Sesudah Subuh, anak-anak keluar dari Masjid Spadem seperti air yang baru dilepas dari bendungan kecil.
Masih gelap, tapi bukan gelap malam lagi. Langit mulai pucat. Jalan di depan masjid dingin. Sandal-sandal menyentuh tanah dan aspal dengan suara ringan. Anak-anak yang beberapa menit sebelumnya masih mengantuk di saf, tiba-tiba sudah berdiri di pinggir jalan, saling tunggu, saling panggil.
“Ayo, tong jalan kah?”
Tidak ada ketua rombongan. Tidak ada rute yang disepakati. Begitu satu dua anak mulai melangkah, yang lain ikut. Dari Spadem, kami berjalan ke arah kota, dengan perut masih penuh sahur dan mulut masih menyimpan sisa manis Ovaltine.
Waktu saya kecil di Merauke, Ramadan juga berarti libur panjang.
Kalau tidak salah, waktu SD liburnya hampir sebulan penuh, baru masuk lagi beberapa hari setelah Lebaran. Pagi yang biasanya dipakai untuk mandi buru-buru, pakai seragam, sarapan, lalu berangkat ke sekolah, tiba-tiba menjadi waktu kosong.
Dan waktu kosong berarti bisa dipakai main.
Tapi sebelum semua itu, kami harus sahur dulu.
Sahur adalah perjuangan pertama setiap hari. Mama bangun paling awal, menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu satu per satu kami dibangunkan. Tidak selalu mudah. Suara Mama kadang terdengar jauh sekali, seperti datang dari tempat lain.
“Ade, bangun. Sahur.”
Saya biasanya menjawab tanpa membuka mata.
“Iya, Ma…”
Badan tetap tidak bergerak.
Mama datang lagi.
“Ade, bangun sudah. Nanti tra sempat makan, sedikit lagi imsak tu.”
Saya duduk sebentar, lalu rebah lagi. Kadang saya sudah sampai di meja makan, tapi kepala masih jatuh-jatuh. Mata belum betul-betul terbuka. Piring, nasi, lauk di depan. Tubuh rasanya masih tertinggal di kasur.
Kalau sudah begitu, Mama mengambil air dan memercikkannya ke wajah saya.
Mata langsung terang.
Saya tidak sempat marah. Hanya kaget. Seperti nyawa yang tadi tercecer tiba-tiba terkumpul lagi.
Sesudah makan sahur, Mama biasanya menyuruh kami minum Ovaltine atau susu coklat. Katanya supaya kuat puasa.
Saya percaya saja. Anak-anak selalu senang kalau minuman manis diberi alasan kesehatan.
Di rumah saat sahur, radio RRI Merauke menyala. Waktu itu belum ada FM seperti sekarang. Kami mendengar radio AM. Kadang ada juga SW, yang bisa menangkap siaran jauh, bahkan dari Australia, meskipun suaranya timbul tenggelam seperti orang bicara dari balik hujan.
Menjelang imsak, RRI menyiarkan niat puasa. Lalu sirine imsak berbunyi panjang.
Rumah mulai bergerak lagi. Piring dibawa ke dapur. Gelas diletakkan. Mama membereskan sisa sahur. Kami bersiap ke masjid. Di luar, langit masih gelap, tapi tidak menakutkan. Gelap yang sudah hampir pagi.
Masjid Spadem tidak jauh dari rumah. Kami berjalan ke sana untuk sholat Subuh. Jalan masih sepi. Udara dingin. Rumah-rumah belum banyak menyala. Ada suara sandal di jalan, suara anak-anak memanggil teman, suara orang dewasa berjalan pelan ke masjid.
Di masjid, anak-anak mulai berkumpul.
Ada yang masih mengantuk dengan mata yang merah. Baru datang langsung mencari tempat dekat teman. Tapi begitu sholat Subuh selesai, kantuk seperti hilang.
Bagian paling seru baru mulai.
Jalan-jalan subuh.
Tidak ada panitia yang mengumumkan rute hari ini. Anak-anak keluar masjid, lalu menunggu di pinggir jalan. Satu dua orang datang. Rombongan membesar. Kalau sudah cukup ramai, ada saja yang mulai jalan.
“Tempo sudah!”
Lalu kami ikut.
Dari Spadem, kami berjalan ke arah kota. Biasanya sampai Amanah Agung. Lanjut ke Jl. Ahmad Yani. Lewat belakang RRI. Tembus Jl. Martadinata. Masuk ke Jl. PGT. Lalu kembali lagi ke rumah.
Untuk anak-anak yang sedang puasa, rute itu sebenarnya jauh juga. Tapi waktu itu kami merasa biasa saja. Perut masih penuh sahur. Ovaltine masih manis di mulut. Matahari belum naik. Tenaga belum dipakai untuk apa-apa.
Kami berjalan ramai-ramai, kadang sampai memenuhi pinggir jalan.
Tidak ada tujuan penting, yang penting bisa mengisi waktu karena pulang langsung ke rumah rasanya terlalu cepat.
Sepanjang jalan, kami bicara apa saja. Mulai dari permainan nanti pagi, anak kompleks yang tidak sahur, hingga kasak-kusuk tentang siapa yang kemarin tepergok batal puasa dan ketahuan minum.
“Ko puasa ka tidak?”
“Puasa to.”
“Ah, ko su bore ni. Kemarin sa lihat ko minum es.”
“Itu sa lupa ya!”
Lupa adalah pembelaan penting di bulan Ramadan.
Saya pernah betul-betul lupa sedang puasa. Siang hari, setelah main, saya membuka kulkas dan minum air es. Baru beberapa teguk, Mama melihat.
“Eh, ko puasa, Dek. Kenapa minum?”
Saya langsung berhenti. Kaget. Rasa bersalah datang menampar. Saya hampir menangis.
Mama bilang, kalau lupa tidak batal. Tapi air yang sudah masuk ke tenggorokan tetap terasa seperti bukti bahwa saya kurang kuat.
Padahal hanya lupa.
Di jalan-jalan subuh, cerita seperti itu bisa menjadi bahan tertawa. Anak yang kemarin sedih karena tidak sengaja minum, hari ini bisa jadi bahan olok-olok di jalan.
Tapi tidak ada yang betul-betul jahat. Semua pernah mengantuk waktu sahur. Semua pernah lemas sebelum Dzuhur. Semua pernah merasa jam sepuluh pagi seperti sudah jam dua siang.
Pagi Merauke di bulan Puasa terasa lain.
Jalan-jalan yang biasanya dipakai mobil, sepeda, taksi, dan orang berangkat kerja, untuk sebentar dipenuhi anak-anak. Udara belum panas. Debu belum naik. Toko-toko belum semuanya buka. Kota belum mulai sibuk.
Kami melewati rumah-rumah yang masih tertutup, pagar-pagar, pohon mangga, selokan, lapangan, kantor-kantor, bangunan yang kalau siang terasa biasa saja, tapi pagi itu tampak seperti bagian dari perjalanan.
Amanah Agung menjadi tanda: kami sudah cukup jauh.
Jl. Ahmad Yani menjadi jalan besar yang bisa kami lewati ramai-ramai sebelum kota benar-benar bangun.
Belakang RRI terasa dekat dengan suara sahur yang tadi kami dengar dari rumah.
Jl. PGT menjadi tanda bahwa perjalanan mulai selesai.
Lalu matahari naik pelan-pelan.
Langit yang tadi abu-abu mulai terang. Orang-orang mulai keluar rumah untuk membuka pintu, menyapu halaman, atau mengayuh sepeda. Sesekali orang dewasa melihat rombongan kami, mungkin heran melihat anak-anak puasa berjalan sejauh itu pagi-pagi.
Tidak ada yang melarang.
Setelah pulang dari jalan-jalan subuh, kami masih main.
Main gambar, kelereng, bulutangkis. Permainan apa saja yang sedang ramai. Selama tenaga masih ada, kami tidak merasa perlu berhenti.
Sekitar jam sembilan, badan mulai memberi tanda.
Mulut kering. Perut mulai kosong. Matahari mulai panas. Suara anak-anak berkurang. Yang tadi paling banyak bicara mulai soak. Yang tadi lari-lari mulai mencari tempat sombar.
Jam sepuluh, semua berubah.
Ramadan yang sejak Subuh terasa seperti liburan tiba-tiba menunjukkan bentuk lainnya: lapar, haus, dan waktu yang berjalan pelan sekali.
Di situ kami mulai pulang ke rumah masing-masing.
Saya mandi. Setelah mandi langsung tidur. Tidur panjang sampai siang, kadang lewat Dzuhur. Kalau bangun, mulut kering, badan lemas, dan Magrib masih jauh.
Bagian berat dari puasa bukan pagi. Pagi masih punya sisa tenaga sahur, masih ada teman, masih ada jalan-jalan subuh. Yang berat adalah tengah hari, ketika permainan selesai dan waktu seperti berhenti.
Sore barulah semuanya membaik.
Setelah Ashar, hawa mulai turun sedikit. Badan yang tadi lemas seperti hidup lagi. Perut tetap kosong, tapi waktu buka makin dekat. Di dapur, Mama mulai menyiapkan buka puasa. Menunya berganti-ganti setiap hari. Dari es kopyor, kolak, pallu butung, candil, bubur kacang hijau campur ketan hitam, dadar gulung isi unti dengan kuah santan samapi es kelapa muda.
Di meja selalu ada sirup cocopandan. Itu minuman wajib di rumah kami.
Menjelang Magrib, radio kembali menyala. Kami menunggu ceramah selesai, menunggu doa buka puasa dibaca, menunggu bagian yang selalu kami tunggu.
Begitu terdengar “Yaa Kariim,” Bapa biasanya langsung berseru dari tempatnya:
“Su Karim! Su Karim!”
Itu tanda bahwa sebentar lagi sirine buka puasa berbunyi.
Satu hari Ramadan bisa berubah berkali-kali.
Sahur yang mengantuk. RRI yang suaranya kresek-kresek karena arah antena kurang pas. Ovaltine yang manis. Subuh di Masjid Spadem. Jalan kaki sampai jauh. Main pagi sampai lemas. Tidur siang. Lalu sore yang pelan-pelan menjadi normal lagi.
Tapi dari semua itu, yang paling sering saya ingat justru jalan-jalan setelah Subuh.
Anak-anak keluar dari Masjid Spadem. Sandal-sandal menyentuh jalan. Langit masih pucat. Perut masih hangat oleh sahur. Kami berjalan tanpa tujuan, merasa semua jalan bisa dilewati asal ramai-ramai.
Dari Spadem ke Amanah Agung. Ke Ahmad Yani. Ke belakang RRI. Ke Martadinata. Ke PGT. Lalu pulang.
Tidak ada yang kami cari.
Kami hanya anak-anak yang baru selesai sahur, terlalu penuh tenaga untuk langsung pulang.
Di jalan pulang, matahari mulai naik. Suara sandal tidak seringan waktu berangkat. Ovaltine sudah hilang dari mulut. Tapi rombongan masih ramai, dan rumah masih bisa ditunda sedikit lagi.

Leave a Reply