Buku tulis pernah menjadi kotak pos paling rahasia dalam hidup saya.
Di antara halaman matematika, catatan IPA, atau latihan Bahasa Indonesia, bisa terselip selembar surat yang membuat satu hari sekolah terasa berbeda. Dari luar, buku itu tampak biasa saja. Sampulnya bergambar pemandangan, kartun, atau hanya warna polos. Di dalamnya ada garis-garis biru, tulisan pelajaran, coretan pinggir, nama pemilik di halaman pertama.
Tapi kalau hari itu buku tersebut dibawa Mila, saya tahu ada sesuatu yang lebih penting daripada PR.
Ada surat.
Mila berjalan seperti biasa. Tidak terlalu dramatis. Tidak seperti kurir rahasia dalam film. Ia hanya datang, memberi buku, lalu pergi. Tapi bagi saya, buku itu bisa membuat jantung berubah irama.
“Ini, dari Fanda.”
Begitu saja.
Satu kalimat pendek. Setelah itu, kelas seperti tidak lagi sama.
Saya tidak langsung membuka surat di depan banyak orang. Terlalu berbahaya. Anak SMP punya mata yang cepat untuk urusan seperti itu. Satu orang melihat, besok satu kelas tahu. Jadi biasanya saya menunggu saat yang agak aman. Waktu istirahat, ketika guru belum masuk, atau saat teman-teman sedang ribut sendiri.
Saya buka buku pelan-pelan.
Di antara halaman, ada amplop surat.
Saya ambil seperti memegang sesuatu yang tidak boleh jatuh.
Lalu saya baca.
Sekarang, kalau saya pikir, sebenarnya kami terlalu muda untuk kata-kata yang waktu itu kami tulis. Tapi anak SMP tidak pernah merasa dirinya terlalu muda. Apalagi kalau sedang menyukai seseorang. Satu salam bisa menjadi tanda. Satu senyum bisa menjadi janji. Satu hari tidak bertemu bisa terasa seperti perpisahan panjang.
***
Sebelum Fanda, ada Ina.
Ina anak kelas 1D. Saya kelas 2. Saya mulai “ser-ser” dia dari jauh. Bukan mendekati. Bukan mengajak bicara. Hanya melihat kalau ada kesempatan, pura-pura lewat depan kelasnya, lalu merasa sudah melakukan usaha besar.
Saya memang begitu.
Kalau suka seseorang, saya justru menjadi lebih sulit bergerak. Dengan teman biasa, saya bisa bicara. Dengan anak-anak Pramuka, saya bisa bicara. Di rapat OSIS, lama-lama saya bisa bicara. Tapi dengan perempuan yang saya suka, lidah seperti berubah menjadi benda asing.
Untung ada Rini.
Rini teman sekelas saya. Ia pernah menjadi kakak kelas Ina di SD Negeri 2. Rini punya jalan ke Ina yang saya tidak punya.
Suatu hari saya bilang kepadanya, “Rin, Ko urus Sa dengan Ina ka?”
Kalimat itu, kalau sekarang saya ingat, terdengar lucu sekali. Seolah-olah saya sedang meminta bantuan mengurus surat tanah, bukan perasaan anak SMP.
Rini menjalankan tugasnya.
Besoknya ia datang dengan kabar. “Iyo, de bilang salam balik. De bilang ‘iyo’.”
Cuma itu.
Di dunia anak SMP kami, itu sudah cukup untuk dianggap resmi.
Tidak ada pembicaraan panjang. Tidak ada jalan bersama. Tidak ada pernyataan langsung dari saya ke dia. Hanya Rini, salam, dan kata “iyo.”
Masalahnya, setelah resmi jadian, saya tetap tidak bicara.
Selama kira-kira dua bulan, saya hanya ingat pernah bicara dengan Ina dua kali.
Yang pertama waktu kami membantu di acara nikah Kaka Adolf, pembina Pramuka. Saya sebagai penerima tamu. Ina juga ada. Saat ada kesempatan lewat di dekatnya, saya hanya mampu bertanya, “Su makan?”
Cukup dua kata.
Hubungan yang katanya sudah resmi, diringkas menjadi pertanyaan konsumsi.
Yang kedua waktu perkemahan. Saya datang ke tenda putri untuk meminjam alat masak. Kebetulan Ina yang jaga. Saya bicara soal alat masak. Bukan soal rindu. Bukan soal perasaan. Bukan soal apa-apa yang biasa saya bayangkan sebelum bertemu.
Hanya alat masak.
Begitulah hebatnya saya waktu itu: bisa punya pacar, tapi tidak bisa bicara dengan pacar sendiri.
Lalu saya berangkat ke Jayapura.
Pertengahan kelas 2 SMP, saya terpilih mewakili sekolah untuk ikut perkemahan dalam rangka Munas Pramuka. Dari SMP Negeri 2 Merauke, ada beberapa orang yang berangkat, termasuk Ade dan Syamsul. Acara di Jayapura sebenarnya tidak terlalu lama, tapi perjalanan naik kapal membuat semuanya menjadi lebih dari satu bulan.
Kami naik kapal perang KRI Teluk Semangka.
Nama itu susah dilupakan, karena setiap selesai makan siang, makanan penutup kami selalu semangka. Tidak ada buah lain. Seolah-olah kapal itu merasa perlu membuktikan namanya setiap hari.
Rutenya panjang: Merauke, Fakfak untuk mengambil kontingen Fakfak, Sorong untuk mengambil kontingen Sorong, baru lanjut ke Jayapura. Kapal penuh anak-anak Pramuka dari beberapa kabupaten di Irian Jaya. Untuk saya yang datang dari Merauke, perjalanan itu terasa menyenangkan sekaligus menegangkan. Laut, kota-kota lain, anak-anak dari daerah lain, tidur di kapal, makan bersama, menunggu giliran mandi, melihat pelabuhan yang berbeda.
Tapi sebelum berangkat, saya melakukan satu hal yang kemudian menjadi masalah.
Saya menulis surat untuk Ina.
Karena saya tidak bisa bicara langsung, surat menjadi jalan keluar. Di surat, saya bisa menjadi orang yang berbeda. Lebih berani. Lebih lancar. Lebih talingkar. Kata-kata yang tidak pernah keluar ketika berhadapan muka bisa mengalir begitu saja di kertas.
Saya tulis kurang lebih begini: saya pergi tidak lama, saya pasti pulang, Ko harus jaga diri baik-baik, jangan lupa saya, tetap rindu saya.
Kalimat-kalimat yang waktu itu terasa wajar.
Sekarang kalau saya bayangkan dibaca guru Bahasa Indonesia, memang agak bahaya.
Surat itu saya kirim ke alamat sekolah. Waktu itu, surat untuk siswa bisa diterima di sekolah. Biasanya diletakkan di belakang kaca nako atau kaca louver. Yang punya surat tinggal datang ambil.
Ina mengambil surat itu.
Lalu, entah kenapa, ia membacanya di kelas.
Saat pelajaran Bahasa Indonesia.
Dan Ibu Grace melihat.
Surat itu disita.
Ketika saya pulang dari Jayapura dan masuk sekolah lagi, saya dipanggil ke ruang guru. Ibu Grace marah. Saya berdiri seperti terdakwa kecil. Surat itu sudah tidak lagi menjadi surat cinta. Ia berubah menjadi barang bukti.
“Stop pacaran-pacaran. Kamorang masih kecil.”
Saya tidak berani membantah. Memang kami masih kecil. Tapi waktu itu, tentu saja, saya tidak merasa kecil. Saya merasa seperti tokoh utama film yang baru pulang dari perjalanan jauh dan langsung dihantam tragedi.
Apalagi nilai saya juga jatuh.
Karena pergi hampir sebulan, saya tertinggal banyak pelajaran. Semester itu ranking saya turun sampai 14 di kelas. Untuk anak yang sejak SD selalu terbiasa di peringkat atas, angka itu terasa seperti jatuh dari pohon tinggi.
Surat disita.
Nilai hancur.
Ina menjauh.
Saya malu.
Dengan cara yang sangat SMP, saya merasa hidup saya sudah berantakan.
Saya berhenti pura-pura lewat depan kelas Ina. Berhenti mencuri pandang. Tidak ada kata putus. Tidak ada percakapan terakhir. Tidak ada penjelasan. Kami hanya sama-sama menjauh, lalu hubungan itu hilang begitu saja, seperti tulisan pensil yang dihapus pelan-pelan sampai kertasnya tetap berbekas.
***
Kalau cerita berhenti di situ, saya mungkin bisa tampak seperti anak yang belajar dari pengalaman.
Tapi tentu saja tidak.
Tidak lama setelah merasa hidup hancur, saya menulis surat cinta lagi.
Kali ini untuk Fanda.
Sebenarnya Fanda sudah pernah muncul sebelum itu. Mila pernah membawa kabar bahwa ada salam dari Fanda, anak kelas 1E. Saya sempat kaget. Ada anak kelas 1 yang suka saya? Waktu itu saya belum terlalu memperhatikannya, karena sedang sibuk menjadi pengecut di depan Ina.
Setelah urusan Ina berakhir, salam dari Fanda seperti kembali terdengar.
Saya tahu kemungkinan ditolak kecil. Dia pernah titip salam. Itu sudah cukup bagi logika anak SMP untuk merasa punya dasar yang kuat.
Maka saya menulis surat.
Tidak diberikan langsung. Tentu saja tidak. Itu terlalu berani.
Saya selipkan surat itu di dalam buku tulis, lalu titipkan kepada Mila.
Mila menjadi jembatan.
Besoknya, buku itu kembali.
Di dalamnya ada surat balasan.
Fanda menerima.
Maka, sekali lagi, saya resmi punya pacar tanpa harus melakukan percakapan yang semestinya dilakukan orang yang punya pacar.
Bedanya, dengan Fanda, surat tidak hanya menjadi pembuka. Surat menjadi tempat tinggal.
Sejak itu, Mila menjadi tukang pos kami.
Ia membawa buku dari saya ke Fanda, dari Fanda ke saya. Kadang surat terselip di halaman tengah. Kadang dilipat rapi. Kadang ada puisi. Kadang hanya cerita. Kadang panjang. Kadang lebih pendek, tapi tetap cukup untuk membuat satu hari terasa berisi.
Kalau Mila datang membawa buku, saya berusaha biasa saja.
Saya bisa duduk di kelas, membuka buku, membaca surat Fanda, lalu merasa seolah-olah ada ruang lain terbuka di antara jam pelajaran. Di luar, guru sedang menjelaskan. Teman-teman asyik bermain. Tapi di kertas itu, hanya ada kami berdua.
Fanda ternyata pandai menulis.
Itu yang membuat hubungan kami berbeda dari sebelumnya. Ia bukan hanya membalas dengan “iya” atau “salam kembali.” Ia bisa bercerita. Bisa menyusun kalimat. Bisa membuat saya merasa bahwa ia tidak hanya menerima saya, tapi juga mengerti cara saya hidup di dalam kata-kata.
Kami menulis tentang banyak hal. Mulai dari urusan sekolah, pelajaran, Pramuka, kegiatan OSIS, kasak-kusuk teman-teman, hingga urusan rumah dan perasaan yang terlalu rumit untuk kami ucapkan langsung.
Kadang kami saling kirim puisi.
Puisi cinta, tentu saja.
Puisi yang kalau dibaca sekarang mungkin membuat saya menutup muka sendiri. Tapi waktu itu, setiap baris terasa penting. Kata “rindu” bisa muncul berkali-kali tanpa terasa berlebihan. Kata “setia” bisa ditulis dengan keyakinan penuh, seolah-olah kami sudah memahami semua ujian hidup. Kata “selamanya” bisa dipakai anak usia belasan tahun tanpa beban apa-apa.
Anak SMP memang punya keberanian yang aneh.
Takut bicara langsung, tapi berani menulis “selamanya.”
Saya juga begitu.
Di depan Fanda, saya bisa kaku sekali. Kalau bertemu di sekolah, paling bicara soal Pramuka. Kalau bertemu karena urusan OSIS, bicara soal buku besar. Kalau ada kesempatan lebih pribadi, saya justru diam.
Tapi lewat surat, saya bisa menjadi orang paling cerewet.
Saya bisa menulis panjang. Bisa menghibur. Bisa cemburu. Bisa pura-pura marah. Bisa menjelaskan sesuatu yang tidak akan pernah sanggup saya ucapkan kalau dia berdiri di depan saya.
Kertas lebih aman. Ia tidak menatap balik. Kalau salah, bisa dicoret. Kalau terlalu malu, bisa dilipat dulu, disimpan sebentar, lalu dibaca ulang sebelum dikirim.
Percakapan langsung tidak memberi kesempatan seperti itu.
Sekali kata keluar, ia tidak bisa ditarik.
Maka saya memilih kertas.
Atau lebih tepatnya, saya bersembunyi di balik kertas.
Setelah beberapa waktu, surat-surat itu menjadi bagian dari hidup sekolah kami. Kadang surat itu datang, kadang tidak, menyisakan hari-hari panjang tempat saya menunggu atau menulis balasan dengan hati-hati, mencari kalimat yang terasa pas, lalu melipatnya seperti menyimpan sesuatu yang belum berani saya ucapkan.
Saya menyimpan surat-surat Fanda di rumah. Di lemari. Rapi. Kalau tidak salah, saya bahkan memberi nomor pada amplop-amplopnya, mulai dari yang pertama. Arsip kecil dari sesuatu yang waktu itu saya anggap penting sekali.
Malam Minggu, kalau tidak ada kegiatan, saya bisa membuka lagi surat-surat itu. Membaca ulang dari awal. Mengingat hari ketika surat itu datang. Mengingat kalimat tertentu. Mengingat bagaimana perasaan saya saat pertama membacanya.
Ada surat yang kertasnya harum. Ada amplop yang bentuknya lucu. Ada tulisan yang saya hafal sebelum saya sadar sudah menghafalnya.
Sekarang semua itu terdengar seperti pekerjaan seorang arsiparis kecil yang terlalu serius. Tapi memang begitulah saya waktu itu. Kalau saya menyukai sesuatu, saya menyimpannya. Kalau saya tidak berani mengucapkannya, saya menuliskannya. Kalau saya takut kehilangan, saya memberi nomor.
Di sekolah, hubungan itu punya bentuk yang aneh.
Orang-orang tahu.
Teman-teman Fanda tahu. Teman-teman saya tahu. Mila tentu tahu. Tapi kami berdua tetap jarang bicara langsung. Seperti ada perjanjian tidak tertulis: biarlah orang tahu, asal jangan kami dipaksa benar-benar berhadapan terlalu lama.
Kadang saya berpikir, Fanda mungkin lebih berani daripada saya. Ia bisa biasa saja. Tidak terlalu kaku. Tidak selalu terlihat malu. Saya yang terlalu banyak tinggal di pikiran sendiri.
Karena itu, setiap kali surat datang, saya merasa diselamatkan.
Surat membuat saya tidak perlu menjadi berani secara mendadak. Surat memberi saya waktu untuk menjadi diri saya sendiri. Bukan diri saya yang lengkap, tapi diri saya yang paling bisa saya keluarkan waktu itu.
Dan Fanda membacanya.
Itu sudah cukup.
Di usia itu, dipahami oleh seseorang bisa terasa sama pentingnya dengan dicintai.
Saya memang sejak kecil lebih percaya pada tulisan. Saya belajar membaca lebih cepat. Saya suka buku. Saya senang mesin ketik. Saya kelak menulis puisi dan cerpen. Tapi sebelum semua itu menjadi sesuatu yang lebih nyata, surat-surat kepada Fanda sudah memberi saya pelajaran pertama bahwa tulisan bisa menjadi jalan untuk mendekati orang lain.
Bukan jalan yang sempurna.
Kadang malah jalan untuk menghindar.
Karena dengan menulis, saya bisa tampak dekat tanpa harus benar-benar berani duduk di sampingnya dan bicara. Saya bisa mengucapkan rindu, tapi tidak bisa menyapa dengan tenang. Saya bisa menulis puisi, tapi kalau bertemu di koridor sekolah, saya hanya menunduk atau pura-pura melihat ke tempat lain.
Cinta di dalam buku tulis membuat saya merasa aman. Barangkali juga membuat saya terlalu lama tinggal di tempat aman itu.
Tapi saya tidak ingin menghakimi anak SMP yang dulu itu terlalu keras. Ia hanya sedang mencari cara. Ia tidak punya telepon genggam. Tidak punya chat. Tidak punya keberanian cukup. Tidak punya pengalaman. Yang ia punya hanya buku tulis, pulpen, teman bernama Mila, dan perasaan yang terlalu penuh untuk mulutnya sendiri.
Maka ia menulis.
Menunggu balasan.
Lalu menulis lagi.
Hari-hari berjalan di antara pelajaran, Pramuka, OSIS, madrasah, rumah, dan surat. Kadang semua terasa biasa. Kadang satu lembar kertas membuat hari terasa lebih terang.
Saya tidak tahu apakah Fanda menyimpan surat-surat saya seperti saya menyimpan surat-suratnya. Entah semuanya masih utuh, sebagian telah hilang, atau sudah lama dibuang. Itu haknya. Masa lalu tidak selalu harus disimpan dengan cara yang sama oleh semua orang.
Tapi di ingatan saya, buku tulis itu masih ada.
Buku yang berpindah tangan lewat Mila.
Dari luar, ia tampak seperti buku pelajaran biasa.
Di dalamnya, ada sesuatu yang waktu itu saya kira rahasia besar.
Buku tulis itu kembali ke meja.
Di antara halamannya, ada surat.
Mila berdiri sebentar, lalu berkata pelan, “Ini, dari Fanda.”