Minyak Tawon dan Celengan Kaleng

Sampai sekarang, bau Minyak Tawon kadang datang bersama bunyi uang logam jatuh di lantai.

Dulu, di kamar rumah kami di Spadem, ada celengan kaleng besar. Hampir sebesar kaleng biskuit Regal. Saya, Kaka Lili, dan Kaka Ham mengisinya pelan-pelan dengan uang dua puluh lima, lima puluh, dan seratus rupiah. Uang-uang itu masuk lewat lubang kecil di atasnya, lalu hilang di dalam kaleng.

Rumah kami waktu itu berdiri agak sendiri di Spadem. Di kiri ada rumah Om Abe, dipisahkan gang kecil yang dibuat dari sedikit tanah halaman dua keluarga. Di kanan masih tanah kosong milik AURI: kasim-kasim, pohon liar, dan tanah lapang.

Kalau orang rumah bilang “sebelah”, semua orang tahu: itu keluarga Om Abe.

Om Abe orang baik. Ia bekerja di Kantor Pajak. Kalau marah, ia sering mengucapkan kata yang saya ingat sampai sekarang:

“Brenset, seh!”

Saya belum mengerti gaji dan koperasi kantor. Saya hanya tahu bunyi sendok itu.

Ting, ting, ting.

Bunyi kecil begitu saya hafal.

Ah, Sa pu hati langsung rasa tra enak.

Biasanya setelah bunyi itu, mereka makan nasi kosong disiram teh manis. Kalau beras tinggal sedikit, nasi itu dibagi untuk banyak orang. Mereka makan pelan-pelan, kepala agak menunduk. Tidak ada yang banyak bicara.

Suatu sore, saya datang main ke rumah sebelah. Leni bilang mereka belum makan siang. Beras sudah habis.

Saya pulang tanpa banyak pikir. Ambil kantong plastik. Masuk dapur. Mengisi plastik itu dengan beras dari rumah kami. Lalu membawanya kembali ke Leni.

Malamnya Mama memanggil saya.

Beliau tidak berteriak. Suaranya pelan.

Ko kalau mau kasih orang, bilang saja. Mama tra larang. Tapi jangan Ko ambil diam-diam begitu.”

Saya menunduk.

Tadi saya pikir saya sedang menolong Leni. Kantong plastik itu tetap saja saya isi diam-diam.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali mendengar bunyi sendok di gelas enamel dari rumah sebelah.

Ting, ting, ting.

Saya melihat Leni mengaduk teh manis. Saya sudah tahu tanda itu.

Entah pikiran dari mana yang masuk ke kepala saya sore itu. Tiba-tiba saya bilang:

“Len, Ko makan bakso saja. Ko tunggu e.”

Saya pulang cepat-cepat.

Di kamar, celengan kaleng itu masih di tempatnya. Saya mengambil sendok dari dapur, lalu mulai mencungkil lubangnya.

Saya cungkil dengan ujung sendok. Saya goyang-goyang. Saya kocok-kocok. Kaleng itu ribut di tangan saya.

Akhirnya beberapa uang logam jatuh satu per satu ke lantai.

Ting.

Ting.

Ting.

Saya pungut, lalu hitung baik-baik.

Delapan ratus rupiah.

Waktu itu harga bakso seratus rupiah semangkuk. Delapan ratus berarti delapan mangkuk. Pas.

Sore itu saya traktir keluarga Om Abe makan bakso. Tanta Abe, Kaka Neta, Kaka Onya, Kaka Eli, Manda, Leni, Lince, semua dapat satu mangkuk. Saya juga ikut makan. Cuma Buang yang tidak, karena dia masih bayi.

Bakso itu dicampur nasi supaya lebih kenyang. Kami makan di rumah sebelah. Tidak ada yang banyak bicara. Masing-masing sibuk dengan mangkuknya. Sendok menyentuh mangkuk. Kuah diseruput pelan.

Saya selesai duluan. Dari kecil saya makan bakso hanya bakso dan kuah. Tanpa mi kuning, tanpa bihun, tanpa daun sop, tanpa bawang goreng. Hari itu pun begitu. Tidak pakai nasi.

Tanta Abe hendak menambahkan nasi ke mangkuk saya.

Pake nasi sedikit ni

Saya cepat-cepat menolak.

“Ah, tra usah. Sa su makan nasi di rumah tadi siang.”

Waktu itu saya pikir delapan ratus rupiah cukup untuk bikin semua orang kenyang.

Malamnya Mama menemukan celengan kaleng itu.

Lubangnya sudah rusak. Bekas cungkilan sendok terlihat jelas. Semalam saya minta uang untuk membeli permainan Monopoli. Hari ini celengan rusak. Di mata Mama, ceritanya sudah jelas.

Beliau memanggil saya masuk kamar.

Mama memegang jari-jari saya satu per satu. Lalu menekuknya ke belakang sampai nyaris menyentuh pergelangan tangan. Kiri. Kanan.

“Aduh, Ma, sakit!”

Saya menangis keras.

Mama marah.

“Mama tra pernah ajar Ko jadi pancuri. Jang ajar biasa, nanti sampe besar Ko jadi pancuri.”

Saya menangis lama. Napas saya patah-patah. Mama terus bertanya uang itu saya pakai untuk apa.

Akhirnya saya mengaku.

Sa beli bakso …”

Mama diam.

Sa makan sama-sama deng orang sebelah…”

Tangannya berhenti.

Jari saya masih berada dalam genggaman beliau. Beberapa saat tidak ada suara. Mama tidak melanjutkan marahnya. Beliau melepas tangan saya pelan-pelan, lalu keluar dari kamar.

Saya tetap duduk di tempat tidur, menangis kecil-kecil, tidak berani bergerak.

Tidak lama kemudian Mama masuk kembali.

Di tangannya ada sebotol Minyak Tawon.

Beliau duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan saya, lalu menggosok jari-jari saya yang merah. Satu per satu. Pelan-pelan. Tidak bicara apa-apa.

Saya juga diam.

Sa tra berani angkat muka lihat Mama waktu itu.

Yang saya ingat hanya bau Minyak Tawon memenuhi kamar. Pedas, hangat, melekat di hidung. Jari-jari saya masih sakit, tapi tangan Mama mengurutnya jauh lebih pelan dari biasanya.

Di lantai, celengan kaleng itu tetap rusak.

Malam itu, Mama tidak mengatakan apa-apa lagi.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(