Ada orang-orang yang tidak lama tinggal dalam hidup kita, tetapi entah bagaimana, mereka tidak pernah benar-benar pergi.
Ingatan saya tentang Yana bermula dari TK Al Hikmah Spadem.
Saya tidak tahu persis umur kami waktu itu. Barangkali empat atau lima tahun. Umur ketika anak-anak belum bisa membedakan mana yang akan terus tinggal dalam ingatan, mana yang suatu hari hilang begitu saja. Kami hanya datang ke sekolah, duduk, bernyanyi, menggambar, bermain plastisin, menghapal doa-doa pendek, lalu pulang sebelum siang.
Setiap pagi Bapa mengantar saya ke TK. Di perjalanan, kami biasanya singgah sebentar di kios Ibu Paino. Kios itu menjual macam-macam kue pagi: gogos, lemper, arem-arem, kue lapis, nagasari, onde-onde, klepon, ongol-ongol, lemet, koci-koci, roti goreng, roti bakar, roti pao isi kacang, isi unti, isi kacang hijau, macam-macam.
Harga satu kue dua puluh lima rupiah.
Biasanya saya boleh memilih tiga.
Saya masih ingat bekal saya waktu itu: tempat makan kecil warna merah muda, agak kasar permukaannya seperti kulit jeruk. Di satu sisinya ada tempat untuk botol atau termos kecil berisi teh manis hangat. Di sisi lain tempat kue. Teh itu cepat sekali meninggalkan noda coklat di mulut botolnya. Entah kenapa, noda itu juga ikut tinggal dalam ingatan saya.
Dari banyak kue di kios Ibu Paino, ada satu yang lama-lama seperti menjadi wajib saya bawa: koci-koci.
Di tempat lain mungkin orang menyebutnya kue bugis. Tepung ketan, isi unti kelapa muda yang dimasak dengan gula merah, dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Tapi di Merauke, kami menyebutnya koci-koci.
Awalnya saya membelinya untuk saya sendiri. Saya suka rasa legitnya, suka bau daun pisangnya, suka bagian dalamnya yang manis dan lembut. Tapi suatu hari, saya sakit perut. Saya tidak terlalu ingin makan. Mungkin saya takut kalau koci-koci itu dibawa pulang, isinya nanti basi atau kena marah Mama karena tidak dimakan.
Saya lalu menawarkan kue itu ke teman-teman.
Yana datang.
“Saya saja!”
Begitu saja. Singkat. Tidak banyak bicara.
Saya kasih.
Sejak hari itu, entah bagaimana, koci-koci seperti menjadi kue untuk Yana. Kalau saya membeli koci-koci, dalam hati saya sudah tahu, nanti sebagian atau semuanya akan jatuh ke tangannya. Tidak ada perjanjian apa-apa. Tidak ada upacara kecil. Anak-anak memang sering membuat kebiasaan tanpa menyadari bahwa itu kebiasaan.
Saya juga tidak bisa bilang Yana adalah teman paling dekat saya. Teman dekat saya waktu kecil adalah Oji, Leni, Manda, Arman. Mereka yang main di rumah, yang datang pergi, yang ikut menghabiskan sore di halaman Om Abe. Yana berbeda. Saya lebih banyak bertemu dengannya di sekolah. Tetapi entah kenapa, wajahnya tinggal.
Yana itu anak yang manis. Baik. Pendiam. Tidak suka cari perhatian. Tidak ribut. Tidak cakadidi. Justru karena itu mungkin dia mudah diingat. Ada anak-anak yang hadir dengan suara keras, dengan tawa besar, dengan tingkah yang membuat orang menoleh. Ada juga anak-anak yang hadir pelan-pelan, tapi entah bagaimana, tetap meninggalkan cahaya kecil di tempat mereka pernah berdiri.
Yana termasuk yang kedua.
Waktu kami masuk SD Negeri Cenderawasih Spadem, saya dan Yana tidak sekelas. Saya masuk kelas 1A. Yana di 1B, bersama Oji, Leni, dan Manda. Saya sempat merasa seperti terlempar ke tempat yang asing. Di luar kelas kami masih bertemu, tetapi di dalam kelas saya harus belajar duduk dengan anak-anak lain, dengan dunia kecil yang baru.
Saya tahu Oji suka Yana. Anak-anak biasa menggoda.
“Oji Yana… Oji Yana…”
Godaan seperti itu waktu kecil terasa besar sekali, padahal mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi begitulah cara anak-anak mengenal rasa suka sebelum mereka tahu apa nama perasaan itu.
Ingatan tentang Yana tersebar dalam potongan-potongan kecil. Dia berdiri dekat pintu kelas. Dia berjalan pulang lebih dulu, lalu nanti belok menuju rumahnya. Dia ikut karnaval 17 Agustus dengan pakaian pramugari. Dia ada di halaman sekolah, di antara anak-anak lain, tetapi tetap tampak seperti dirinya sendiri: tenang, tidak banyak gaya, tidak mencari panggung.
Lalu suatu pagi, waktu saya kelas empat SD, kepala sekolah masuk ke kelas.
Saya tidak ingat semua kalimatnya. Yang saya ingat hanya kabarnya: Yana meninggal.
Kemarin dia masih sekolah.
Hari itu, dia sudah tidak ada.
Anak kecil tidak punya cukup tempat di kepala untuk menampung kabar seperti itu. Meninggal adalah kata yang kami tahu, tetapi belum sungguh-sungguh kami pahami. Orang tua bisa meninggal. Orang jauh bisa meninggal. Orang yang hanya terdengar namanya bisa meninggal. Tapi teman sekolah? Anak yang kemarin masih ada? Anak yang pernah saya beri koci-koci?
Rasanya seperti mimpi.
Hari itu pelajaran berhenti. Kami membuat karangan bunga. Lalu kami berjalan bersama-sama ke rumah Yana. Setelah itu ikut mengantar sampai ke Kuburan Muli.
Saya ingat siang itu habis salat Duhur. Matahari terang. Panas Merauke seperti biasa, jatuh lurus di atas kepala. Tetapi ketika kami berada di kuburan, tiba-tiba hujan gerimis turun.
Hujan kecil saja.
Yang aneh, matahari tetap terang.
Di Merauke, hujan panas seperti itu disebut hujan orang mati. Orang-orang bilang, itu hujan yang turun ketika ada orang meninggal.
Saya tidak tahu apakah waktu itu saya percaya atau tidak. Mungkin saya hanya diam. Mungkin saya hanya melihat tanah, orang-orang dewasa, anak-anak sekolah, karangan bunga, dan hujan yang jatuh pelan-pelan di bawah cahaya matahari.
Tetapi sejak hari itu, setiap kali melihat hujan turun sementara matahari masih menyala, ingatan saya selalu bergerak ke satu tempat: Kuburan Muli, siang hari, dan Yana.
Waktu itu keluarga bilang Yana sakit kanker darah. Bertahun-tahun kemudian saya baru paham, mungkin yang dimaksud adalah leukemia. Tapi ketika masih anak-anak, kata itu terlalu besar. Terlalu jauh. Yang saya tahu hanya satu: seseorang bisa hilang begitu saja dari dunia kita, bahkan ketika kemarin dia masih ada.
Itu mungkin pertama kalinya saya benar-benar merasa bahwa kehilangan tidak selalu datang pelan-pelan. Kadang ia datang pagi-pagi lewat pengumuman kepala sekolah.
Bertahun-tahun berlalu.
Kami tumbuh. Sekolah berganti. Teman-teman berpencar. Rumah-rumah berubah. Jalan-jalan berubah. Merauke juga berubah. Banyak hal yang dulu terasa besar menjadi kecil. Banyak tempat yang dulu terasa jauh menjadi dekat. Tetapi beberapa ingatan justru bergerak sebaliknya: makin jauh waktunya, makin jelas rasanya.
Suatu hari, puluhan tahun setelah Yana meninggal, saya datang lagi ke Kuburan Muli untuk menghadiri pemakaman seorang tetangga. Setelah acara selesai, entah kenapa saya ingin mencari makam Yana.
Saya berjalan di antara nisan-nisan. Melihat nama satu per satu. Mencoba mengingat kira-kira di bagian mana dulu kami berdiri. Tapi kuburan itu sudah jauh lebih padat. Banyak makam baru. Banyak yang berubah. Mungkin makam lama sudah tertindih, mungkin nisannya sudah hilang, mungkin saya memang tidak tahu harus mencari ke mana.
Saya tidak menemukan makam Yana.
Tetapi justru di situ, ingatan tentang dia datang satu-satu.
Yana di TK. Yana dan koci-koci. Yana yang berkata, “Saya saja!” Yana yang berdiri di dekat pintu kelas. Yana yang berjalan pulang di depan kami. Yana dengan pakaian pramugari waktu karnaval. Yana di antara anak-anak SD Spadem. Yana yang kemarin masih sekolah, lalu pagi berikutnya disebut telah pergi.
Saya berdiri di Kuburan Muli dengan perasaan yang sulit saya jelaskan. Saya datang mencari sebuah makam, tetapi yang saya temukan justru hal lain: ingatan yang selama bertahun-tahun rupanya tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin begitulah cara beberapa orang tinggal dalam hidup kita. Bukan lewat percakapan panjang. Bukan lewat persahabatan yang terus-menerus. Bukan lewat foto yang tersimpan rapi.
Kadang seseorang tinggal hanya lewat satu kue kecil yang pernah kita berikan. Lewat suara pendek, “Saya saja!” Lewat hujan panas di kuburan. Lewat rasa kaget seorang anak kelas empat yang untuk pertama kalinya memahami bahwa teman sebaya pun bisa pergi.
Saya tidak pernah menemukan makam Yana hari itu.
Tetapi saya pulang dengan Yana yang lebih jelas daripada sebelumnya.
Dan sejak itu, setiap kali ingatan saya kembali ke TK Al Hikmah Spadem, ke kios Ibu Paino, ke bekal merah muda, ke koci-koci dalam bungkusan daun pisang, saya selalu merasa ada seorang anak perempuan kecil yang datang pelan-pelan dari masa lalu.
Tidak baribut.
Tidak cakadidi.
Hanya berdiri sebentar dalam ingatan, lalu berkata seperti dulu:
“Saya saja!”

Leave a Reply