Video player Betamax Sony C7 itu besar dan berat. Warnanya gelap. Waktu itu, tidak ada yang menyentuhnya sembarangan.
Mama masih menyimpannya sampai saya SMA, walaupun sudah lama tidak dipakai. Saya hafal bentuknya: kotak, kaku, dengan mulut tempat kaset masuk. Kalau tombol ditekan, mesinnya berbunyi kasar sebentar, lalu gambar mulai muncul di TV.
Di Merauke waktu itu, kami menyewa kaset di dekat Toko Garuda. Tempat sewa kaset belum banyak. Kalau ada serial kungfu Cina yang sedang dicari orang, belum tentu kami langsung dapat. Bisa jadi kasetnya masih dipinjam keluarga lain.
Kita harus tunggu.
Besok. Lusa. Atau sampai orang itu kasih kembali.
Kalau kasetnya ada, malam itu ruang depan rumah langsung ramai. Anak-anak datang satu per satu. Arman dari belakang rumah, kadang bersama Pia, Cuplis, atau Ical. Oji juga sering muncul. Dari rumah Om Abe, Leni dan yang lain ikut datang.
Anak-anak duduk rapat di lantai. Yang lebih tua mengambil tempat di kursi atau pinggir ruangan. Semua menghadap ke layar.
Mama biasanya mengingatkan dari awal.
“Nonton baik-baik. Jangan nanti minta ulang dari awal lagi.”
Kaset tidak boleh diputar berkali-kali. Listrik harus dihemat. Video player juga jangan terlalu sering dipakai. Nanti head-nya cepat rusak.
Saya ingat ada kaset khusus untuk membersihkan head itu. Bentuknya seperti kaset biasa, tapi ada lubang kecil tempat cairan pembersih dituang. Kaset itu diputar sebentar, lalu dikeluarkan lagi. Katanya, head-nya sudah bersih.
Sa tra tau head itu apa. Sa cuma tau kalau barang itu rusak, kita tra bisa nonton.
Masalahnya, tidak semua film kungfu punya suara bahasa Indonesia. Banyak yang masih memakai tulisan putih di bawah layar.
Dan saya belum bisa membaca lancar.
Setiap pendekar di layar mulai bicara, huruf-huruf itu muncul sebentar, lalu hilang. Terlalu cepat. Mulut orang di TV bergerak. Musik menegang. Tangan mereka siap baku pukul. Tapi saya tidak tahu mereka bilang apa.
Saya menarik-narik Mama. “Mama, baca…”
Mama membaca.
Belum lama, tulisan baru muncul lagi. “Mama, itu apa?”
Mama membaca lagi.
Di layar, orang berbaju hitam masuk. Mukanya jahat. Saya menoleh lagi. “Mama, de bilang apa?”
Mama membaca lagi.
Adegan baru. Orang lain datang membawa pedang. Tulisan putih muncul, lalu hilang.
“Mama, de marah kah?”
Begitu terus.
Saya aman. Saya tahu siapa orang baik, siapa orang jahat, siapa yang mau baku pukul, siapa yang pura-pura baik. Tapi Mama tidak lagi bisa menonton dengan tenang. Matanya ke layar, telinganya ke saya, sementara mulutnya harus membaca tulisan yang sebentar-sebentar hilang.
Sampai akhirnya Mama berkata, tanpa menoleh, “Makanya Ko belajar baca.”
Pendek saja.
Tidak ada ceramah. Tidak ada meja belajar yang disiapkan malam itu. Mama tidak langsung mengambil buku, lalu mengajar saya huruf satu-satu. Film tetap jalan. Orang-orang di layar tetap berkelahi. Anak-anak lain tetap menonton.
Kalimat itu saya ingat lama sekali.
Iyo juga e.
Kalau saya bisa baca sendiri, saya tidak perlu bertanya terus. Tidak perlu menarik-narik Mama. Tidak perlu menunggu orang lain memberi tahu kenapa orang di layar tiba-tiba marah, kenapa pendekar itu lari, kenapa perempuan itu menangis, kenapa musuh lama datang lagi.
Kaka Lili dan Kaka Ham paling sering membantu saya mengeja. Mereka mengajari huruf, bunyi kata, cara menyambung satu suku kata dengan suku kata lain.
Awalnya lambat sekali.
Saya membuka majalah Bobo, melihat gambar dulu, lalu mencoba mengeja tulisan di bawahnya. Satu kalimat bisa lama. Kata-kata seperti tersendat di mulut. Tapi begitu satu cerita selesai, saya ingin mencari cerita lain lagi.
Setelah itu, semua yang ada tulisannya mulai saya baca.
Majalah Bobo, tentu. Lalu Kartini dan Sarinah punya Mama. Saya membaca halaman demi halaman, walaupun banyak hal belum saya mengerti. Yang penting ada tulisan. Ada cerita. Ada sesuatu yang bisa diikuti sampai selesai.
Untuk novel, Mama lain lagi.
Mama punya satu laci besar berisi novel. Ada Motinggo Busye, Mira W., Marga T., Fredy S., Eddy D. Iskandar, dan nama-nama lain yang waktu itu belum berarti apa-apa bagi saya. Novelet bonus di bagian tengah majalah Kartini pun biasa Mama cabut lebih dulu sebelum majalah itu sampai ke tangan saya.
“Anak kecil tra boleh baca novel.”
Begitu aturannya.
Laci itu jadi menarik justru karena dilarang. Saya tahu ada cerita di dalamnya, tapi belum boleh disentuh. Sampul-sampulnya seperti menyimpan cerita yang sengaja dijauhkan dari tangan saya.
Saya belum berani melawan terlalu jauh. Novel-novel itu baru saya baca bertahun-tahun kemudian, waktu SMP dan SMA, ketika Mama tidak lagi terlalu sibuk menjauhkan semuanya dari tangan saya.
Setelah bacaan di rumah mulai habis, Mama membawa saya ke tempat penyewaan buku di dekat Toko Dua.
Mama menyuruh saya memilih komik atau buku bergambar. Tapi saya tidak terlalu suka komik. Gambar yang terlalu banyak membuat cerita terasa sudah ditentukan. Saya lebih suka tulisan, karena sisanya bisa saya bayangkan sendiri.
Di rak sewaan itu saya memilih dongeng, legenda, fabel, dan cerita anak-anak.
Awalnya menyenangkan. Lama-lama saya mulai hafal jalannya. Anak baik menang. Anak jahat sadar. Hewan sombong kalah. Orang serakah mendapat hukuman. Sebagian cerita bahkan seperti pernah saya dengar dari Ibu Guru di TK.
Pilihan bacaan di Merauke waktu itu tidak banyak.
Perpustakaan daerah tidak pernah menjadi tempat yang kami datangi. Perpustakaan sekolah lebih banyak berisi buku pelajaran. Kalau ingin membaca sesuatu di luar itu, kami harus menyewa. Bayar. Menunggu buku kembali. Memilih dari rak yang itu-itu juga.
Tapi kalau sudah menemukan cerita yang cocok, saya bisa lupa sekitar.
Suara anak-anak bermain di halaman lewat begitu saja. Ajakan keluar rumah tidak selalu saya dengar. Kadang suara Mama memanggil makan pun seperti datang dari tempat jauh. Saya duduk di ruang tamu, di kamar, atau di sudut mana pun yang tenang, lalu masuk ke dalam tulisan.
Beberapa tahun kemudian, saya duduk di depan mesin tik Brother milik Bapa. Jari-jari saya menekan tuts satu per satu. Huruf-huruf muncul di kertas. Pelan, hitam, tidak hilang secepat subtitle film kungfu.
Di ruang depan, Sony C7 itu sudah jarang dipakai.
Tapi kalimat Mama masih ada.
“Makanya Ko belajar baca.”