“Woy, Kam dapat Coca-Cola tu di mana?”
Pertanyaan itu bisa terdengar kapan saja di hari Lebaran. Di pinggir jalan. Di depan gang. Di halaman rumah orang. Kadang satu rombongan anak baru keluar dari rumah, rombongan lain baru turun dari sepeda.
Mata kami cepat sekali melihat kantong plastik.
Kalau di dalamnya ada kaleng Coca-Cola, Sprite, atau Fanta, suasana langsung berubah.
“Di mana? Sapa yang kasih Kamorang tu?”
Yang ditanya biasanya tidak langsung menjawab. Sedikit jual mahal. Dia tahan dulu. Biar kami penasaran.
Padahal sebentar lagi juga dia kasih tahu.
Lebaran pagi tentu dimulai dari rumah.
Sejak subuh, kami sudah harus mandi bergantian. Ini urusan yang tidak pernah sederhana, karena Kaka Lili biasanya mandi paling lama. Mama yang perempuan saja tidak selama dia. Dari luar kamar mandi, Bapa sudah mengingatkan supaya cepat-cepat. Kami masih harus makan dulu sebelum berangkat sholat Ied.
Setelah itu baju baru, songkok, sajadah, dan koran bekas untuk alas.
Saat itu orang Islam di Merauke belum sebanyak sekarang. Sholat Id satu kota biasanya dipusatkan di lapangan Masjid Raya. Orang-orang datang dari berbagai arah. Ada yang jalan kaki, naik sepeda, naik motor, naik mobil. Lapangan penuh. Takbir terdengar dari pengeras suara. Anak-anak duduk gelisah di dekat orang tua masing-masing.
Bapa memberi kami uang seribu rupiah untuk dimasukkan ke kotak amal. Beliau juga membeli buku kecil berisi khutbah. Saya baca sebentar. Kalau mulai bosan, saya baca koran bekas yang kami bawa sebagai alas. Kalau koran sendiri sudah habis dibaca, saya melirik koran orang lain, meskipun biasanya sebagian koran itu sudah diduduki.
Tidak ada HP. Menunggu khutbah selesai berarti mencari apa saja yang bisa dibaca.
Selesai sholat, kami tidak langsung pulang. Orang terlalu banyak. Keluar dari lapangan harus pelan-pelan. Di situ kami mulai bertemu teman-teman. Salam-salaman. Pegang tangan. Kadang hanya senyum dan sebut nama. Kadang Bapa atau Mama bertemu kenalan lalu bicara lama, sementara saya mulai gelisah.
Di rumah, acara keluarga dulu.
Kami berlima pegang tangan. Baku polo. Mama biasanya menangis sebentar. Setelah itu kami makan.
Ketupat dan buras sudah siap di meja, lengkap dengan rendang daging, opor ayam, sambal goreng, sup, hingga ayam balado dan acar.
Tidak lama setelah makan, teman-teman mulai datang.
Mereka masuk, pegang tangan dengan Bapa dan Mama, ucapkan selamat Lebaran, lalu mencari saya. Saya juga sudah siap. Begitu rombongan cukup, kami keluar.
Dari rumah ke rumah. Dari Spadem ke Muli. Kadang lebih jauh lagi. Kalau sepeda cukup, kami naik sepeda. Kalau tidak, baku gonceng. Kalau dekat, jalan kaki saja.
Yang penting bergerak.
Di Merauke, salaman hari raya biasa kami sebut pegang tangan. Kami masuk ke rumah orang, berjabat tangan, lalu bilang, “Selamat Lebaran.”
Sederhana saja. Tangan bertemu tangan. Tuan rumah tersenyum. Kami duduk sebentar, lalu mulai melihat meja.
Biasanya tuan rumah bertanya, “Tinggal di mana?”
Atau, “Sapa pu anak?”
Kalau kami menyebut nama Bapa atau Mama, biasanya mereka langsung mengangguk. “Ooo, Pa Ramlan pu anak.”
Atau, “Ooo, yang rumah di Spadem ka?”
Kami makan kacang. Ambil kue kering. Kadang gula-gula. Tapi yang paling kami tunggu adalah minuman.
Di lingkungan kami, Lebaran belum identik dengan amplop kecil berisi uang untuk anak-anak. Yang dicari bukan itu.
Yang dicari adalah minuman kaleng.
Kalau tuan rumah keluar membawa nampan berisi gelas-gelas Orson jeruk, kami tetap minum. Manis juga. Dingin juga. Tapi semangatnya lain.
Kalau Coca-Cola keluar dalam gelas, malah lebih menyiksa. Enak, tapi tidak bisa dibawa pulang.
Yang paling kami harapkan adalah tuan rumah membuka kardus, lalu memberikan kaleng utuh.
Coca-Cola.
Sprite.
Fanta.
Begitu kaleng sampai di tangan, rumah itu langsung kami ingat baik-baik.
Minuman itu jarang langsung diminum. Biasanya kami simpan. Masukkan ke kantong plastik, lalu bawa dari rumah ke rumah. Semakin siang, kantong plastik hasil buruan itu terasa kian berat. Menenteng plastik yang penuh seperti itu memberikan rasa bangga tersendiri di depan rombongan lain.
Tapi ada aturan sendiri.
Kalau masuk ke rumah orang, kantong plastik hasil buruan tidak boleh dibawa masuk begitu saja. Bikin malu. Biasanya kami sembunyikan di luar. Di balik pot bunga, dekat pagar, di bawah pohon, atau di sudut teras yang tidak terlalu kelihatan.
Setelah keluar, baru kami ambil lagi.
Ada takutnya juga. Jangan sampai hilang. Jangan sampai diambil anak lain. Tapi tetap kami sembunyikan. Begitu keluar, mata langsung mencari kantong itu lagi.
Kalau ada teman satu rombongan yang sudah lebih dulu pegang tangan di rumah tersebut, dia harus menunggu di luar. Tidak boleh ikut masuk. Tidak boleh dobel.
Di jalan, kalau bertemu rombongan lain, pertanyaan pertama hampir selalu sama. “Kam dapat Coca-Cola tu dari mana?”
Sekali satu anak bilang nama rumahnya, rombongan lain bisa langsung belok.
Rumah kepala kantor biasanya masuk daftar incaran. Rumah orang yang kami anggap mampu juga. Semua rumah tetap didatangi. Semua tetap pegang tangan. Tapi anak-anak tahu rumah mana yang harus didatangi lebih cepat.
Pintu-pintu terbuka. Kami masuk, duduk, makan kue, menunggu minuman, lalu keluar lagi.
Di satu rumah, hanya dapat kacang dan Orson.
Di rumah lain, dapat Fanta.
Di rumah berikutnya, Coca-Cola kaleng.
Kalau ada anak yang dapat dua kaleng dari satu rumah, kabarnya bisa menyebar sampai gang berikutnya.
“Dua kaleng? Ko tipu!”
“Betul! Dong kasih dua!”
“Di sapa pu rumah?”
Begitu terus sampai siang.
Baju baru mulai kusut. Rambut tidak serapi pagi. Sandal mulai berdebu. Tapi kantong plastik makin berisi.
Kadang kami berhenti di pinggir jalan untuk menghitung hasil.
“Coca-Cola satu, Sprite dua, Fanta satu.”
“Sa dapat tiga.”
“Ko banyak e.”
Kaleng-kaleng itu tidak selalu diminum hari itu juga. Justru enaknya dibawa pulang dulu, dimasukkan ke kulkas, lalu dilihat lagi nanti. Padahal di rumah kami juga ada minuman. Bapa biasanya sudah menyiapkan Coca-Cola, Fanta, Sprite, dan Orson.
Tapi yang dari kulkas rumah tidak sama.
Kaleng dari pegang tangan lain. Kami ingat dari rumah mana ia didapat, di mana kantongnya disembunyikan, dan siapa yang pertama memberi tahu jalan ke sana.
Biasanya kami pulang sekitar sore. Badan capek. Kaki pegal. Perut sudah penuh kue. Di rumah, kantong plastik dibuka pelan-pelan. Kaleng-kaleng itu dikeluarkan seperti hasil panen.
Setelah mandi dan ganti baju, malamnya kami keluar lagi.
Rumah ke rumah. Pegang tangan. Duduk sebentar. Lihat meja. Tunggu minuman. Baku kode kalau sudah waktunya pamit.
Kadang cukup dengan pandangan.
Kadang satu anak berdiri duluan.
Kadang ada yang berbisik:
“Ayo sudah, Tong lanjut lagi.”
Lebaran di Merauke bisa berlangsung dua hari penuh. Dua hari berjalan dari Spadem ke Muli, masuk gang, keluar gang, singgah di rumah yang dikenal dan rumah yang hanya dikenal lewat nama orang tuanya. Dua hari ketika kota terasa bisa dimasuki tanpa terlalu banyak sungkan.
Sesudah itu, pelan-pelan suasana Lebaran menghilang.
Kue di meja mulai berkurang. Baju baru tidak terlalu baru lagi. Kaleng-kaleng di kulkas mulai diminum satu per satu. Teman-teman tidak lagi datang serombongan sejak pagi.
Biasanya di situlah saya mulai sedih.
“Pele, kenapa Lebaran selesai cepat sekali ka?”
Padahal dua hari itu panjang. Kami sudah berjalan jauh. Sudah makan kue di banyak rumah. Sudah membawa pulang minuman kaleng seperti orang berhasil menangkap buruan.
Tapi setelah semuanya selesai, rumah terasa kembali biasa.
Yang tersisa hanya kaleng-kaleng dingin di kulkas, kantong plastik yang sudah kosong, dan rasa capek di kaki.
Saya masih ingat kantong plastik yang disembunyikan di luar rumah orang. Anak-anak yang saling bertanya di jalan. Rasa bangga membawa pulang Coca-Cola, padahal di rumah sendiri sudah ada.
Dan pertanyaan yang terus berpindah dari satu rombongan ke rombongan lain, “Kam dapat Coca-Cola tu dari mana?”
Jaman sekarang anak-anak kecil keliling ke rumah-rumah minta angpau.
