Hari Rabu pagi saya berangkat lebih awal.
Kantor pos di depan SMP Negeri 2 belum buka. Pintu besinya masih tertutup. Saya menggenggam sebuah amplop yang sudah ditempeli prangko lima ratus rupiah.
Di dinding depan ada celah persegi panjang.
Saya memasukkan amplop itu sampai hilang seluruhnya.
Bel sekolah terdengar.
Saya berlari.
Hari Minggu.
Pukul sebelas kurang sedikit saya sudah duduk di depan radio Sharp di meja belajar.
Tombol tuning saya putar pelan-pelan.
Jarum merah bergeser di balik kaca buram.
Angka-angkanya tipis, susah dibaca.
Desis panjang.
Saya putar terus.
103.
Bzzzz… kreeeettt… bzzz…
Antena saya tarik penuh, saya condongkan ke arah jendela.
Desisnya berkurang, kreseknya sudah tidak terdengar.
Jari saya berhenti . Jarum jam dinding berdetak, satu, dua, tiga.
Saya geser lagi, maju sedikit.
Suara mulai jernih.
“…Radio Fritta, seratus tiga koma lima FM…”
Pas.
Kaset BASF sudah berada di dalamnya.
Saya memutar kaset itu sampai tepat di ujung rekaman minggu lalu.
Sedikit kelewatan.
Saya rewind.
Pas.
Kaca nako terbuka sedikit.
Udara malam masuk bersama bau kasim-kasim dari tanah kosong.
Dari kamar Bapa terdengar dengkur yang panjang. Jarum jam dinding berdetak pelan. Di luar, jangkrik dan kodok bersahutan.
Kenny G memenuhi kamar.
Pintu terbuka.
“Belum tidur kah, De?”
“Belum.”
“Mau sekolah besok to?”
“Iya.”
Kenny G terus mengalun.
Pelan-pelan volumenya turun.
“…lamat malam… kita bertemu lagi dalam Bisikan Kalbu.”
Kata pertama selalu terpotong.
“Puisi pertama malam ini…”
Bukan.
Musik kembali memenuhi kamar.
Dengkur Bapa belum berubah.
Kenny G mengecil lagi.
“Puisi berikut…”
Bukan juga. Itu puisi saya sendiri.
Saya rewind kaset itu sampai kembali ke ujung rekaman.
Seekor anjing menggonggong dari arah rumah Om Abe. Dari arah yang lebih jauh terdengar sahutan anjing lain.
Kreeek.
“Iya, sedikit lagi. Su mau habis ni.”
Mama mengangguk pelan dan menutup pintu kembali.
Kenny G terus mengalun.
Perlahan volumenya turun lagi.
Jari saya menekan tombol RECORD.
“Puisi berikut ini kiriman…”
Mas Ade diam sebentar.
Hanya sebentar.
“Rumah Putih Martadinata…”
“…Buat kamu di Spadem.”
Lewat tengah malam saya memutar ulang kaset itu.
Saya mencari bagian yang baru saja terekam.
Sedikit kelewatan.
Saya rewind.
Suara Mas Ade muncul lagi.
“Martadinata.”
Sedikit lagi.
“Rumah Putih…”
Pas.
Kaset saya keluarkan.
Di label putih bergaris itu saya menulis dengan sangat hati-hati.
10 April 1994 – Sampul Merah Jambu
Saya meniup tinta bolpoinnya.
Kotak kaset saya tutup.
Lampu kamar saya matikan.