Kalian tahu bau Lebaran? Bau yang hadir sejak akhir bulan Puasa dan membuat puasa terasa lebih panjang. Bagi saya, salah satunya adalah bau kue kering yang baru keluar dari oven.
Menjelang akhir Ramadan, rumah kami berubah pelan-pelan.
Bukan berubah bentuk. Rumah itu tetap rumah yang sama: ruang tengah, kamar-kamar, dapur, meja makan, halaman depan, pohon jambu, pagar kawat duri. Tapi beberapa hari sebelum Lebaran, ada sesuatu yang bergeser di dalamnya. Seperti udara rumah menjadi lebih padat. Lebih ramai. Lebih harum. Lebih membuat perut sadar bahwa ia sedang kosong.
Mama mulai bikin kue.
Biasanya pekerjaan itu dimulai siang atau sore. Di meja sudah ada terigu, gula, telur, mentega, kacang, loyang, kuas kecil, toples-toples kosong, dan mixer yang suaranya membuat seluruh rumah terasa sibuk.
Kami tiga laki-laki tetap ikut membantu. Tidak ada pembagian bahwa ini pekerjaan perempuan atau pekerjaan laki-laki. Lagi pula tidak ada perempuan lain di rumah kecuali Mama. Kalau Mama butuh bantuan, kami bantu. Ada yang pegang mixer, ada yang cetak adonan, ada yang oles kuning telur, ada yang tabur kacang, ada yang jaga oven, ada yang susun kue ke toples.
Tentu saja, bantuan anak-anak tidak selalu mempercepat pekerjaan.
Kadang justru bikin Mama lebih banyak bicara.
“Eh, jang cetak besar-besar begitu. Nanti lain tra masak, baru lain hangus lagi.”
Atau:
“Jang talalu baku dekat, atur kasih jarak supaya jang de baku lengket.”
Atau:
“Ko taruh pelan-pelan. Jang sampe kue-kue tu hancur.”
Kami mengangguk seperti pekerja yang sudah sangat mengerti, lalu lima menit kemudian melakukan kesalahan lain.
Kue yang paling saya ingat adalah kue kering kacang. Bentuknya sederhana, warnanya coklat muda setelah matang, kadang bagian bawahnya sedikit lebih gelap. Kalau baru keluar dari oven, baunya memenuhi dapur. Harum kacang, mentega, dan sesuatu yang seperti Lebaran, meskipun belum ada orang yang bisa menjelaskan bau Lebaran itu sebenarnya seperti apa.
Ada juga kacang bawang, kacang telur, lapis Surabaya, lapis pandan, kue marmer, agar-agar. Mama bisa membuat banyak macam. Saya tidak tahu dari mana ia belajar semua itu. Mungkin dari saudara, tetangga, resep-resep di majalah Kartini, atau pengalaman bertahun-tahun mengurus rumah dengan tiga anak laki-laki yang selalu lapar pada saat yang tidak tepat.
Yang jelas, menjelang Lebaran, Mama seperti punya tenaga tambahan.
Sejak sahur ia sudah bangun paling awal. Siang mengurus rumah. Sore menyiapkan buka puasa. Malam kadang masih lanjut membuat kue. Saya baru bisa melihat itu sebagai kerja keras setelah dewasa. Waktu kecil, saya hanya melihatnya sebagai sesuatu yang memang terjadi setiap Ramadan: Mama memasak, Mama mengatur, Mama memastikan semuanya tersedia.
Anak kecil sering mengira kasih sayang itu memang otomatis keluar dari dapur.
Padahal tidak.
Ada kaki yang pegal. Ada punggung yang sakit. Ada mata yang mengantuk. Ada tangan yang terus bergerak, mengaduk, mencuci, menakar, membungkus, mengelap meja, menyimpan, lalu mulai lagi dari awal.
Tapi waktu itu, saya lebih sibuk memperhatikan kue mana yang boleh dimakan.
Karena siang hari, semua itu hanya boleh dilihat dan dicium.
Itu bagian paling berat.
Puasa sudah masuk minggu terakhir. Perut sudah terbiasa kosong, tapi bau kue punya cara sendiri untuk membuat lapar datang lagi. Kue kering yang sedang dipanggang di oven itu tidak berkata apa-apa, tapi baunya seperti mengejek dari dapur.
Saya biasa berdiri dekat pintu dapur, melihat Mama membuka oven.
Panas langsung keluar. Loyang ditarik. Kue-kue kecil berbaris rapi, seolah-olah tidak tahu bahwa ada anak kecil yang sedang menunggu Magrib dengan kesabaran yang semakin tipis.
“Ma, yang itu hangus ka?”
Saya menunjuk satu dua kue yang warnanya lebih coklat dari yang lain.
Mama melihat sebentar.
“Tidak. Itu bagus.”
Kalau Mama bilang bagus, berarti tidak bisa dimakan.
Saya mencari lagi yang lebih gelap. Yang pinggirnya sedikit terlalu coklat. Yang bentuknya patah. Yang ukurannya tidak sama. Yang mungkin, dengan sedikit keberuntungan, bisa dinyatakan gagal.
“Kalau yang itu?”
Mama kadang tahu maksud saya. Ia tidak langsung jawab. Ia terus mengangkat kue ke tampah atau piring besar, lalu memisahkan beberapa yang retak atau terlalu matang.
“Ini nanti untuk buka.”
Kalimat itu cukup membuat hati sedikit terang.
Kue yang tidak sempurna justru menjadi harapan paling sempurna bagi anak yang sedang puasa.
Kami tidak perlu menunggu Lebaran untuk makan yang retak, yang patah, yang sedikit hangus. Kue-kue itu menjadi jatah buka puasa. Bukan karena paling enak, tapi karena boleh dimakan lebih dulu.
Mungkin di situlah saya belajar bahwa dalam hidup, yang tidak rapi pun bisa membawa kegembiraan.
Tentu saja, waktu itu saya tidak berpikir sejauh itu. Saya hanya senang karena ada kue yang dipisahkan untuk nanti Magrib.
Sementara Mama sibuk dengan kue, Bapa punya tugas sendiri: membeli minuman.
Menjelang Lebaran, Bapa biasanya sudah mulai stok Fanta, Sprite, Coca-Cola, dan Orson jeruk. Dus-dus minuman itu terasa seperti tanda bahwa hari raya sudah dekat. Kalau dus mulai muncul di rumah, saya tahu Ramadan sudah hampir sampai di ujung.
Bapa tidak banyak bicara soal persiapan. Ia bukan tipe orang yang mengatur dengan suara besar. Tapi diam-diam, apa yang dibutuhkan rumah biasanya muncul. Minuman ada. Bahan ada. Kalau perlu ayam, ada ayam. Kalau perlu ke toko, Bapa pergi.
Mama bergerak cepat di dapur. Bapa bergerak tenang di belakangnya.
Begitulah rumah kami menjadi Lebaran: bukan karena satu orang saja, tapi karena dua cara mencintai yang berbeda. Mama dengan tangan yang terus bekerja. Bapa dengan langkah yang pelan tapi memastikan sesuatu tidak kurang.
──── ୨୧ ────
Beberapa hari menjelang Lebaran, pekerjaan makin banyak.
Mama mulai membuat ketupat. Daun kelapa muda sudah disiapkan. Bungkus ketupat dianyam satu per satu. Saya pernah mencoba belajar membuatnya, tapi selalu gagal. Daun yang di tangan Mama bisa berubah menjadi bentuk yang rapi. Di tangan saya, ia hanya menjadi lipatan-lipatan salah yang makin lama makin membuat bingung.
“Begini ka, Ma?”
Mama melihat sebentar.
“Bukan begitu. Sini, lihat Mama bikin.”
Ia mengambil daun itu dari tangan saya, membuka lagi bagian yang salah, lalu dalam beberapa gerakan saja bentuknya mulai kelihatan. Saya mencoba mengikuti. Gagal lagi.
Akhirnya tugas saya bukan menganyam, tapi mengisi beras ke dalam ketupat.
Itu pun harus hati-hati. Jangan terlalu penuh, nanti keras. Jangan terlalu sedikit, nanti lembek. Semua pekerjaan di dapur punya ukuran yang tidak selalu ditulis, tapi Mama tahu. Saya hanya mengikuti perintah.
Selain ketupat, ada buras. Ada ayam yang harus disiapkan. Ada bumbu yang harus dihaluskan. Ada santan. Ada rendang. Ada opor. Ada sambal goreng. Ada acar. Ada sop. Ada ayam palekko. Ada ayam balado.
Nama-nama itu sekarang terdengar seperti daftar menu, tapi waktu kecil semuanya terasa seperti gelombang yang datang satu per satu dari dapur.
Kadang saya diminta membantu Bapa memegang kaki ayam saat disembelih.
Saya tidak terlalu suka bagian itu. Ada rasa takut, ada rasa kasihan, ada juga kepercayaan anak-anak bahwa kalau darah ayam kena tangan bisa tumbuh kutil. Saya tidak tahu siapa yang pertama bilang begitu. Tapi seperti banyak kepercayaan masa kecil lain, kami menerimanya saja sebagai kebenaran.
Jadi saya memegang kaki ayam dengan wajah tegang, berusaha jauh-jauh dari darah.
Setelah itu, ayam menjadi urusan Mama. Dibersihkan, dipotong, dibumbui, dimasak. Dari sesuatu yang beberapa jam sebelumnya membuat saya takut, ia berubah menjadi lauk Lebaran yang saya tunggu.
Di situ selalu ada keanehan yang baru saya pahami belakangan: anak-anak sering hanya melihat hasil akhir. Mereka melihat meja penuh, toples penuh, kulkas penuh, piring penuh. Mereka jarang melihat berapa banyak yang harus terjadi sebelum kata “penuh” itu muncul.
Saya juga begitu.
Waktu kecil, saya mengira Lebaran memang datang bersama makanan.
Seolah-olah pagi hari raya punya kemampuan sendiri untuk menghadirkan ketupat, buras, kue kering, rendang, opor, Fanta, Sprite, Coca-Cola, dan Orson jeruk.
Padahal Lebaran tidak datang sendiri.
Ia dipanggil oleh Mama sejak jauh hari. Dari belanja becak sayur. Dari pasar. Dari dapur. Dari loyang. Dari toples kosong yang satu per satu diisi. Dari kue retak yang disisihkan. Dari santan yang diaduk. Dari beras yang masuk ke ketupat. Dari ayam yang dibersihkan. Dari tangan yang bekerja saat anak-anak hanya menunggu.
Dan kami memang menunggu.
Menunggu Magrib. Menunggu Lebaran. Menunggu baju baru dipakai. Menunggu malam takbiran. Menunggu hari ketika semua toples boleh dibuka tanpa merasa bersalah.
Tetapi sebelum semua itu, ada siang yang panjang.
Siang ketika rumah harum kue.
Siang ketika saya berdiri di dekat dapur, pura-pura membantu, padahal sebenarnya mengincar kue yang patah.
Siang ketika Mama berkata:
“Nanti buka baru makan.”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi anak kecil yang sedang puasa, “nanti buka” adalah jarak yang sangat jauh. Lebih jauh dari Spadem ke kota. Lebih jauh dari rumah ke Ujung Aspal. Lebih jauh dari semua jalan yang biasa saya tempuh.
“Nanti buka” berarti menahan diri dari apa yang sudah ada di depan mata.
Mungkin itulah latihan paling nyata dari puasa untuk anak-anak. Bukan ceramah panjang. Bukan penjelasan berat. Tapi kue kacang yang harum di depan hidung, dan Mama yang tetap berkata, “nanti.”
Saya tidak selalu sabar. Saya mungkin merengek. Mungkin tanya berkali-kali. Mungkin sengaja berdiri dekat meja supaya Mama ingat ada anak yang sedang menunggu jatah kue gagal. Tapi saya tidak ingat pernah mengambil diam-diam.
Bukan karena saya anak paling alim. Mungkin lebih karena Mama ada di situ.
Mama memang bisa membuat kami takut, tapi rasa takut itu tidak selalu buruk. Di rumah kami, takut pada Mama sering bercampur dengan rasa aman. Kami tahu batas. Kami tahu kalau Mama bilang jangan, berarti jangan. Kami tahu kalau Mama bilang nanti, biasanya nanti itu benar-benar akan datang.
Dan benar, saat Magrib tiba, kue yang dipisahkan itu keluar.
Tidak banyak. Beberapa potong saja. Kadang yang retak, kadang yang terlalu coklat, kadang yang bentuknya aneh. Tapi rasanya seperti hadiah.
Kami makan setelah minum, setelah kurma kalau ada, setelah makanan buka yang Mama siapkan. Kue itu tidak selalu sempurna. Justru karena tidak sempurna, ia terasa milik kami lebih dulu.
Kue-kue yang bagus masuk toples untuk tamu.
Kue yang gagal masuk ingatan.
Sekarang, kalau saya mengingat Ramadan di rumah masa kecil, yang datang bukan hanya suara radio RRI, sirene imsak, atau Bapa yang berteriak “Su Karim! Su Karim!” menjelang buka. Yang datang juga bau itu: bau kue kering yang dipanggang di siang puasa.
Bau yang dulu membuat saya lapar.
Bau yang dulu membuat waktu terasa lambat.
Bau yang dulu membuat saya berdiri di dapur dan bertanya, dengan harapan yang sangat jelas:
“Ma, yang itu hangus ka?”
Saya kira, anak-anak sering mengingat kasih sayang bukan dalam bentuk nasihat. Mereka mengingatnya sebagai bau, rasa, benda, dan kalimat pendek yang berulang.
Kue kacang yang sedikit gosong.
Toples bening di meja.
Dus Fanta di sudut rumah.
Daun ketupat yang gagal saya anyam.
Dan suara Mama dari dapur:
“Nanti buka baru makan.”
Dulu kalimat itu terdengar seperti larangan.
Sekarang, semakin jauh saya dari masa kecil, semakin saya merasa kalimat itu justru salah satu bentuk kasih sayang paling sederhana: menahan kami sebentar, supaya ada yang bisa kami tunggu; membuat rumah penuh, supaya ketika Lebaran datang, kami merasa dunia juga ikut terbuka.

Leave a Reply