Bukan Maag

Titin bukan perempuan yang suka mendengar kata-kata cinta. Hampir tidak pernah ada hal-hal romantis seperti di novel-novel dalam interaksi kami. Paling sering kami bicara tentang sekolah, tentang PR, tentang pelajaran yang belum ia mengerti.

Saya kelas tiga SMP, dia kelas dua. Sedikit banyak saya bisa membantunya, terutama untuk Matematika. Di depan Titin, saya tidak hanya merasa sebagai pacar. Kadang saya menjadi teman belajar. Kadang saya merasa seperti kakak. Perasaan itu berbeda sekali dengan yang pernah saya rasakan bersama Fanda.

Fanda lebih mandiri. Ia bisa menulis surat yang panjang, membaca puisi dengan bagus, dan membuat saya merasa harus menyusun kata-kata dengan hati-hati. Titin tidak begitu. Ada kesan manja dari caranya yang tidak sungkan-sungkan meminta tolong mengerjakan PR, bertanya dengan nada yang polos tentang hal-hal yang tidak dipahaminya. Tapi justru karena itu saya merasa lebih santai berada di dekatnya.

Setiap Minggu sore, Titin sering bermain ke rumah temannya di Spadem. Rumah itu hanya sekitar empat rumah dari rumah saya. Kalau saya tahu ia ada di sana, biasanya saya datang. Sesekali saya mengajaknya ke rumah, duduk di ruang tamu atau di teras.

Ruang tamu rumah kami cukup besar. Ada dua set sofa, beberapa meja kaca, bufet berisi hiasan, plakat, dan piala-piala Mama dari turnamen tenis. Di sebelah kiri ada meja sudut tempat album-album foto ditumpuk. Titin suka membuka album itu, melihat foto-foto saya waktu bayi.

“Lucu, ya. Hihihi,” katanya sambil tertawa kecil. “Gemas sekali!”

Saya tidak pernah tahu harus bangga atau malu kalau ia bilang begitu.

Kadang kami membahas PR Matematika. Titin jarang membawa buku. Ia hanya bercerita dari ingatan, soal seperti apa yang diberikan guru, bagian mana yang ia belum paham. Ingatannya bagus. Saya biasanya mengambil kertas dan bolpen, lalu mulai cakar-cakar hitungan di atas meja kaca.

Titin akan menopang dagu di meja, diam saja memperhatikan. Tapi beberapa kali saya menangkap matanya tidak sedang melihat angka-angka di kertas. Ia malah melihat wajah saya.

Ko perhatikan di sini,” kata saya.

Ia hanya senyum-senyum seperti tidak berbuat salah.

Saya yakin, saat itu ia sebenarnya sudah mengerti. Ia hanya senang melihat saya menjelaskan ulang.

Selain Matematika, ada satu lagu yang sering saya nyanyikan untuknya.

“Ketika senyummu hadir…”

Saya tidak pernah menyanyikan lagu itu dengan suara keras. Biasanya hanya pelan-pelan, seperti orang yang sedang mengingat sesuatu sambil menunggu. Tapi bagi Titin, lagu itu punya awal yang lain.

Setelah kami jadian, ia pernah bilang bahwa ia mulai memperhatikan saya dari antrean bakso di sekolah. Hari itu jam kosong. Saya keluar dari kelas dan membeli bakso di depan ruang TU. Sambil memegang mangkuk, saya berdiri menunggu giliran, lalu menyanyi pelan-pelan.

Saya tidak sadar Titin berdiri tepat di belakang saya.

Menurut ceritanya, ia mendengar potongan lagu itu dan membayangkan seolah-olah saya menyanyikannya untuk dia. Padahal waktu itu saya hanya asal menyanyi sambil menunggu bakso. Saya bahkan belum tahu ada seseorang di belakang saya yang sedang menangkap lagu itu sebagai isyarat.

Sesudah ia mengaku begitu, saya kadang sengaja menyanyikan lagu itu kalau kami sedang berdua. Titin biasanya hanya melihat saya sambil tersenyum. Pada bagian reff, baru ia ikut menyanyi pelan.

Mungkin karena itu lagu tersebut menjadi milik kami dengan cara yang aneh. Ia tidak pernah kami bicarakan sebagai lagu cinta. Tapi setiap kali saya menyanyikannya, Titin seperti kembali menjadi anak perempuan yang berdiri di belakang saya, memegang mangkuk bakso, dan diam-diam merasa dipanggil.

Saya beberapa kali juga datang ke rumahnya, tapi tidak sering. Selain karena rumahnya bersebelahan dengan rumah Fanda, yang lebih membuat saya tidak nyaman adalah karena di sana ada bapaknya. Saya tidak pernah tahu harus bersikap bagaimana kalau berada terlalu lama di rumah perempuan yang bapaknya ada di dekat kami.

Di rumah saya, suasananya lebih santai. Kalau Titin datang, Ade dan Syamsul biasanya masuk ke kamar saya di bagian belakang rumah. Mereka mendengarkan musik dari tape, mengganti kaset-kaset Iwan Fals peninggalan Kaka Ham. Syamsul kadang muncul dari balik gorden ruang tengah, pura-pura lewat, padahal hanya mau mengintip.

Suatu Minggu, Titin sedang main ke rumah saya. Ade dan Syamsul seperti biasa berada di kamar belakang. Dari ruang tamu, suara tape mereka tidak terdengar. Rumah kami panjang: setelah ruang tamu masih ada ruang tengah, ruang makan, baru pintu menuju bagian belakang, tempat kamar saya, dapur, dan kamar mandi berada.

Saya dan Titin duduk di sofa tiga tempat duduk, rapat ke sisi kanan. Satu tempat di kiri kosong. Ada bantal sofa yang dipangku Titin. Di depan kami meja kaca. Kami sedang bicara ketika tiba-tiba ia memegang perutnya.

Ko kenapa?” tanya saya.

Wajahnya berubah. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya meremas perut sendiri, lalu tubuhnya sedikit membungkuk. Saya belum pernah melihat dia kesakitan seperti itu.

“Tin, ko sakit perut kah? Ayo, sa antar ko ke WC.”

Ia menggeleng. Wajahnya agak cemberut, mungkin karena sedang menahan sakit, mungkin juga karena tebakan saya terdengar seperti bercanda.

“Bukan…”

Saya diam sebentar. Tadinya saya pikir ia kebelet. Tapi kalau ia bilang bukan, berarti memang bukan. Titin bukan perempuan yang malu-malu kalau mau ke WC.

Saya masuk ke ruang tengah, mengambil minyak kayu putih dari kotak obat di atas kulkas. Setelah kembali ke ruang tamu, saya membuka tutup botolnya, lalu menuangkan sedikit ke telapak tangan Titin. Ia memindahkan bantal dari pangkuannya, kemudian menggosokkan minyak kayu putih itu ke perutnya sendiri.

Saya duduk di dekatnya dan mengusap-usap punggungnya.

Beberapa saat kemudian napasnya mulai lebih teratur. Tubuhnya tidak terlalu membungkuk lagi.

“Kayaknya sa pu maag kumat,” katanya pelan.

Saya baru tahu Titin “punya maag”. Bukan sekadar sakit perut biasa, tapi sakit yang bisa membuat tubuhnya tertekuk dan wajahnya berubah pucat.

Setelah itu saya jadi sering memperhatikan urusan makannya. Kalau ia belum makan, saya mengingatkannya. Atau ia terlalu banyak makan rujak, saya yang cerewet. Rujak salah satu kesukaannya. Titin biasanya hanya menjawab, “Iyo, iyo,” lalu tersenyum.

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya ikut Bapa ke apotek. Mama menyuruh kami membeli obat. Di sana saya meminta tambahan uang kepada Bapa untuk membeli Promag.

“Buat jaga-jaga saja,” kata saya.

Bapa tidak banyak bertanya. Seperti biasa.

Beberapa minggu kemudian, di hari Minggu yang lain, Titin kembali duduk di ruang tamu. Ade dan Syamsul juga ada di rumah, sedang menggonta-ganti kaset Iwan Fals di kamar belakang. Saya dan Titin duduk di sofa yang sama. Obrolan kami belum lama ketika ia tiba-tiba memegang perutnya lagi.

Kali ini saya lebih siap.

Saya langsung masuk ke ruang tengah, mengambil minyak kayu putih dari kotak obat di atas kulkas dan segelas air putih. Promag sudah ada di kantong celana saya sejak Titin datang.

Saya kembali ke ruang tamu dengan tangan kiri memegang minyak kayu putih dan tangan kanan membawa air putih. Setelah meletakkan gelas di meja kaca, saya mengeluarkan Promag dari kantong celana.

“Ini,” kata saya.

Kali ini saya tidak berdiri bingung seperti pertama kali.

Titin malah tertawa.

Awalnya hanya tertawa pelan sambil tetap menahan sakit. Lalu tawanya makin lepas ketika melihat saya berdiri bingung di depan meja, dengan minyak kayu putih, air putih, dan Promag yang sudah siap.

Ko ketawa apa?”

Ia berusaha menahan tawa, tapi gagal. Setiap kali hendak bicara, tawanya keluar lagi.

“Ini bukan maag yang kumat,” katanya akhirnya.

Saya masih menunggu.

Titin menarik napas, lalu tertawa lagi sedikit.

Sa lagi ‘dapat’.”

Saya diam.

“Hari pertama,” lanjutnya.

Saya mengerti maksudnya. Di sekolah, istilah itu biasa dipakai. Kalau bukan “lagi dapat”, biasanya teman-teman perempuan bilang “datang bulan”. Mereka mengatakannya terutama saat jam olahraga, ketika tidak ikut lari atau senam di lapangan. Ada juga yang hanya pura-pura, dan rahasia itu kadang dibocorkan oleh teman perempuan yang lain.

Saya pernah mengira mereka tidak ikut olahraga karena tidak leluasa bergerak terlalu banyak. Sampai sore itu, di ruang tamu rumah saya, Titin memegang perutnya dengan kesakitan yang tidak dibuat-buat. Sakit yang sampai membuat butir-butir peluh muncul di keningnya.

Saya mengambil kembali kotak Promag dari meja, lalu menepuk-nepukkannya pelan ke telapak tangan.

Di kepala saya sempat muncul pikiran aneh. Seharusnya bukan cuma Promag yang saya beli. Obat nyeri haid yang sering muncul di iklan televisi itu juga harus ada.

Tapi pikiran itu segera saya batalkan sendiri.

Terlalu aneh kalau anak laki-laki SMP membeli obat seperti itu dan berkata kepada Bapa, “buat jaga-jaga.”

Titin masih tertawa kecil di sofa. Gelas air putih belum disentuh. Minyak kayu putih tetap terbuka di atas meja kaca.

Saya menyimpan kembali Promag itu ke kantong celana.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(