Dulu, sebelum ada AI, anak-anak punya mesin prediksinya sendiri: selembar kertas, bolpen, dan nama seseorang yang ditulis pelan-pelan supaya tidak ketahuan teman.
Permainan itu kami anggap serius.
Di atas kertas, kami menulis dua nama. Nama sendiri dan nama orang yang sedang membuat dada berdebar aneh. Lembar itu ditulis lengkap, disamarkan sedikit, atau sengaja ditutup tangan supaya teman di sebelah tidak bisa langsung membaca.
Lalu di bawahnya, kami menulis delapan huruf:
T R U E L O V E
Delapan huruf itu seperti mantra.
Kami menghitung berapa kali huruf-huruf itu muncul dalam gabungan dua nama. Satu per satu. T, R, U, E, L, O, V, E. Kalau ada huruf yang muncul dua kali, ditulis dua. Kalau tidak ada, ditulis nol.
Tidak ada guru yang mengajarkan cara ini. Tidak ada buku matematika yang memuat rumusnya. Tapi di antara anak-anak, aturan semacam itu bisa menyebar cepat. Satu orang tahu, besok satu kelas tahu. Lalu semua orang tiba-tiba merasa punya alat untuk mengukur kadar cinta, sesuatu yang sebenarnya belum mereka pahami.
Misalnya dua nama ini:
Ikhwan Kelana Putra
Maryam Sekar Puspita
Setelah dihitung dengan cara yang kami percaya waktu itu, baris pertamanya menjadi:
2 4 2 2 1 0 0 2
Angka-angka itu kemudian dijumlahkan berpasangan.
Dua tambah empat jadi enam.
Empat tambah dua jadi enam.
Dua tambah dua jadi empat.
Begitu terus sampai barisnya makin pendek.
Ada satu aturan lain yang membuat permainan ini terasa seperti ilmu rahasia: kalau hasil penjumlahan menjadi dua digit, angka di depan dibuang. Yang ditulis hanya angka satuannya. Misalnya 8 tambah 4 menjadi 12, maka yang dipakai hanya 2.
Sekarang kedengarannya seperti akal-akalan.
Tapi waktu itu, siapa yang peduli?
Yang penting, nama kami bisa masuk ke dalam hitungan yang sama dengan nama dia.
Dari baris awal tadi, segitiganya menjadi begini:
2 4 2 2 1 0 0 2
6 6 4 3 1 0 2
2 0 7 4 1 2
2 7 1 5 3
9 8 6 8
7 4 4
Tiga angka terakhir itu belum cukup.
Masih ada satu langkah lagi.
Tujuh ditambah empat menjadi sebelas, maka yang diambil hanya satu. Empat ditambah empat menjadi delapan.
Hasil akhirnya:
18%

Delapan belas persen.
Angka itu kecil sekali.
Untuk dua nama yang baru saja ditulis dengan hati-hati, 18% terasa seperti vonis. Seolah-olah kertas itu baru mengetuk palu dan berkata, “Sudah, kam dua tra cocok.”
Padahal kertas tidak tahu apa-apa.
Bolpen juga tidak tahu apa-apa.
Kami sendirilah yang memberi angka itu kuasa terlalu besar.
Kalau hasilnya tinggi, kami senang. Angka 80 atau 90 persen bisa membuat seseorang pulang dengan dada sedikit lebih ringan. Kertas itu mungkin disimpan di buku. Dibuka lagi malam hari. Dibaca sambil senyum sendiri, seolah-olah angka itu turun dari langit dan bukan dari hitungan yang kami karang sendiri.
Tapi jika hasilnya rendah, ceritanya langsung berubah. Lembar itu diremas cepat-cepat, dimasukkan ke laci, atau dibuang begitu saja seolah-olah kami tidak pernah menghitungnya.
Padahal beberapa menit sebelumnya, kami menghitung dengan sungguh-sungguh. Menunduk di atas meja. Menulis angka kecil-kecil. Memastikan tidak ada huruf yang terlewat. Seolah-olah masa depan bisa rusak hanya karena salah menghitung huruf E.
Saya tidak ingat siapa yang pertama kali mengajarkan permainan itu kepada kami. Mungkin teman sekolah. Mungkin kakak kelas. Mungkin dari majalah remaja. Yang jelas, permainan itu cocok dengan umur kami waktu itu: umur ketika seseorang belum berani bicara langsung, tapi sudah berani menulis nama sendiri berdampingan dengan nama orang lain.
Ada malu di situ.
Ada rasa ingin tahu.
Ada harapan kecil yang belum berani disebut harapan.
Nama punya kekuatan aneh waktu itu. Nama yang biasa saja bisa membuat tangan gugup. Kita bisa mendengar nama itu dipanggil guru, lalu dada bergerak sedikit. Kita bisa melihat nama itu tertulis di buku absen, lalu pura-pura tidak melihatnya.
Maka ketika nama itu ditulis di atas kertas bersama nama kita sendiri, semuanya terasa bergeser.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
Permainan TRUE LOVE memberi kami jalan untuk menyentuh sesuatu yang belum sanggup kami bicarakan. Kami belum mengerti komitmen. Belum mengerti hubungan panjang. Belum mengerti bahwa perasaan tidak bisa dihitung dari huruf-huruf dalam nama.
Kami hanya tahu ada seseorang yang membuat hari-hari di sekolah terasa berbeda.
Dan karena mulut belum berani bicara, kami memakai bolpen.
Karena hati belum tahu cara membaca tanda, kami memakai angka.
Sekarang saya tentu tahu, hitungan itu tidak punya dasar apa-apa. Dua nama bisa menghasilkan 91% dan tetap tidak berarti apa-apa. Dua orang bisa mendapat 18% dan tetap saling mengingat bertahun-tahun. Angka hanya angka. Kertas hanya kertas.
Tapi waktu itu, kertas bisa menjadi tempat paling aman untuk menaruh perasaan.
Tidak ada yang perlu tahu, kecuali teman yang duduk terlalu dekat dan berhasil mengintip.
Kalau hasilnya bagus, kami percaya sebentar.
Kalau hasilnya buruk, kami hitung ulang.
Barangkali tadi ada huruf yang terlewat.
Nama lengkap mungkin harus dipakai.
Atau nama panggilan lebih cocok.
Cara menghitung huruf E juga bisa diubah sedikit.
Anak-anak bisa sangat kreatif ketika sedang menyelamatkan harapan sendiri.
Pada akhirnya, kami tidak sedang mencari kebenaran. Kami sedang mencari angka yang membuat kami bisa tidur lebih tenang malam itu.
Satu lembar kertas.
Dua nama.
Delapan huruf.
Beberapa baris angka yang makin mengecil.
Lalu satu persentase yang kami baca seperti ramalan.
Dulu, sebelum mesin bisa menjawab apa saja, kami sudah lebih dulu bertanya kepada kertas.
Bukan karena kertas lebih pintar.
Karena kertas lebih aman.
Ia tidak tertawa.
Ia tidak membocorkan rahasia.
Ia hanya menerima dua nama, beberapa angka, dan satu perasaan yang terlalu malu untuk disebut cinta.