Harta Karun dari Pesawat

Rumah kami di Spadem hanya sekitar satu setengah kilometer dari Bandara Mopah.

Kalau pesawat lewat rendah, suaranya datang lebih dulu. Kaca nako bergetar sedikit. Seng atap seperti ikut menahan napas. Anak-anak yang sedang main di halaman biasanya berhenti sebentar, lalu mendongak.

Kadang Garuda, kadang Merpati, kadang Pelita. Kadang pesawat AURI.

Hercules paling gampang dikenali. Bunyinya berat. Tidak seperti pesawat penumpang biasa. Kalau ia lewat rendah, dada ikut bergetar. Suaranya seperti menekan atap rumah.

Di samping rumah kami ada tanah kosong milik AURI. Belum dibangun apa-apa. Isinya kasim-kasim, pohon liar, rumput tinggi, dan tanah yang kalau hujan berubah lembek. Di beberapa bagian ada bekas roda mobil. Di bagian lain, anak-anak bisa bersembunyi tanpa kelihatan dari jalan.

Suatu hari kami tahu bahwa sampah makanan dari pesawat kadang dibuang di sana.

Tidak ada yang memberi pengumuman. Tidak ada yang menjelaskan. Tiba-tiba saja kabar itu beredar di antara anak-anak.

Kalau ada kantong baru di tanah AURI, kami langsung tahu.

“Harta karun su turun!”

Saya, Manda, Leni, dan Arman biasanya paling dulu bergerak. Kadang anak lain ikut datang belakangan. Tapi empat nama itu yang paling sering ada. Kami berlari ke tanah kosong, melewati rumput dan kasim-kasim, lalu mencari tumpukan kantong plastik atau kardus yang baru dibuang.

Kantong-kantong itu tidak selalu enak dibuka. Isinya sisa nasi dan lauk yang sudah tercampur. Plastiknya basah, memancarkan bau makanan yang sudah tidak segar. Kadang lalat sudah lebih dulu sampai.

Tapi kami tidak mencari sisa nasi.

Kami mencari yang masih utuh.

Sendok plastik. Garpu plastik. Gelas plastik. Sachet gula. Sachet kopi. Krimer. Mentega kecil. Selai kecil. Roti yang bungkusnya belum terbuka. Kadang ada tiket, sobekan boarding pass, atau kertas-kertas kecil dari dalam pesawat yang kami tidak tahu gunanya.

Kertas begitu bisa kami simpan lama.

Ada tulisan. Ada angka. Ada logo. Ada nama kota yang jauh.

Benda itu baru turun dari pesawat. Bagi kami, itu sudah cukup.

Yang paling saya suka tisu wanginya.

Tisu itu lain dari tisu di rumah. Bungkusnya kecil. Licin. Kalau dibuka, baunya langsung keluar. Wangi segar, agak tajam, dan terasa mahal. Saya biasa menyimpannya lama-lama. Kadang tidak langsung dipakai. Cuma dibuka sedikit, dicium, lalu disimpan lagi.

Dari semua barang pesawat, tisu wangi paling terasa bukan barang Spadem.

Kami biasanya membongkar dengan cepat. Satu kantong dibuka, isinya disebar sedikit, lalu tangan mulai memilih.

“Ini Sa punya!”

Seh, itu Sa yang liat duluan.”

“Kasih Sa tisu wangi tu, Ko ambil gula ni.”

Kalau ada roti atau biskuit yang bungkusnya masih bagus, suasana langsung ribut. Di rumah ada nasi, ada lauk, ada teh. Tapi ini makanan dari pesawat. Itu saja sudah membuatnya berbeda.

Kadang kami pulang membawa hasil dalam plastik kecil. Kadang kami duduk di dekat tanah kosong dan membagi-bagi di sana. Sendok plastik bisa masuk rumah dan dipakai main masak-masakan. Gelas plastik bisa jadi tempat air. Gula dan kopi sachet kadang cuma disimpan sampai lupa. Tiket atau kertas pesawat saya lihat berkali-kali, meskipun tidak mengerti isinya.

Kami tidak merasa sedang membongkar sampah.

Waktu itu, yang kami lihat adalah bungkus kecil yang belum robek, tisu yang masih wangi, roti yang masih tertutup, dan benda-benda yang tidak ada di kios dekat rumah.

Begitu terus selama beberapa waktu.

Pesawat tetap lewat di atas rumah. Kalau ada buangan baru di tanah AURI, anak-anak bergerak lagi. Tidak selalu dapat barang bagus. Kadang kantongnya sudah terlalu kotor. Kadang cuma plastik dan sisa makanan. Kadang kami terlambat, dan anak lain sudah lebih dulu membongkar.

Arman biasanya cepat kalau melihat barang bagus. Leni lebih teliti. Manda sering ribut soal siapa yang lebih dulu melihat. Saya biasanya mencari tisu wangi dan kertas-kertas dari pesawat.

Lama-lama, kegiatan itu berhenti.

Saya tidak ingat hari terakhirnya. Tidak ada perpisahan. Tidak ada yang bilang mulai besok kami tidak boleh ke sana lagi.

Kami hanya makin besar.

Rasa malu mulai muncul. Kalau masih kecil, bongkar kantong di tanah kosong terasa biasa saja. Setelah tambah umur, tangan mulai ragu.

Ado, kalau orang lihat, macam apa e?

Mama juga mulai melarang lebih keras. Waktu itu orang-orang mulai bicara tentang penyakit yang menular lewat darah, tentang barang bekas, tentang jarum, tentang luka, tentang AIDS. Kata itu terdengar asing, tapi menakutkan. Sejak itu, tanah AURI mulai terasa seperti tempat terlarang.

Bagi Mama, sampah dari pesawat bukan tempat untuk anak-anak bermain.

Setelah itu, tanah kosong AURI kembali menjadi tanah kosong biasa. Rumput tumbuh lagi. Kasim-kasim tetap ada. Pesawat tetap lewat di atas rumah, tapi kami tidak lagi berlari setiap melihat ada kantong baru.

Kadang, kalau mencium tisu wangi tertentu, saya masih ingat tanah itu.

Kantong plastik yang basah. Sisa nasi. Lalat. Sendok kecil. Gula sachet. Roti yang bungkusnya belum terbuka. Leni dan Manda yang jongkok membongkar. Arman yang tiba-tiba sudah memegang barang bagus.

Dan saya, anak kecil dari Spadem, menyimpan tisu wangi dari pesawat seolah-olah itu memang benda berharga.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(