Tiga bulan gips melingkari tangan kanan saya, dan waktu dibuka, tangan itu tetap bengkok, persis sudut yang dibentuk gips itu sendiri. Sembilan puluh derajat, seperti lengan yang lupa caranya lurus.
Trisno badannya besar, hampir setinggi guru. Ia menggendong saya di pundaknya, dan saya berpegangan di kepalanya, berlari-lari kecil seperti menunggang kuda, sampai Oji menarik tangan saya dari bawah, iseng saja. Saya kehilangan pegangan, jatuh, dan tangan itu yang lebih dulu menyentuh tanah, menahan seluruh berat badan saya sendiri.
Dokter bilang, kalau mau tangan itu lurus lagi, harus dipatahkan ulang dari posisinya, lalu digips dari awal. Saya menangis di ruang periksa, cukup keras sampai Bapa memilih jalan lain.
Kompleks Haji Djalis, Jalan Sumatra. Seorang tukang urut, rumahnya kecil, bau Minyak Tawon dan kayu putih bercampur jadi satu. Bulan itu bulan puasa. Tiap malam, sehabis tarawih, saya diantar ke sana, ditemani Bapa dan kaka-kaka bergantian. Sebulan penuh kami salat tarawih di Masjid Raya, agar lebih dekat ke rumah tukang urut.
Tangan saya dipijat pelan dulu, lalu ditekan, ditarik sedikit, diputar. Saya menjerit di setiap putaran, sampai suara saya habis lebih dulu daripada rasa sakitnya. Bapa duduk di sudut ruangan, di kursi kayu yang bergetar setiap kali ada yang lewat. Diam saja. Kaka Ham kadang memegang bahu saya dari belakang, mendekatkan mulutnya ke telinga saya, bilang tahan sedikit lagi, tahan sedikit lagi, sampai kata-katanya sendiri jadi seperti mantra.
Begitu berlangsung selama sebulan. Tangan itu lurus kembali.
Tapi untuk luka-luka yang lain, Bapa dan kaka-kaka saja tidak cukup.
Pulang sekolah, di depan Pangkalan AURI, sebuah motor datang dari belakang, menyenggol saya sampai terpental ke aspal. Gelap, lalu terang lagi. Waktu mata saya terbuka, langit-langit di atas saya bukan langit-langit rumah. Saya menoleh, dan Mama sudah di situ, duduk di kursi kecil di samping tempat tidur, seperti sudah lama menunggu saya bangun. Ini menambah satu lagi bekas luka di kepala saya yang dulu sudah pernah tertabrak becak di Makassar.
Ada juga luka di dagu, dari bakalai-bakalai dengan Oji di teras. Saya mencoba gaya tendangan berputar yang saya tonton di film kungfu, tapi kaki saya keliru menapak, dan dagu saya yang mendarat lebih dulu di lantai semen. Darahnya tidak mau berhenti. Oji mondar-mandir mengambil kapas, Betadine, dan Minyak Tawon, sampai Mama curiga sendiri dari dalam rumah, keluar, dan langsung tahu ini bukan luka kecil. Tiga jahitan di rumah sakit. Sampai sekarang ada satu petak kecil di dagu saya yang jenggotnya tidak pernah tumbuh serapat bagian lain, bekas jaringan yang menutup terlalu cepat.
Sumur tua di belakang rumah Leni jadi satu-satunya kecelakaan yang tidak pernah sampai ke telinga Mama, meski itu yang paling dekat dengan maut. Sumurnya sudah tidak dipakai lagi. Saya menyelam, tangan terlepas dari pinggirnya, dan air itu menutup di atas kepala saya lebih lama dari yang saya kira. Leni menunggu di atas, tidak curiga sama sekali, sampai saya berhasil melompat sendiri, menangkap pinggir sumur, terbatuk-batuk mengeluarkan air. Saya cerita ke Leni. Ia tidak percaya, dikira saya cuma berlagak lama menyelam. Cerita itu berhenti di antara kami berdua, tidak pernah terdengar oleh telinga siapa pun di rumah.
Tapi yang paling melekat di ingatan bukan yang paling parah. Sepotong pica beling, tersembunyi di rerumputan halaman Om Abe, mengiris tangan saya waktu saya jatuh sehabis main bola. Lukanya kecil, tapi cukup dalam untuk perlu dijahit. Di ruang periksa, saya menangis bukan karena jarumnya, tapi karena Mama masih berdiri di luar, di balik pintu yang setengah tertutup.
“Sa tra mau! Kasih Mama saja yang jahit!”
Dokter berhenti sebentar, menoleh ke suster. Seseorang keluar memanggil Mama. Begitu Mama berdiri di samping saya, tangannya menggenggam tangan saya yang satu lagi, saya berhenti menangis, dan membiarkan jarum itu bekerja.