Selasa malam, tiga pejabat dicopot sekaligus. Penggantinya datang dari dunia keuangan dan militer. Tidak ada satu pun dari mereka yang memahami ilmu gizi, tetapi barangkali aspek substansi memang bukan hal utama yang sedang dicari saat ini.
Pagi hari sebelum pencopotan terjadi, Dadan Hindayana sebenarnya masih mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau dapur MBG di Palmerah hingga berkunjung ke SMPN 111 Jakarta. Mereka melihat kotak-kotak makanan yang sudah disiapkan, entah untuk mendiskusikan masalah menu, jalur distribusi, atau sekadar melakukan rutinitas peninjauan formal biasa.
Malamnya, Dadan didepak dari jabatannya.
Pencopotan itu juga menyasar dua wakil kepala BGN sekaligus, yakni Brigjen Polisi Sony Sonjaya dan Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung. Tiga pucuk pimpinan dibersihkan dalam satu malam. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkannya di Istana dengan formula kalimat diplomatis standar birokrasi: “disertai ucapan terima kasih atas kerja keras dan dedikasi.” Kalimat hangat yang dalam realitas politik kerap menjadi penanda bahwa pintu komunikasi telah ditutup rapat dari luar.
Alasan resmi yang dilempar ke publik berlindung di balik frasa masalah kedisiplinan dan akumulasi catatan evaluasi selama satu setengah tahun terakhir. Namun, Istana tidak pernah menjelaskan secara spesifik catatan pelanggaran apa yang dimaksud atau bentuk indisipliner seperti apa yang telah dilakukan. Pengumuman resmi di negara ini kerap datang dengan alasan yang terdengar cukup serius untuk diucapkan, tetapi tidak cukup detail untuk dipertanyakan.
Publik kemudian mendapati bahwa tongkat estafet kepemimpinan kini berpindah ke tangan Nanik S. Deyang, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN. Ia akan didampingi dua wakil kepala baru: Agustina Arumsari dari BPKP selaku perwakilan lembaga pengawasan keuangan negara, serta Mayjen TNI Trenggono, perwira militer aktif Angkatan Darat yang sebelumnya mengurus PT Agrinas Pangan Nusantara.
Satu komposisi pimpinan yang ironis bagi sebuah lembaga bernama Badan Gizi Nasional, di mana tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki rekam jejak akademis maupun praktis di bidang ilmu gizi.
Keputusan ini tentu memiliki pembelaan rasionalnya sendiri di mata pemerintah. Para pendukung kebijakan ini akan berargumen bahwa BGN bukan sekadar soal ilmu gizi murni, melainkan tata kelola manajemen, jalur logistik, dan pengawasan ketat aliran anggaran. Bukankah perwira TNI terlatih dengan kedisiplinan komando, dan orang-orang BPKP cakap dalam urusan audit keuangan? Logika ini sekilas masuk akal, sama masuk akalnya dengan menunjuk seorang bendahara jujur untuk memimpin rumah sakit dengan prinsip utama agar uang operasional tidak bocor, tanpa peduli apakah pasien di dalam kamar benar-benar sembuh atau tidak.
Beban masalah yang diwariskan kepada pimpinan baru ini sesungguhnya teramat masif. Sejak program Makan Bergizi Gratis resmi berjalan pada 6 Januari 2025 hingga akhir Mei 2026, dari total 27.208 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia, sebanyak 8.182 di antaranya sempat dijatuhi sanksi pembekuan (suspend). Hampir sepertiga dari total ekosistem dapur nasional terbukti bermasalah.
Persoalan di lapangan bukan lagi sekadar perkara keterlambatan laporan administrasi atau kesalahan pengisian formulir. Di berbagai daerah, kualitas menu makanan kedapatan memicu kasus muntah-muntah, diare, hingga gangguan pencernaan pada anak-anak sekolah. Kasus ini diperparah oleh dugaan penggelembungan (mark-up) harga bahan baku, ketiadaan fasilitas pengolahan limbah dapur yang layak, hingga konflik horizontal antara mitra lapangan dengan yayasan pengelola. Sepanjang tahun 2026 saja, volume pengaduan masyarakat yang masuk ke kanal resmi SAGI 127 telah menyentuh angka 3.615 aduan.Ini adalah masalah krusial mengenai isi piring yang bersentuhan langsung dengan perut anak-anak.
Masuknya figur dari BPKP memberikan sinyal politik yang benderang. Kekhawatiran terbesar pemerintah saat ini tampaknya bukan lagi pada perkara apakah anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup, melainkan apakah serapan anggarannya aman dari temuan hukum. Janji kampanye yang telah menjelma menjadi program nasional memiliki logikanya sendiri; ia harus selalu terlihat berhasil secara statistik. Angka distribusi harus merangkak naik, laporan administratif wajib rapi, dan dokumentasi visual di lapangan harus tampak sempurna. Sementara perkara apakah kandungan makanan itu benar-benar bergizi atau tidak adalah pertanyaan yang jauh lebih rumit untuk diverifikasi dan tidak bisa selesai hanya dengan selembar foto promosi.
Dadan Hindayana sendiri merupakan seorang ahli serangga dari IPB. Meski bukan ahli gizi murni, ia setidaknya adalah seorang ilmuwan yang terbiasa dengan metode berpikir berbasis bukti ilmiah. Ia dilantik sejak masa akhir pemerintahan Jokowi pada Agustus 2024 dan sempat bertahan di era Prabowo, sebelum akhirnya tersingkir pada Selasa malam itu.
Kini, pimpinan BGN dikuasai oleh kombinasi birokrat keuangan dan perwira militer aktif. Kompetensi yang mereka bawa adalah kompetensi kontrol dan kepatuhan komando, bukan kompetensi substansi keilmuan. Ada batas tegas antara memastikan uang negara tidak bocor dengan memastikan makanan yang disajikan benar-benar sehat. Kedua aspek ini memang penting, tetapi ketika instansi dipaksa memilih salah satu, arah kebijakan lembaga ini sudah terlihat jelas. Ilmu gizi adalah bidang yang terus dinamis, membutuhkan ruang untuk evaluasi, eksperimen terbuka, dan keberanian mengakui kegagalan teori di lapangan. Karakter komando militer yang terbiasa dengan kepatuhan vertikal yang kaku tidak akan pernah nyaman dengan cara kerja berbasis kritik ilmiah semacam itu.
Pihak yang paling tidak memahami seluruh intrik politik di tingkat atas ini adalah mereka yang justru memiliki kepentingan paling besar: anak-anak sekolah yang setiap hari membuka kotak makan siang mereka di ruang kelas. Mereka tidak mengenal apa itu BPKP, PT Agrinas Pangan Nusantara, atau siapa pejabat yang baru saja dicopot.
Bagi mereka, realitas program ini hanya tersisa pada beberapa pertanyaan sederhana: apakah makanan hari ini enak, apakah perut mereka bisa kenyang, dan apakah esok hari kotak makanan itu masih akan datang kembali ke meja mereka.

1 Pingback