Siang itu, Bapa tidak membuka pintu. Ia berdiri diam di balik gorden, mengintip dari celah kain.
Di luar, seorang laki-laki berdiri di teras rumah kami. Bukan wajah yang sering saya lihat. Tapi saya tahu, ia pernah datang sebelumnya membawa hiasan dinding.
Hiasan itu terbuat dari kayu atau bahan yang dibuat menyerupai kayu. Bentuknya seperti pajangan rumah tangga yang waktu itu sering ditawarkan dari pintu ke pintu. Ada ukiran, ada warna mengilap, ada kesan “bagus” yang dipaksakan. Benda itu tidak terlalu kami butuhkan. Mungkin juga tidak betul-betul cocok dengan rumah kami.
Tapi beberapa bulan sebelumnya, Bapa membelinya.
Bapa membelinya murni karena tidak sanggup menolak, bukan karena ia sedang mencari hiasan dinding, bukan pula atas permintaan Mama atau karena rumah kami kekurangan pajangan.
Penjual itu bicara lama di teras. Menjelaskan barangnya, memuji mutunya, menurunkan harga sedikit, menaikkan lagi dengan alasan lain, lalu menatap Bapa seperti orang yang berharap pintu rezekinya tidak ditutup. Bapa mendengar. Mengangguk. Tersenyum kecil. Sesekali berkata pelan sambil mengangguk-angguk.
“Iya, iya.”
Saya tidak tahu apakah Bapa percaya semua kata-kata penjual itu. Saya bahkan curiga, jauh di dalam hati, ia tahu barang itu terlalu mahal. Tapi tahu tidak selalu berarti bisa berkata tidak.
Akhirnya hiasan itu masuk ke rumah.
Mama melihatnya. “Bapa beli ini?”
Bapa tersenyum. Senyum yang lebih mirip permintaan maaf daripada kebanggaan membeli sesuatu. “Iya. Kasihan juga. De datang dari Jawa, jauh sekali.”
Mama memegang hiasan itu, melihat sebentar, lalu menoleh ke Bapa. “Berapa?”
Bapa menyebut harga.
Mama menghela napas. “Aduh, Bapa ni. Barang begini de pu harga tra sampe segitu. Terlalu mahal tu.”
Bapa tidak membantah. Ia jarang membantah Mama dalam urusan seperti itu. Ia hanya tertawa kecil, lalu mencari tempat untuk menggantung pajangan itu, seolah-olah kalau benda itu sudah tergantung, urusan selesai.
Nyatanya tidak.
Beberapa bulan kemudian, laki-laki itu datang lagi.
Tidak ada Mama di rumah. Sepertinya ia sedang ke pasar, ke rumah tetangga, atau keluar sebentar. Yang jelas, di rumah hanya ada Bapa dan kami anak-anak. Rumah siang hari biasanya terang dari jendela depan. Lantai masih dingin. Suara dari luar menyelinap samar-samar: ayam, motor lewat, orang memanggil dari jauh.
Lalu terdengar suara di depan rumah. “Permisi!”
Bapa melihat dari dalam.
Ia mengenali orang itu.
Penjual hiasan dinding.
Bapa tidak bergerak ke pintu.
Ia malah melangkah pelan ke dekat jendela, berdiri di balik gorden, lalu mengintip. Gorden itu bergerak sedikit. Tidak banyak. Cukup untuk satu mata.
Saya melihat Bapa dari dalam rumah.
Seorang laki-laki dewasa, kepala keluarga, ketua RT, orang yang biasa mengurus proyek, orang yang dikenal banyak tetangga, sedang bersembunyi dari penjual keliling di balik gorden rumah sendiri.
Saya ingin tertawa, tapi juga bingung.
“Bapa, itu ada orang panggil.”
Bapa menoleh cepat, menaruh jari di bibir. “Ssst…”
Di luar, suara itu datang lagi. “Permisi! Pak!”
Bapa tetap diam.
Ia mengintip lagi.
Saya berdiri tidak jauh dari Bapa. Dari celah gorden, laki-laki itu masih tampak di teras. Di tangannya ada sesuatu, entah barang dagangan, tas, atau bungkusan. Ia menunggu sebentar, menoleh ke halaman, lalu mengetuk pintu lagi. Bapa mundur sedikit, seperti orang yang takut ketahuan bernapas.
Tidak ada suara dari dalam rumah.
Laki-laki itu berdiri beberapa saat, lalu pergi.
Baru setelah suara langkah menjauh, Bapa bernapas lega. Ia membuka sedikit gorden, memastikan halaman kosong, lalu tersenyum dengan wajah orang yang baru lolos dari bahaya.
“Su pigi?”
Saya mengangguk.
Bapa tertawa pelan.
Tidak ada kemenangan besar di situ. Hanya seorang lelaki yang berhasil tidak membeli hiasan dinding kedua.
Waktu kecil, saya menganggap itu lucu.
Bapa yang keren, Bapa yang jago mengendarai mobil, Bapa yang bisa menggambar denah bangunan di kertas kalkir, Bapa yang punya alat-alat tukang, Bapa yang berwibawa di depan orang kerja dan kenalan AURI, ternyata bisa takut mengeluarkan satu kalimat sederhana: tidak usah, terima kasih.
Di rumah kami, Mama punya kalimat itu.
Ia bisa mengatakannya dengan mudah.
Kalau penjual datang membawa barang yang tidak perlu, Mama tidak perlu bersembunyi. Ia membuka pintu, melihat barangnya, lalu berkata, “Tra usah, Mas. Kami belum perlu.”
Atau, “Tidak dulu ya, terima kasih.”
Kalau orang itu terlalu memaksa, Mama punya cara lain. “Aduh, maaf. Kita lagi trada uang.”
Suaranya tidak kasar. Tidak ketus. Tapi tegas. Pintunya jelas tertutup.
Bapa berbeda.
Bapa bisa membangun rumah, tapi kesulitan membangun pagar kecil di depan dirinya sendiri. Orang datang meminta tolong, ia sabar mendengar. Orang meminjam uang, ia merasa tidak enak menolak. Orang menjual barang, ia takut membuat orang itu kecewa. Kalau barang sudah terlanjur dibeli, ia menerima akibatnya dengan senyum kecil.
Banyak hal di rumah kami berjalan karena Mama tahu kapan harus berkata cukup.
Bapa tahu cara bersabar.
Mama tahu cara membatasi.
Mungkin itu sebabnya rumah terasa utuh: satu orang terlalu lembut, satu orang menjaga tepiannya.
Waktu kecil, saya hanya melihat Bapa sebagai orang yang paling sabar di dunia. Ia tidak pernah marah. Tidak pernah membentak apalagi memukul. Kalau kami nakal, biasanya Mama yang turun tangan. Bapa lebih sering menjadi tempat kami mencari aman setelah dimarahi.
Maka kejadian gorden itu menempel lama dalam ingatan saya.
Ada yang lucu dari cara Bapa bersembunyi. Ada juga sesuatu yang lain, yang baru saya pahami jauh kemudian.
Bapa bukan tidak tahu dirinya sedang dimanfaatkan.
Ia tahu.
Dalam beberapa hal, ia bahkan tahu lebih cepat daripada kami. Ia bisa membaca orang. Ia bisa melihat barang terlalu mahal. Ia bisa mengerti permintaan yang berlebihan. Tapi setelah mengetahui itu, ia masih harus melewati satu pintu lagi: mengatakan tidak.
Di pintu itulah ia sering tertahan.
Saya pernah melihat pola itu berulang.
Ada orang datang meminjam uang. Bapa memberi. Setelah lama tidak dikembalikan, ia tidak menagih. Kalau Mama bertanya, Bapa menjawab pelan, “Nanti de bayar.”
“Kapan?”
Bapa mengangkat bahu. “Kasih waktu dulu.”
“Waktu” itu sering menjadi panjang.
Mama bisa kesal.
“Kalau semua dikasih waktu terus, nanti Bapa yang susah sendiri.”
Bapa diam. Bukan karena ia tidak setuju. Diamnya Bapa kadang seperti tempat ia menyimpan semua kalimat yang tidak sanggup ia keluarkan.
Pernah juga ada seorang perempuan yang sering datang meminta makan. Di Merauke, orang-orang mengenalnya. Semua orang bilang ia tidak benar-benar seperti pengemis yang tidak punya apa-apa. Semua orang bilang ia sudah terbiasa meminta dari rumah ke rumah. Dasternya lusuh, menggendong buntalan dari kain sarung. Ia semacam legenda kecil di Merauke. Saya tidak tahu kebenarannya. Saya hanya menerima cerita orang-orang sebagai potongan kabar.
Suatu hari ia datang ke rumah.
Bapa mengambilkan nasi dan ikan.
Perempuan itu duduk di teras, lalu melihat piringnya.
“Trada sayur kah? Sa tra biasa makan kering begini.”
Kalau Mama yang mendengar, mungkin jawabannya lain. Tapi hari itu Bapa yang melayani. Ia masuk lagi ke rumah, mengambil sayur dari meja makan kami, lalu menambahkan ke piring perempuan itu.
Saya melihat saja.
Ada rasa kasihan. Ada rasa jengkel. Dua-duanya bercampur. Kami bukan keluarga yang kekurangan makan, tapi sayur di meja juga bukan sesuatu yang muncul sendiri. Mama yang belanja. Mama yang memasak. Semua sudah dibagi untuk makan malam.
Bapa memberi dengan wajah tenang.
Perempuan itu makan di teras.
Bapa menunggu piringnya.
Setelah ia selesai, Bapa mengambil piring itu dan membawanya ke belakang.
Waktu kecil, saya tidak bisa menamai perasaan saya. Saya hanya tahu Bapa baik. Terlalu baik. Begitu kata orang. Tapi “terlalu baik” kadang membuat orang lain nyaman melewati batas.
Bertahun-tahun kemudian, saya mulai mengenali gerak yang sama dalam diri saya.
Saya bisa tahu ketika sesuatu terasa tidak adil. Saya bisa tahu ketika seseorang terlalu memaksa. Saya bisa menyusun jawaban tegas setelah semuanya selesai.
Tapi saat orangnya masih berdiri di depan saya, mulut sering lebih dulu diam.
Setelah orang pergi, barulah kalimat-kalimat datang. Terlambat. Rapi. Berani. Tidak berguna lagi.
Mungkin karena itu saya selalu ingat Bapa di balik gorden. Bukan hanya karena adegannya lucu. Tapi karena saya tahu, dalam hidup saya sendiri, ada banyak pintu yang tidak jadi saya tutup.
Bapa mengajarkan banyak hal baik kepada saya. Kesabaran. Ketenangan. Hati-hati. Tidak menyakiti orang. Tidak mempermalukan orang di depan orang lain. Semua itu masih saya syukuri.
Tapi saya juga melihat sesuatu dari dirinya: tidak semua orang berhenti di teras. Ada yang masuk sampai ke meja makan kalau pintu selalu dibuka.
Kalau saya mengingat siang itu sambil tertawa, tawa itu tidak pernah jauh dari rasa sayang.
Saya masih melihat Bapa berdiri di balik gorden, mengintip penjual hiasan dinding, lalu bertanya seperti anak kecil, “De su pigi kah?”
Saya juga masih bisa membayangkan Mama kalau ia ada di rumah hari itu. Mungkin ia membuka pintu tanpa banyak drama.
“Tidak dulu, terima kasih. Kami tra beli.”
Selesai.
Bapa butuh seluruh strategi persembunyian untuk sampai pada hasil yang sama.
Di ruang tamu, hiasan pertama masih tergantung.
Mengilap.
Sedikit tidak cocok.
Terlalu mahal.
Tapi yang lebih jelas dalam ingatan saya bukan hiasan itu.
Yang lebih jelas adalah gorden yang bergerak sedikit, dan Bapa yang berbisik dari balik kain, “De su pigi kah?”