakso seratus rupiah satu mangkok. Delapan ratus rupiah berarti cukup untuk delapan mangkok. Pas sekali.
Sore itu saya traktir keluarga Om Abe makan bakso. Tanta Abe, Kaka Neta, Kaka Onya, Kaka Eli, Manda, Leni, Lince—semua dapat satu mangkok. Saya juga ikut makan. Cuma Buang yang tidak, karena dia masih bayi.
Bakso itu dicampur dengan nasi supaya lebih kenyang. Kami makan diam-diam saja. Tidak ada yang banyak bicara. Masing-masing sibuk dengan mangkok dan sendoknya sendiri. Yang terdengar cuma bunyi sendok menyentuh mangkok, sesekali diselingi suara kuah diseruput pelan.
Saya selesai paling duluan. Dari kecil saya memang makan bakso cuma bakso dan kuah saja, tanpa mie kuning, tanpa bihun, tanpa daun sop, tanpa bawang goreng. Hari itu saya juga tidak pakai nasi.
Tanta Abe sempat mau menambahkan nasi ke mangkok saya.
“Ambil nasi sedikit lagi,” begitu kira-kira beliau bilang.
Saya cepat-cepat menolak.
“Ah, tra usah. Sa su makan nasi di rumah tadi siang.”
Iya lah. Masak saya mau ikut minta nasi juga, sementara mereka saja sedang kekurangan begitu.
Di kepala saya yang masih kecil, delapan ratus rupiah itu macam bisa kas kalah lapar satu rumah.
Sa rasa senang sekali. Sa pikir sa su bikin perbuatan paling bagus di dunia.
Malamnya Mama menemukan celengan itu.
Lubangnya sudah rusak karena saya cungkil pakai sendok. Dalam Mama pu pikiran, semua garis itu pasti sambung sendiri: malam sebelumnya saya minta uang untuk beli permainan Monopoli, lalu hari ini celengan kaleng rusak. Mama mengira saya mencuri uang itu untuk membeli mainan yang beliau belum izinkan.
Beliau panggil saya masuk ke kamar.
Mama pegang jari-jari saya satu per satu, lalu menekuknya ke belakang sampai menyentuh punggung tangan. Kiri dan kanan. Sakit sekali.
“Aduh mamayo!”
Saya menangis keras.
Mama tetap marah.
“Mama tra pernah ajar ko jadi pancuri. Itu paling tra baik sekali. Jang sampai ko biasa begitu sampe besar, jadi pancuri.”
Saya menangis lama. Di sela-sela tangis itu, Mama terus bertanya uangnya saya pakai untuk apa. Akhirnya saya mengaku.
“Sa beli bakso… sa makan sama-sama deng orang sebelah…”
Mama diam.
Tangannya pelan-pelan lepas dari jari saya. Tidak ada kata-kata lagi. Tidak ada lanjutan marah. Beliau hanya berdiri, lalu keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian Mama masuk kembali. Di tangannya ada sebotol Minyak Tawon.
Beliau duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan saya, lalu menggosok jari-jari yang merah itu pelan-pelan. Diurut satu per satu. Tidak bicara apa-apa. Saya juga diam. Kami tidak saling melihat.
Sa tra berani angkat muka untuk lihat Mama pu muka waktu itu.
Yang saya ingat hanya bau Minyak Tawon memenuhi kamar, bercampur dengan sisa tangis yang belum benar-benar reda. Jari-jari saya masih sakit, tapi tangan Mama yang mengurutnya terasa jauh lebih pelan dari biasanya.
Sampai sekarang, setiap kali mencium aroma Minyak Tawon, ingatan saya sering kembali ke malam itu. Ke celengan kaleng yang rusak. Ke delapan ratus rupiah dalam bentuk uang logam. Ke semangkuk bakso di rumah sebelah. Dan ke Mama, yang hari itu mengajari saya dua hal sekaligus: menolong orang itu baik, tetapi hati yang baik pun tetap harus belajar cara yang benar.
