Sony Sonjaya tidak lagi ingin menjadi pesakitan sendirian di dalam sel. Dari balik jeruji besi, mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional itu mulai membuka suara, mengubah kasus dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi medan saling sikut di tingkat elit pejabat negara.

Kuasa hukumnya, Elza Syarief, membeberkan isi rekaman percakapan yang tersimpan di dalam ponsel milik Sony. Di dalam folder obrolan digital tersebut, terdaftar lebih dari dua puluh enam nama yang berasal dari kalangan eksekutif, legislatif, hingga perwakilan organisasi yang ditengarai ikut mengintervensi jalannya program nasional ini. Baris-baris pesan singkat itu bukan sekadar obrolan ringan, melainkan rekam jejak mengenai bagaimana jatah pengelolaan dapur satuan pelayanan (SPPG) diperebutkan, serta bagaimana kekuasaan dan aliran dana saling bertukar tangan. Ponsel itu kini telah disita oleh tim penyidik Kejaksaan Agung, menjadi saksi bisu yang menyimpan lapisan rahasia tersebut.

Elza mendesak agar seluruh berita acara pemeriksaan (BAP) memuat setiap keterangan penting tanpa ada yang ditutupi, karena ia tahu betul bahwa tanpa penegasan hukum, suara kliennya rawan ditenggelamkan di tengah jalan. Dalam wawancara media, ia menegaskan keberadaan bukti digital tersebut:

“Ada chatting di situ, ada di handphone-nya.”

Sebuah pernyataan pendek yang kini berganti menjadi bom waktu bagi banyak pihak yang terlibat.

Sorotan publik terhadap jalannya persidangan kian menajam setelah Mahfud MD ikut memberikan komentar. Mantan Menkopolhukam itu menyatakan bahwa skandal korupsi di tubuh Badan Gizi Nasional ini jauh lebih masif dan gelap daripada apa yang sejauh ini berhasil diendus oleh media. Menurutnya, fakta-fakta yang baru dibuka oleh tim penyidik Kejaksaan Agung baru sebatas permukaan, dan ia meyakini proses persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi kelak akan membongkar lapisan birokrasi yang jauh lebih busuk.

Di tengah pusaran perkara ini, pusaran nama-nama besar seperti Dadan Hindayana dan Lodewyk Pusung ikut terseret bersama Sony. Mereka diduga bersekongkol melakukan penggelembungan harga (mark-up) dalam proyek pengadaan logistik penunjang, mulai dari motor listrik, sepatu, perangkat tablet, hingga televisi. Ketika anggaran triliunan rupiah menguap di antara laporan administrasi, masyarakat hanya dipaksa menerima janji-janji kosong dari realisasi pemenuhan pangan anak-anak di lapangan.

Fenomena ini akhirnya menyingkap wajah asli birokrasi: sebuah lembaga yang awalnya lahir dengan niat mulia untuk memberi makan anak-bangsa, dalam realisasinya justru berakhir menjadi ladang rebutan jatah kekuasaan. Isi pesan singkat di dalam ponsel Sony menjadi cermin yang telanjang mengenai seberapa rakus tangan-tangan pejabat yang sehari-hari mengklaim diri sedang melayani masyarakat.

Sejarah pada akhirnya tidak hanya akan mencatat siapa saja yang ikut mencuri uang negara, melainkan juga siapa yang memilih untuk berani berbicara di akhir hari. Sony Sonjaya tentu bukan seorang pahlawan, namun ia mengambil langkah taktis yang jarang ditempuh oleh seorang tersangka: membongkar isi lemari rahasia dan menyeret nama-nama besar yang selama ini berlindung dengan aman di balik status jabatan mereka. Publik yang sudah lama jemu dengan retorika keberhasilan program kini tinggal duduk menunggu, apakah ketukan palu pengadilan benar-benar memiliki nyali untuk menyingkap seluruh isi kotak pandora tersebut.