Ada orang-orang yang tidak lama tinggal dalam hidup kita, tetapi entah bagaimana, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Ingatan saya tentang Yana bermula dari TK Al Hikmah Spadem. Saya tidak tahu persis umur kami waktu itu. Barangkali empat atau lima tahun…. Continue Reading →
Waktu kecil, ada hal-hal yang saya percaya bukan karena benar, tapi karena Bapa yang mengatakannya. Bulan puasa selalu punya tiga suara yang paling saya ingat: suara orang bangun sahur, suara sendok di meja makan sebelum subuh, dan suara sandal orang… Continue Reading →
Rumah kami dulu hanya sekitar satu setengah kilometer dari bandara. Cukup dekat untuk membuat pesawat-pesawat yang lewat terasa seperti bagian dari hidup sehari-hari. Waktu itu Merauke masih sepi. Langit terasa lebih lapang. Pohon-pohon masih banyak. Kendaraan belum seramai sekarang. Kalau… Continue Reading →
Ada satu kalimat Mama yang, waktu diucapkan, mungkin beliau sendiri tra sangka akan tinggal lama sekali di kepala saya: “Makanya ko belajar baca.” Kalimat itu muncul gara-gara film kungfu. Waktu saya masih kecil, rumah kami sudah punya video player Betamax,… Continue Reading →
Celengan kaleng dan Minyak Tawon adalah dua benda dari masa kecil yang sampai hari ini masih bisa membawa saya pulang ke satu sore di Merauke. Dulu di Merauke, rumah kami seperti berdiri di pinggir kesunyian. Kalau saya bilang kami cuma… Continue Reading →
Kaget? Makanya, buka mata buka telinga.
Ndak usah beli kembang api… biar orang lain yang keluar duit, orang lain yang bakar, orang lain yang tanggung resiko kecelakaan… kita cukup ikut menikmati warna-warninya di angkasa
© 2026 Antarnisti — Powered by WordPress
Theme by Anders Noren — Up ↑