Taplak Meja dan Kelambu untuk Sang Buah Hati

Laci-laci dibuka satu per satu. Lemari kayu di sudut kamar diperiksa sampai ke rak paling bawah, tempat biasanya selimut lama disimpan. Tidak ada kain yang cukup lebar untuk membungkus tubuh sekecil itu.

Uang di dompet juga sudah dihitung. Tidak akan cukup untuk membeli kain kafan di pasar, bahkan yang paling murah sekalipun.

Rumah kontrakan itu, di Tanah Tinggi, jalan di depannya berlumpur kalau hujan turun dua hari berturut-turut. Sore itu memang habis hujan. Becek masih menggenang di depan pintu, dan seorang anak yang belum sempat tumbuh besar, terbaring di ruang yang sama dengan meja kerja bapaknya.

Meja itu penuh kertas. Ada map-map berisi konsep pidato, ada koran yang belum sempat dibaca sampai halaman terakhir. Di meja itu jugalah keluarga biasa makan malam, kertas-kertas disingkirkan ke pinggir, piring diletakkan berdesakan dengan tumpukan buku.

Bapak dari anak itu bernama Haji Agus Salim.

Orang-orang mengenalnya sebagai diplomat yang duduk sejajar dengan utusan-utusan dari negeri seberang, orang yang bisa berpindah dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris, dari Jerman ke Prancis, dari Arab ke Turki, lalu ke Jepang, tanpa jeda yang kentara. Dua bahasa lagi ia kuasai hanya untuk membaca dan menulis, Latin dan Mandarin, bahasa yang jarang diperlukan orang kebanyakan.

Ia lahir di Koto Gadang, tahun 1884. Salah satu dari sedikit anak pribumi yang mendapat kesempatan sekolah sampai jenjang tinggi. Selepas itu ia bekerja sebagai penerjemah di Konsulat Belanda, di Jeddah, kota yang mempertemukannya dengan orang-orang berbahasa asing, dengan cara hidup yang belum pernah ia jumpai di tanah kelahirannya.

Sepulang dari Jeddah, ia menulis di surat kabar. Menghadiri rapat-rapat yang panjang. Berdiri di depan orang banyak, berbicara sampai suaranya serak. Di meja perundingan kelak, kemampuannya membuat lawan bicara memilih diam dan mendengarkan.

Tapi rumah bukan meja perundingan.

Di rumah, jas yang dipakainya sudah lama tidak terlihat baru. Kerahnya sedikit kusam. Topinya juga bukan topi yang baru dibeli. Kadang keluarga itu menumpang di rumah kawan, kadang mengontrak, seperti rumah di Tanah Tinggi ini, dengan jalan berlumpur dan atap yang bocor kalau hujan datang dari arah barat.

Jabatan yang dipercayakan kepadanya, satu demi satu, tidak pernah mengubah isi rumah itu menjadi lebih lapang. Meja kerja tetap meja makan. Buku dan kertas tetap disingkirkan setiap kali anak-anak butuh tempat duduk.

Sore itu, seorang kolega datang membawa kain kafan yang masih baru, terbungkus rapi, diulurkan dengan maksud membantu.

Agus Salim menerima uluran tangan itu, lalu meletakkannya kembali, pelan.

“Simpan saja,” katanya. “Yang hidup lebih membutuhkan kain baru.”

Tidak ada penjelasan lain setelah itu. Ia berjalan ke ruang tengah, menurunkan taplak meja yang selama ini menutupi kertas-kertas kerjanya. Lalu ke kamar, melepas kelambu dari kaitnya di atas ranjang.

Dua kain itu dibawa ke ruang tempat anaknya terbaring.

Tidak ada yang bicara banyak sore itu. Suara yang terdengar hanya kain yang dilipat, digunting seperlunya, dan langkah kaki yang keluar-masuk membawa air untuk memandikan jenazah.


Agus Salim meninggal 4 November 1954. Nama itu kemudian dicatat sebagai diplomat ulung, pemikir, orator, orang yang menguasai banyak bahasa.

Buku-buku sejarah menyimpan wajahnya di podium, di meja perundingan, di antara jas dan dasi para utusan asing.

Tidak banyak yang menyimpan cerita yang lain, yang lebih kecil, tentang sebuah sore di Tanah Tinggi, ketika rumah seorang menteri luar negeri kehabisan kain, dan taplak meja tempat kertas-kertas negara pernah digelar, dipakai untuk membungkus anaknya sendiri.

Bagikan

Leave a Reply