Pada 26 Januari 1968, Linda Slawson berkeliling di sekitar Portland, Oregon, menjual ensiklopedia dari rumah ke rumah. Usianya baru 19 tahun. Pekerjaan sebagai tenaga penjual buku ia jalani untuk menambah uang kuliah. Hari itu tidak ada seorang pun yang mencatat rumah mana saja yang didatanginya. Perusahaan tempat Linda bekerja pun tidak memiliki catatan mengenai rute atau kegiatan yang ia lakukan. Menjelang sore, ia tidak kembali.
Beberapa bulan berlalu tanpa kabar.
Berita tentang hilangnya Linda kemudian tenggelam di tengah kegaduhan yang melanda Amerika setelah Senator Robert Kennedy ditembak pada 5 Juni 1968. Polisi terus mencari, tetapi penyelidikan tidak membawa mereka ke mana-mana. Sampai pada November, seorang perempuan muda lain menghilang.
Namanya Jan Whitney, 23 tahun.
Pada malam 26 November, sehari setelah Thanksgiving, mobil Jan ditemukan terkunci di sebuah tempat perhentian dekat Albany, Oregon. Mobilnya ada di sana, Jan tidak. Tidak ada barang berantakan, tidak ada tanda perkelahian, tidak ada tubuh di sekitar tempat tersebut.
Dugaan awal polisi cukup masuk akal untuk keadaan zaman itu. Barangkali mobil Jan mengalami kerusakan dan ia keluar mencari bantuan. Menumpang kendaraan orang asing juga bukan sesuatu yang aneh pada masa tersebut. Persoalannya, orang yang berniat jahat tentu tahu persis bagaimana memanfaatkan keadaan semacam itu.
Jan pun hilang seperti Linda.
Menjelang pergantian tahun, kedua kasus tersebut belum memberi polisi satu petunjuk pun. Detektif Jim Stovall dan Gene Daugherty menangani penyelidikan masing-masing, tetapi belum melihat alasan untuk menghubungkan hilangnya Linda dengan Jan. Dua perempuan, dua tempat kejadian, dua berkas yang belum menemukan ujungnya.
Belum ada yang tahu bahwa nama-nama tersebut kelak akan berada dalam satu daftar.
Dua Perempuan Lagi
Tahun 1969 belum genap tiga bulan ketika polisi Oregon menerima laporan perempuan hilang berikutnya. Kali ini Karen Sprinker, 19 tahun, yang tidak pulang.
Karen sudah berjanji bertemu ibunya untuk makan siang. Dari kampus, ia langsung menuju tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan. Ibunya menunggu lebih dari satu jam. Karen bukan orang yang biasa terlambat selama itu, sehingga kecemasan segera berubah menjadi laporan kepada polisi.
Mobil Karen ditemukan di tempat parkir. Karen tidak ada.
Seorang saksi mengatakan pernah melihat sosok tinggi dengan penampilan aneh di sekitar kawasan tersebut. Keterangan berikutnya justru membuat polisi bingung. Menurut saksi lain, sosok tersebut seorang laki-laki. Ia sempat berpapasan dengannya dan cukup yakin dengan apa yang dilihatnya. Wajah laki-laki tersebut, kata saksi, membuat orang memilih menjauh.
Polisi belum dapat mengaitkan sosok tersebut dengan Karen.
Empat minggu kemudian, perempuan lain hilang. Namanya Linda Salee, 22 tahun.
Linda pergi ke pusat perbelanjaan untuk menemui pacarnya. Pacarnya sudah berjanji akan memberikan hadiah. Linda tidak pernah sampai kepadanya. Ia juga tidak masuk kerja hari itu. Mobilnya ditemukan terparkir rapi di tempat yang sama seperti ketika ditinggalkan. Tidak ada kaca pecah, tidak ada tanda pintu dibuka paksa, tidak ada bekas perkelahian.
Polisi memeriksa pacar Linda. Mereka tidak menemukan alasan untuk menuduhnya.
Sekarang empat perempuan sudah hilang sejak awal 1968. Tidak satu pun meninggalkan petunjuk yang dapat membawa polisi kepada pelaku. Mobil mereka ditemukan dalam keadaan yang nyaris biasa. Tidak ada darah, tidak ada barang yang berserakan, tidak ada tubuh. Orang-orang yang terakhir bertemu dengan mereka pun tidak memberi gambaran yang berarti.
Empat perempuan pergi dari kehidupan sehari-hari mereka, dan polisi tidak tahu ke mana.
Pada 21 April 1969, sebuah kejadian di tempat parkir gedung perkantoran membuat penyelidikan memperoleh arah baru, meskipun pada saat itu belum ada yang menyadarinya.
Sepulang kerja, Sharon Wood hendak bertemu suaminya untuk membicarakan perceraian. Ketika berjalan menuju area parkir, ia merasa ada seseorang mengikuti dari belakang. Sharon berusaha kembali ke tempat yang lebih ramai. Ia ingin mencari orang yang mau berjalan bersamanya sampai ke mobil.
Seorang laki-laki tinggi dan bertubuh besar tiba-tiba muncul di hadapannya. Pistol diarahkan ke wajah Sharon. Laki-laki tersebut menyuruhnya diam dan menurut. Sharon justru melawan. Ia berteriak dan berusaha berlari, tetapi laki-laki itu lebih cepat. Dalam beberapa detik tubuh Sharon sudah berada dalam cekikannya.
Ia menendang kaki laki-laki tersebut dengan sepatu hak tinggi. Tangan Sharon berusaha merebut pistol, sementara tangan lain mencoba melepaskan lengan yang menekan lehernya. Ketika penyerang itu hendak membungkam mulutnya, Sharon menggigit tangannya.
Gigitan tersebut begitu keras sampai darah mengalir. Sharon tidak melepaskan. Untuk beberapa saat laki-laki tersebut justru sibuk berusaha membebaskan tangannya. Ia akhirnya berhasil mendorong Sharon sampai jatuh menghantam lantai parkir. Pada saat yang sama, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Laki-laki itu mengambil pistolnya dan melarikan diri.
Sharon memberikan ciri-cirinya kepada polisi dan meminta perempuan lain berhati-hati ketika berjalan sendirian menuju kendaraan. Polisi mencatat kejadian tersebut, tetapi belum menemukan hubungan dengan empat perempuan yang telah hilang.
Tidak lama kemudian, seorang gadis berusia 15 tahun dari Salem melaporkan kejadian yang serupa. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan kulit wajah berbintik pernah berusaha memaksanya masuk ke sebuah mobil sport. Gadis tersebut berhasil menghindar sebelum laki-laki itu sempat membawanya pergi.
Kali ini kemiripannya mulai terasa.
Tetapi kasus orang hilang belum juga memberikan jawaban. Polisi baru menemukan dua kesamaan yang terlalu umum untuk dijadikan pegangan. Para korban menghilang menjelang akhir bulan, dan semuanya perempuan kulit putih.
Sampai seorang pemancing menelepon. Ia sedang memancing di Sungai Long Tom, sebelah selatan Corvallis, ketika tali pancingnya terasa berat. Ia menariknya dengan harapan mendapat ikan besar. Yang muncul dari air justru potongan daging yang menempel pada mata kail. Pemancing tersebut memeriksanya lebih dekat. Bentuknya menyerupai jaringan tubuh manusia.
Polisi segera datang. Penyelam diturunkan ke sungai dan menyusuri dasar air. Tidak lama kemudian mereka menemukan tubuh seorang perempuan yang ditenggelamkan dengan pemberat berupa transmisi mobil. Tali nilon mengikat tubuh tersebut, sementara komponen kendaraan menahannya di bawah permukaan.
Untuk pertama kalinya polisi mendapatkan sesuatu yang dapat mereka pegang.
Tubuh korban diperiksa dengan hati-hati. Lehernya menunjukkan tanda pencekikan. Pada bagian tulang rusuk terdapat dua luka tusukan, masing-masing dikelilingi bekas luka bakar. Wajah korban sudah tidak dapat dikenali, sehingga polisi harus mencari cara lain untuk mengetahui siapa perempuan tersebut.
Catatan gigi akhirnya memberikan jawabannya. Korban adalah Linda Salee.
Penyelidikan di sepanjang sungai segera dilanjutkan. Beberapa hari kemudian, polisi menemukan tubuh lain. Cara pelaku menenggelamkannya hampir sama. Kali ini sebuah kepala silinder mesin dipakai sebagai pemberat, sementara tali pengikatnya memiliki kemiripan dengan tali yang digunakan pada tubuh Linda Salee.
Korban kedua dikenali dari pakaiannya. Karen Sprinker.
Leher Karen menunjukkan tanda pencekikan. Ketika tubuhnya diperiksa, polisi menemukan sebuah bra hitam yang ukurannya terlalu besar. Bagian dalam cup bra tersebut diisi handuk agar ukurannya tampak sesuai. Handuk tersebut ternyata telah menyerap darah dari luka pada payudara korban.
Pencarian diteruskan, tetapi dua perempuan lainnya belum ditemukan. Linda Slawson dan Jan Whitney sudah terlalu lama menghilang. Ada kemungkinan tubuh mereka telah rusak atau terseret jauh dari tempat pencarian.
Dua mayat yang ditemukan juga menimbulkan persoalan lain. Pemberat berupa komponen mobil bukan benda yang mudah diangkat seorang laki-laki dengan tenaga biasa. Polisi mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa pelakunya seorang laki-laki dengan tenaga luar biasa, atau ada dua orang yang bekerja bersama.
Yang sudah jelas, seseorang telah menemukan cara untuk menenggelamkan tubuh dan menyembunyikannya dari permukaan.
Seorang Lelaki yang Mengajak Berkencan
Setelah Karen Sprinker dikenali, polisi kembali ke Oregon State University di Corvallis. Mereka berbicara dengan mahasiswa dan mulai mengumpulkan cerita mengenai kehidupan Karen di kampus.
Beberapa mahasiswi mengaku pernah menerima telepon dari seorang laki-laki yang mengajak mereka berkencan. Ada pula cerita mengenai seorang laki-laki bertubuh besar, berambut merah, yang kerap terlihat berkeliaran di sekitar kampus.
Seorang mahasiswi pernah menerima ajakannya. Laki-laki tersebut mengaku sebagai veteran Perang Vietnam yang kesepian dan ingin mencari teman perempuan. Mereka sempat berkencan, tetapi pertemuan tersebut berakhir buruk. Bukan karena lelaki itu tidak punya bahan pembicaraan. Justru sebaliknya, ia memilih membicarakan mayat-mayat yang ditemukan di sungai. Perempuan tersebut tidak mau bertemu lagi dengannya.
Polisi meminta pertolongannya.
Mereka membujuknya mengatur pertemuan kedua, menentukan waktu dan tempat, lalu memberi tahu polisi. Ketika hari yang disepakati tiba, penyidik menunggu dari jarak tertentu sambil mengawasi percakapan mereka.
Laki-laki itu datang dengan tenang.
Dari percakapan tersebut polisi mengetahui bahwa ia pernah bekerja sebagai teknisi listrik. Keterangan tersebut segera menarik perhatian mereka. Tali dan perlengkapan yang ditemukan pada tubuh korban sebelumnya memang mengarah kepada seseorang yang memiliki pengalaman sebagai mekanik atau teknisi listrik.
Nama lelaki tersebut Jerome Henry Brudos. Polisi belum menangkapnya. Mereka belum memiliki cukup bukti untuk membawa kasus ke pengadilan. Jadi mereka mulai melihat lebih jauh ke belakang.
Anak yang tidak diinginkan
Jerome Henry Brudos lahir pada 31 Januari 1939 di South Dakota. Orang tuanya hidup berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di Oregon. Ia merupakan anak ketiga dalam keluarga. Dua anak sebelumnya laki-laki, dan ibunya berharap anak berikutnya seorang perempuan.
Anak yang lahir tetap laki-laki.
Masa kecil Brudos dipenuhi hinaan dan kritik dari ibunya. Ia sering dibiarkan sendirian. Di usia lima tahun, ia menemukan sepasang sepatu hak tinggi perempuan di tumpukan sampah tidak jauh dari rumah. Sepatu tersebut dibawanya pulang.
Suatu hari ibunya memergokinya sedang mengenakan sepatu tersebut di kamar. Kemarahan sang ibu begitu keras sehingga pengalaman itu melekat dalam ingatan Brudos. Ketertarikannya pada sepatu perempuan justru tidak hilang.
Ia pernah mencuri sepatu milik guru taman kanak-kanaknya dari atas meja dan mendapat teguran. Ketika bertambah besar, koleksinya bertambah pula. Sepatu perempuan ia simpan. Pakaian dalam perempuan yang dicurinya dari rumah tetangga ia sembunyikan dari ibunya. Bra, celana dalam, pakaian perempuan.
Benda-benda tersebut memberi Brudos rasa nyaman sekaligus rangsangan seksual.
Pada usia 17 tahun, perilakunya menjadi lebih berbahaya. Ia membawa pisau dan memaksa perempuan-perempuan muda seusianya menanggalkan pakaian agar dapat memotret mereka. Salah seorang perempuan bahkan dipukul. Keluarganya kemudian membawa Brudos ke Oregon State Hospital untuk menjalani perawatan, meskipun ia tetap bersekolah.
Para dokter yang menanganinya menemukan kebencian terhadap ibunya dan perempuan pada umumnya. Mereka juga mengetahui koleksi pakaian perempuan yang selama ini disimpannya. Fantasi seksual Brudos, menurut hasil pemeriksaan tersebut, berkaitan dengan kemarahan dan kebenciannya terhadap ibunya.
Brudos sempat masuk militer. Masa dinasnya tidak berlangsung lama.
Setelah keluar, ia bekerja sebagai teknisi listrik. Pada usia 22 tahun, ia bertemu Darcie, seorang gadis pemalu berusia 17 tahun. Mereka menikah dan memiliki dua anak.
Darcie menurut pada banyak kehendak suaminya. Di rumah, ia diminta tidak mengenakan pakaian. Bengkel Brudos tidak boleh dimasukinya. Loteng juga menjadi tempat yang tidak boleh disentuh. Darcie tidak tahu bahwa suaminya kerap keluar rumah pada malam hari untuk mencuri pakaian dalam dari rumah tetangga. Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya disimpan Brudos.
Sampai suatu hari Darcie melihat suaminya berjalan mengenakan pakaian dalam perempuan.
Ia terkejut.
Brudos justru tampak kecewa karena istrinya tidak memahami dirinya. Setelah kejadian tersebut, hubungan keduanya semakin renggang.
Pada kesempatan lain, Darcie menemukan benda-benda rumah tangga yang dibentuk menyerupai payudara perempuan. Brudos punya penjelasan sendiri mengenai benda tersebut. Darcie tidak tahu harus berbuat apa. Ia memilih menyimpan kebingungannya, seperti ketika sebelumnya ia menemukan foto-foto perempuan telanjang yang dikumpulkan suaminya.
Di rumah tersebut, tanda-tanda mengenai kehidupan rahasia Brudos sudah ada. Tapi tidak seorang pun menghubungkannya dengan perempuan-perempuan yang hilang.
Tanggal-Tanggal yang Mulai Berkaitan
Jim Stovall dan Gene Daugherty kemudian mencocokkan kegiatan Brudos dengan waktu hilangnya para korban.
Pada Januari 1968, Brudos tinggal di sebelah rumah Linda Slawson.
Sekitar Agustus atau September tahun tersebut, ia pindah ke Salem dan bekerja di Lebanon, Oregon. Jan Whitney menghilang pada November.
Ketika Karen Sprinker hilang dari pusat perbelanjaan pada Maret 1969, Brudos tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Polisi mendatangi bengkel Brudos. Mereka menemukan banyak tali nilon. Temuan tersebut belum cukup untuk menangkapnya. Tali semacam itu dapat dimiliki banyak orang, terlebih seseorang yang bekerja sebagai teknisi listrik. Tubuh Brudos juga tidak tampak seperti tubuh lelaki yang sanggup mengangkat mayat sekaligus membawa pemberat dari komponen kendaraan.
Penampilan tidak selalu memberi jawaban.
Brudos mengaku pernah meminjam sebuah mobil sport. Polisi meminta sampel tali dari bengkelnya dan Brudos memberikannya. Setelah mereka pergi, ia menelepon pengacaranya, Dale Drake, dan meminta Drake mencari tahu mengapa polisi tertarik kepadanya.
Penyidik terus mencari.
Mereka akhirnya memperoleh surat perintah untuk menggeledah mobil Brudos. Bagian dalam mobil sudah dibersihkan. Seluruhnya.
Ketika polisi menunjukkan foto seorang perempuan yang sedang dipaksa masuk ke mobil oleh laki-laki dengan ciri-ciri yang menyerupai Brudos, keadaan menjadi semakin sulit baginya. Senjata yang ditemukan di dalam mobil juga menambah bukti.
Polisi sebenarnya masih menginginkan perkara yang lebih kokoh. Mereka takut Brudos panik dan melarikan diri jika mengetahui penyelidikan sudah terlalu dekat.
Suatu hari Brudos pergi ke Portland bersama Darcie. Polisi mengikuti mobil mereka.
Pada 30 Mei 1969, Jerome Brudos ditangkap.
Pemeriksaan berlangsung beberapa kali. Pengacaranya sudah memperingatkan agar ia diam, tetapi Brudos tetap berbicara. Pada akhirnya ia mengaku melakukan pembunuhan.
Ia menceritakan koleksi sepatu, bra, celana dalam, dan pakaian perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupannya. Ketika sampai pada benda-benda tersebut, perubahan gairah seksualnya tampak jelas di hadapan penyidik.
Dari pengakuannya, polisi mengetahui bahwa empat perempuan telah dibunuh antara Januari 1968 dan April 1969.
Linda Slawson dibunuh di bengkel ketika Darcie dan anak-anak mereka berada di rumah utama. Brudos bahkan sempat berbicara kepada keluarganya sementara tubuh Linda tergeletak di lantai bengkel.
Kaki Linda dipotong dan disimpan Brudos untuk dipakaikan sepatu. Dua korban lain mengalami mutilasi pada payudara. Brudos juga melakukan hubungan seksual dengan jenazah para korbannya.
Setelah pengakuan tersebut, polisi menggeledah rumah dan bengkelnya. Mereka menemukan tali nilon yang dipakai untuk mengikat tubuh, sebuah kerekan yang menurut Brudos digunakan untuk menggantung salah satu korban, serta lemari berisi sepatu dalam berbagai ukuran.
Bra, korset, celana dalam, pakaian dalam perempuan lainnya di tempat yang sama, terdapat pula kumpulan foto. Beberapa memperlihatkan Brudos mengenakan pakaian perempuan. Sebagian besar memperlihatkan para korbannya.
Pada 4 Juni 1969, Jerome Brudos didakwa atas pembunuhan Jan Whitney dan Linda Salee. Tujuh psikiater kemudian memeriksanya untuk menentukan kondisi kejiwaannya.
Hasil pemeriksaan menyatakan Brudos memiliki kepribadian antisosial, tetapi secara hukum tidak dianggap gila.
Di pengadilan, ia mengaku bersalah atas pembunuhan Jan Whitney, Karen Sprinker, dan Linda Salee.
Tiga hukuman penjara seumur hidup dijatuhkan kepadanya.