Umur saya dan Kaka Ham terpaut empat tahun. Kami tidak pernah satu sekolah, kecuali di SD. Waktu saya kelas tiga SMP, dia lulus SMA dan melanjutkan kuliah ke Makassar.
Mama ikut mengantarnya.
Perginya bukan beberapa hari. Hampir sebulan. Sekalian mengunjungi keluarga di Makassar karena belum tentu dalam waktu dekat bisa ke sana lagi.
Di rumah tinggal saya, Bapa, dan Kak Mirah.
Sebelum berangkat, Kaka Ham menyerahkan kamarnya kepada saya.
Sebenarnya itu bukan benar-benar kamar Kaka Ham.
Dulunya kamar pembantu. Waktu pembantu kami menikah dan berhenti bekerja, Kaka Lili yang pindah ke sana. Setelah Kaka Lili kuliah di Makassar, kamar itu ditempati Kaka Ham. Sekarang giliran saya.
Letaknya paling belakang. Menyambung ke dapur, ruang setrika, kamar mandi, dan pintu belakang.
Di balik pintunya tergantung kunci serep pintu belakang. Kunci itu biasa dipakai kalau Kaka Lili pulang malam. Dia masuk pelan-pelan supaya tidak membangunkan orang rumah. Setelah kamar itu ditempati Kaka Ham, kunci itu tetap di situ.
Waktu saya pindah ke kamar itu, kuncinya ikut menjadi milik saya.
Tidak banyak yang berubah di dalamnya. Tape Kaka Ham masih di tempat semula. Kaset-kaset Iwan Fals berjajar di rak, berdampingan dengan beberapa kaset rock koleksi Kaka Lili. Buku-buku pelajaran mereka belum dipindahkan. Di sudut kamar ada sajadah yang sejak dulu menjadi benda lungsuran.
Yang berubah justru di luar kamar.
Sepulang sekolah, saya tidak lagi makan siang bersama Mama. Sejak Mama berangkat ke Makassar menemani Kaka Ham, Kak Mirah yang menyiapkan makan di rumah. Kalau lauknya ikan, dia selalu menggorengkan saya telur mata sapi.
Semua orang di rumah suka ikan.
Hanya saya yang tidak.
Hampir setiap malam Minggu Kak Anto datang ke rumah.
Kak Mirah mengenalnya di atas kapal Tatamailau dalam perjalanannya ke Merauke.
Kalau Kak Anto datang, saya cepat-cepat keluar lewat pintu samping. Dari halaman, saya leluasa mengintip ke ruang tamu.
Rumah kami memakai kaca riben. Siang hari kami bisa melihat ke luar, sedangkan orang di luar tidak bisa melihat ke dalam. Kalau malam justru sebaliknya.
Saya melihat mereka duduk mengobrol pelan. Sesekali mereka tertawa. Saya senyum-senyum sendiri.
Tanpa sadar saya menjadi “saksi mata” perjalanan singkat mereka yang berakhir di pelaminan. Kak Mirah pun pindah, ikut suaminya.
Rumah kembali berubah.
Hasdiyah datang dari Asmat. Orang tuanya menitipkannya kepada Bapa supaya bisa sekolah di SMEA Merauke.
Dia menempati kamar saya yang lama.
Suatu sore saya pulang sekolah hampir jam tiga. Padahal saya masih harus kembali lagi untuk latihan Pramuka.
Di meja makan cuma ada ikan, tempe, dan tahu.
“Ma, mo makan telur.”
“Hasdiyah…”, panggil Mama dari kamarnya. “Tolong gorengkan telur satu dulu. Mata sapi.”
Saya ganti baju, cuci muka, lalu buru-buru kembali ke meja makan.
Di bawah tudung saji ada sepiring telur. Pinggirnya hitam dan keriting. Kuningnya pecah. Sebagian besar hangus. Sebagian kecil malah seperti belum masak.
Minyaknya hampir tidak ada. “Pasti dia goreng pake wajan bekas ikan lagi,” pikir saya.
Untungnya masih ada tempe dan tahu.
“Loh, mana telurnya?” tanya Mama yang sudah berdiri di samping saya.
Saya menarik piring kecil itu dari bawah tudung saji. “Sapa yang mo makan telur bakar ni?”
Mama melihat telurnya sebentar.
“Hasdiyah…”
Hasdiyah muncul dari dapur.
“Orang suruh goreng telur, malah ko bakar telur.” Sampai di sini Mama tidak bisa menahan tawanya.
Hasdiyah ikut tertawa.
Cerita telur bakar ini selalu memicu tawa Mama. Dua kata itu diceritakannya berulang kali di setiap kesempatan.
“Hasdiyah… tolong gorengkan telur.”
“… goreng ya, bukan bakar.”