Koci-Koci untuk Yana

Setiap pagi sebelum ke TK Al Hikmah Spadem, Bapa singgah sebentar di kios Ibu Paino.

Kios itu menjual kue pagi. Gogos, lemper, arem-arem, kue lapis, nagasari, onde-onde, klepon, ongol-ongol, lemet, koci-koci, roti goreng, roti bakar, roti pao isi kacang, isi unti, isi kacang hijau.

Satu kue dua puluh lima rupiah.

Biasanya saya boleh memilih tiga.

Saya membawa bekal dalam tempat makan kecil warna merah muda. Permukaannya agak kasar seperti kulit jeruk. Di satu sisi ada tempat untuk botol kecil berisi teh manis hangat. Di sisi lain tempat kue. Teh itu cepat meninggalkan noda coklat di mulut botolnya. Noda itu lama sekali tinggal di sana.

Dari semua kue di kios Ibu Paino, koci-koci paling sering saya pilih.

Di tempat lain orang menyebutnya kue bugis. Tepung ketan, isi unti kelapa muda yang dimasak dengan gula merah, dibungkus daun pisang, lalu dikukus. Di Merauke, kami menyebutnya koci-koci.

Saya suka baunya ketika daun pisangnya dibuka. Saya suka bagian ketannya yang lengket di jari. Saya suka isinya yang manis dan lembut.

Awalnya koci-koci itu untuk saya sendiri.

Suatu hari, perut saya sakit. Saya tidak terlalu ingin makan. Koci-koci itu masih ada di tempat bekal. Kalau dibawa pulang, saya takut Mama bertanya kenapa tidak dimakan, atau kuenya justru telanjur basi.

Saya menawarkannya ke teman-teman.

Yana datang.

“Saya saja!”

Singkat begitu.

Saya kasih.

Hari-hari berikutnya, kalau saya membawa koci-koci, Yana sering mendapat bagian. Tidak ada janji. Tidak ada pembicaraan. Satu anak membawa kue, anak lain datang, lalu kebiasaan itu terulang.

Yana bukan teman main saya yang paling dekat. Teman dekat saya waktu kecil adalah Oji, Leni, Manda, dan Arman. Mereka yang sering datang ke rumah, main di halaman, atau menghabiskan sore di rumah Om Abe.

Yana lebih banyak saya temui di sekolah.

Tapi wajahnya tinggal.

Yana pendiam. Tidak baribut. Tidak cakadidi. Di halaman sekolah, ia lebih sering berdiri tenang, menunggu, atau mengikuti permainan tanpa membuat dirinya jadi pusat perhatian.

Waktu kami masuk SD Negeri Cenderawasih Spadem, saya dan Yana tidak sekelas. Saya masuk 1A. Yana masuk 1B, bersama Oji, Leni, dan Manda.

Di luar kelas kami masih bertemu. Di dalam kelas, saya harus duduk dengan anak-anak lain yang belum terlalu saya kenal.

Saya tahu Oji suka Yana.

Anak-anak biasa menggoda.

“Oji Yana… Oji Yana…”

Godaan seperti itu waktu kecil cepat sekali bikin malu. Oji hanya suka. Yana hanya diam. Anak-anak lain yang ribut.

Ingatan tentang Yana tidak banyak. Hanya potongan-potongan kecil.

Dia berdiri dekat pintu kelas. Dia berjalan pulang lebih dulu, lalu nanti belok menuju rumahnya. Dia ikut karnaval 17 Agustus dengan pakaian pramugari. Dia ada di halaman sekolah, di antara anak-anak lain, tetap tenang, tidak banyak gaya.

Lalu suatu pagi, waktu saya kelas empat SD, kepala sekolah masuk ke kelas.

Saya tidak ingat kalimat lengkapnya.

Yang saya dengar: Yana meninggal.

Kemarin dia masih sekolah.

Hari itu, dia sudah tidak ada.

Kelas berhenti. Pelajaran tidak dilanjutkan. Kami membuat karangan bunga. Setelah itu kami berjalan bersama-sama ke rumah Yana.

Dari sana, kami ikut mengantar sampai Kuburan Muli.

Saya ingat siang itu sesudah salat Duhur. Matahari terang. Panas Merauke jatuh lurus di atas kepala. Tapi ketika kami berada di kuburan, gerimis turun pelan-pelan.

Hujan kecil saja.

Matahari tetap menyala.

Di Merauke, hujan panas seperti itu disebut hujan orang mati. Orang-orang bilang, hujan begitu turun kalau ada orang meninggal.

Saya berdiri di antara anak-anak sekolah, karangan bunga, tanah kuburan, dan orang-orang yang bergerak pelan. Seragam putih merah terasa panas di badan. Gerimis jatuh sebentar di bawah cahaya matahari.

Sejak hari itu, hujan panas selalu membawa saya ke Kuburan Muli.

Keluarga bilang Yana sakit kanker darah. Lama sesudah itu saya baru tahu, mungkin yang dimaksud leukemia. Waktu itu, saya hanya mengerti satu hal: anak yang kemarin masih sekolah bisa tiba-tiba tidak kembali lagi.

Itu cukup membuat dunia terasa ganjil.

***

Bertahun-tahun kemudian, saya datang lagi ke Kuburan Muli untuk pemakaman seorang tetangga.

Setelah acara selesai, saya berjalan di antara nisan-nisan. Saya ingin mencari makam Yana. Saya mencoba mengingat bagian mana dulu kami berdiri, jalan kecil mana yang kami lewati, di sebelah mana karangan bunga diletakkan.

Kuburan itu sudah padat. Banyak makam baru. Banyak nisan yang tidak saya kenal. Saya melihat nama satu per satu, lalu berjalan lagi. Beberapa makam lama sudah sulit dibaca. Beberapa tidak punya tanda yang jelas.

Saya tidak menemukan makam Yana.

Saya berdiri sebentar. Tidak tahu lagi harus mencari ke bagian mana.

Yang datang justru potongan-potongan lama.

Yana di TK. Koci-koci dalam daun pisang. Suara pendeknya: “Saya saja!” Yana dekat pintu kelas. Yana berjalan pulang. Yana memakai pakaian pramugari waktu karnaval. Yana yang kemarin masih sekolah, lalu pagi berikutnya sudah tidak ada.

Saya pulang tanpa menemukan makamnya.

Tapi sejak hari itu, Yana tidak lagi terasa samar.

Setiap kali saya mengingat kios Ibu Paino, bekal merah muda, dan koci-koci yang lengket di jari, Yana seperti ikut berdiri di sana.

Tidak baribut.

Tidak cakadidi.

Hanya datang sebentar, lalu berkata seperti dulu:

“Saya saja!”

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(