Ada orang yang jalan sendirian, katanya, karung kosong di pundak, parang di tangan. Ia mencari anak kecil, memotong kepalanya, entah untuk apa. Ceritanya sudah beredar jauh sebelum saya lahir, tapi begitu pembangunan Jembatan Maro dimulai awal tahun sembilan puluhan, legenda itu bergeser arah. Kepala-kepala itu, katanya, dijadikan tumbal jembatan.
Saya tidak pernah bertanya kenapa jembatan yang baru muncul bisa tiba-tiba ikut serta dalam cerita yang sudah lama ada. Saya cuma percaya. Tiap kali melihat orang membawa karung, apalagi dengan parang terselip di pinggang, saya masuk rumah, menunggu sampai orang itu tidak kelihatan lagi.
Jembatan itu baru selesai tahun 1997, melintasi Sungai Maro, memisahkan kota dari Kuprik dan daerah transmigrasi. Tapi orang Merauke jarang menyebutnya Jembatan Maro. Nama yang lebih familiar justru Tuju Wali-Wali, diambil dari nama perusahaan yang mengerjakannya. Karena proyeknya lama sekali selesai, cerita-cerita baru ikut tumbuh di sekitarnya. Anak kecil yang naik taksi sendirian, kata orang, bisa hilang, diculik untuk tumbal. Ada yang namanya Taksi Kosong, katanya sengaja tidak menarik penumpang, cuma berkeliling mencari anak-anak yang naik sendirian.
Orang-orang tua ikut memakainya. Ancaman yang dulu, “Ko nakal terus, sebentar Potong Kepala tangkap ko, kas masuk dalam karung,” berubah jadi, “Pulang sudah, su malam! Nanti Taksi Kosong angkat ko!”, atau, “Ko stop main nakal-nakal, jang sampe sa bawa ko ke Tuju Wali-Wali.” Nama perusahaan yang sebenarnya berarti keberuntungan bersama, entah bagaimana, jadi ancaman paling ampuh untuk anak kecil di masa itu.
Hantu-hantu yang lain, saya tidak pernah benar-benar takut.
Ada mitos soal tembakau atau sirih pinang yang tergeletak di jalan, jangan diganggu, jangan diambil, tandanya sedang ada yang mengirimkan suanggi. Ada juga aturan soal batok kelapa, harus ditelungkupkan setelah airnya diminum, kalau tidak, suanggi bisa dikirim lewat situ. Saya sempat berpikir, kalau batok itu sudah saya telungkupkan sendiri, lalu ada orang lain membalikkannya diam-diam, apa saya tetap kena. Belakangan baru saya sadar, aturan itu mungkin cuma cara lain menyuruh orang menutup genangan air, supaya jentik nyamuk tidak berkembang biak di sana. Merauke termasuk daerah yang rawan malaria.
Ada juga Botol Manci, cahaya seperti pelita yang melayang di tanah lapang malam hari, mengejar siapa saja yang berdiri sendirian tanpa naungan. Katanya, satu-satunya cara selamat, cari pohon, berlindung di bawahnya, jangan pernah berdiri paling tinggi di tanah kosong.
Dua yang paling aneh bagi saya waktu itu, dua setan perempuan dari dua kota yang jauh. Klarce, dari Jayapura, dulunya manusia biasa yang belajar ilmu hitam sampai berubah jadi ganas. Sumiyati, dari Makassar, lebih jauh lagi, berpakaian gaun putih, gelang rantai emas di pergelangan kaki, konon suka muncul kalau namanya disebut, terutama mengincar laki-laki yang matanya terlalu liar. Saya tidak pernah tahu bagaimana caranya mereka sampai di Merauke, naik apa, lewat mana. Tidak ada yang bisa menjawab kalau saya tanya.
Saya tumbuh jadi anak yang berani soal yang gaib-gaib begitu. Saya bisa masuk sendirian ke kompleks Kuburan Muli, memunguti bunga kamboja yang berguguran, cuma karena suka baunya, sementara teman-teman lain memilih memutar jalan supaya tidak usah lewat di depannya.
Tapi kalau ada orang jalan sendirian, membawa karung, saya tetap masuk rumah dulu, menunggu sampai orang itu benar-benar hilang dari pandangan.