Ada perempuan yang menyimpan nomor seseorang di ponselnya. Tapi tidak pernah menelepon. Nomornya ada. Orangnya mungkin ada. Tapi jarinya tidak bergerak.
Saya tidak tahu siapa perempuan itu. Mungkin tetangga. Mungkin orang yang pernah duduk di sebelah kita di angkot. Mungkin seseorang yang kita kenal, tapi tidak sungguh-sungguh kita pahami.
Yang saya tahu: ia ada. Dan ada banyak dari mereka.
──── ୨୧ ────
Kesepian punya banyak rupa. Ada yang datang pelan-pelan, seperti air yang meresap ke dalam tembok. Ada yang tiba-tiba, seperti lampu yang mati. Tapi ada satu yang paling berat: yang datang setelah semuanya selesai.
Setelah anak-anak besar dan pergi ke kota lain. Setelah pernikahan yang retak, atau yang terlalu diam. Setelah pekerjaan yang menghabiskan siang, lalu malam datang dan tidak ada yang menunggu di meja makan.
Kesepian seperti itu tidak punya nama yang baik. Kita hanya bilang: hidupnya memang begitu. Sudah nasibnya.
Kita jarang bilang: ia butuh seseorang.
──── ୨୧ ────
Saya pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan, empat puluh sekian tahun, yang setiap malam Minggu duduk sendiri di kafe yang sama. Meja pojok. Kopi yang sama. Buku yang kadang tidak dibuka.
Suatu hari ada pemuda yang duduk di meja sebelah. Ia menyapa. Mereka bicara. Tentang buku, tentang film, tentang hal-hal kecil yang tidak penting. Perempuan itu pulang lebih larut dari biasanya.
Dalam hati mungkin ia berkata: nyaman juga ternyata, ada orang yang mau mendengar saya.
Tapi keesokan harinya, cerita itu sudah berjalan dari mulut ke mulut. Nadanya bukan simpati. Nadanya seperti orang yang baru melihat sesuatu yang lucu, atau sedikit memalukan.
Padahal yang terjadi hanya ini: dua orang berbicara.
──── ୨୧ ────
Kita punya kata-kata yang aneh untuk perempuan yang mencari kehangatan di luar dari yang dianggap semestinya. Tante girang. Kata itu membawa gambar tertentu, nada tertentu, asumsi tertentu.
Tapi coba kita balik sebentar. Laki-laki yang melakukan hal yang sama, yang mencari perempuan lebih muda, yang duduk di kafe dan menyapa, biasanya tidak mendapat nama seperti itu. Paling-paling orang hanya berkata: ah, biasa itu. Laki-laki memang begitu. Idiom Om Senang tidak pernah membumi selayaknya Tante Girang.
Perbedaan ini bukan soal kecil. Ia menunjukkan siapa yang boleh punya rasa rindu, dan siapa yang harus menyimpannya sendiri.
──── ୨୧ ────
Seorang teman pernah mengatakan sesuatu yang saya ingat sampai sekarang. Katanya, yang paling melelahkan bukan ketika kita tidak punya apa-apa. Yang paling melelahkan adalah ketika kita sudah memberikan segalanya, tapi di akhir hari tidak ada tempat untuk meletakkan diri sendiri.
Banyak perempuan yang hidup di titik itu. Sudah mengurus banyak hal. Sudah menjadi ibu, istri, anak, teman kerja. Sudah ada untuk banyak orang. Tapi ketika malam datang dan rumah sunyi, tidak ada yang bertanya.
Kau baik-baik saja?
Bukan karena tidak ada yang peduli. Mungkin ada. Tapi kita tidak terbiasa bertanya seperti itu kepada perempuan yang sudah terlihat kuat.
──── ୨୧ ────
Yang membuat saya berpikir bukan bahwa perempuan itu mencari teman. Itu manusiawi. Yang membuat saya berpikir adalah kita belum menyiapkan tempat yang aman untuk itu.
Kalau tidak ada tempat yang aman, orang mencari di tempat-tempat yang tidak resmi. Di sudut yang gelap. Di hubungan yang tidak seimbang. Dan di sana, terlalu sering, seseorang yang dirugikan.
Bukan karena perempuan itu bodoh atau lemah. Tapi karena kebutuhannya yang nyata bertemu dengan dunia yang menawarkan transaksi, bukan ketulusan.
──── ୨୧ ────
Perempuan di kafe meja pojok itu, saya tidak tahu apa yang akhirnya terjadi padanya. Mungkin ia masih ke sana setiap malam Minggu. Mungkin ia sudah menemukan sesuatu yang lebih baik. Mungkin ia memilih pulang lebih awal dan menutup pintu.
Yang saya tahu: ia bukan cerita lucu. Ia bukan fenomena. Ia bukan bahan omongan.
Ia hanya seseorang yang ingin bicara.
Dan malam Minggu itu, ada yang mau mendengarkan.

Leave a Reply