Langkahku tertahan di atas bentang kelabu yang lembap,
Tempat rindu kerap kehilangan arah pulang.
Selasar sepi melumat sisa jejak yang sempat kita pahat,
Di bawah langit yang memilih bungkam.
Engkau serupa mercusuar,
Membelah pekat dengan pendar yang lelah.
Menuntunku tanpa jeda,
Menuju dermaga tempat waktu mengkristal jadi fana.
Segala rapalan luruh menjadi senyap di udara dingin,
Kita adalah dua poros yang berpapasan sebentar,
Terpasung kepastian di dalam ruang jeda yang asing,
Tanpa pernah benar-benar menyentuh muara.
Gema suaramu menetap di dinding ingatan,
Menjadi jangkar bagi jiwa yang karam sendiri.
Aku menyemai kenangan pada hamparan yang beku,
Menanti detak yang tak kunjung berani tumbuh.