Abu Naik di Lapangan Jawa

Begitu sandal kami dilepas di teras, Mama langsung tahu kami baru pulang dari Lapangan Jawa.

Debu halus menempel sampai ke sela-sela jari kaki. Betis, celana, bahkan leher ikut berdebu. Kalau angin dari arah Pantai Lampu Satu sedang kencang, debu itu naik lebih tinggi lagi lalu menempel di kulit yang berkeringat. Sekali berjalan mengelilingi lapangan itu saja, sandal bisa hilang warna aslinya.

Setiap awal Oktober, semua orang menuju Lapangan Jawa.

Sebenarnya itu lapangan bola. Rumputnya tidak pernah penuh menutupi tanah. Di sana-sini masih terlihat hamparan pasir halus. Kalau ratusan orang berjalan mondar-mandir selama seminggu penuh, pasir itu ikut beterbangan bersama langkah kaki.

Awal Oktober, lapangan itu berubah menjadi Pameran Pembangunan.

Stand-stand pemerintah mengelilingi lapangan. Ada sekolah, dinas, departemen, permainan, sampai kuliner. Di tengah lapangan berdiri panggung hiburan. Dari sana lagu, pembacaan puisi, tari-tarian, sampai pengumuman bergantian terdengar hampir tanpa jeda. Kadang ada anak yang terpisah dari orang tuanya. Kadang pemenang kuis dari salah satu stand.

Di luar area pameran, penjual kaki lima berjejer. Bau sate Madura bercampur dengan jagung yang dibakar di atas arang tempurung kelapa. Lampu petromaks mereka tidak terlalu terang, tapi justru itu yang membuat suasananya berbeda dengan malam-malam biasa di Merauke.

Sekolah memberi kami tugas untuk datang ke pameran. Kami harus mencari informasi dari berbagai stand. Tidak ada daftar pertanyaan. Kami sendiri yang harus menggali informasi.

Di stand STM kami bertanya jurusan apa saja yang ada di sana. Di stand Pemadam Kebakaran kami sibuk melihat baju tahan api dan peralatan mereka. Di stand BKKBN kami mulai mendengar istilah-istilah yang waktu itu masih terdengar asing. Kalau beruntung, kami pulang membawa brosur. Kalau tidak, kami mencatat sendiri hasil obrolan dengan petugas stand.

Tidak ada anak SMP yang datang ke sana semata-mata untuk mengerjakan tugas.

Kami lebih dulu mencari stand SMP Negeri 2.

Teman-teman yang sedang mendapat giliran jaga stand pasti kami ganggu. Setelah itu kami berkeliling lagi, masuk ke stand SMP lain, lalu ke stand SMA. Kami mulai melihat-lihat sekolah mana yang ingin kami masuki setelah lulus nanti.

Paling tidak, begitu niat awal kami.

Pernah ada masa ketika langkah saya selalu melambat di depan stand Departemen Koperasi.

Saya tidak berani masuk. Paling jauh hanya berdiri beberapa meter dari pintu. Ade, Syamsul, atau Trisno yang masuk lebih dulu.

“Ada.”

Atau,

Tra ada.”

Kalau Fanda sedang menemani bapaknya di dalam stand, saya cukup melihat dari luar. Rasanya itu sudah cukup.

Tahun berikutnya tujuan saya berpindah ke stand RRI.

Bukan karena radionya.

Titin biasanya ikut bapaknya yang sedang mengecek pegawai di sana. Stand RRI selalu ramai. Mereka menyiarkan acara PILPEN langsung dari lokasi pameran. Orang yang mendengarkan radio di rumah tetap bisa mengikuti siaran yang berasal dari sebuah meja kecil di tengah stand itu.

Kalau melihat saya datang, Titin biasanya keluar.

Paling lama lima belas menit.

Kami berjalan ke belakang stand mencari penjual jagung bakar.

Jagungnya dibakar di atas arang tempurung kelapa, hanya dioles mentega. Tidak perlu macam-macam. Jagungnya memang sudah manis. Kalau mau pedas, tinggal minta garam dan lombok yang dibungkus di secarik kertas.

Kami lebih sering memakannya sambil berdiri.

Kalau sambil berjalan, debunya terlalu banyak.

Pernah sekali Titin jongkok di belakang stand sambil memegang jagungnya.

“Tin, jangan jongkok di situ.”

“Kenapa? Ini bukan jalan.”

“Memang bukan. Takutnya ko jongkok-jongkok nanti malah kentut.”

Dia langsung tertawa sampai jagung di tangannya hampir jatuh.

Jam sembilan malam biasanya kami mulai pulang.

Taksi mulai sulit dicari. Apalagi malam terakhir pameran. Kami memang sudah sepakat akan berjalan kaki saja.

Enam kilometer.

Supaya puas.

Supaya tidak menyesal harus menunggu setahun lagi.

Perjalanan pulang sering lebih seru daripada pamerannya.

Kadang kami tiba-tiba sprint menuju zebra cross yang dijadikan garis finis dadakan. Habis tertawa, kami berjalan lagi seperti tidak terjadi apa-apa.

Kalau melewati rumah teman yang lampunya sudah padam, kami sengaja berteriak memanggil namanya. Di sepanjang jalan ada juga nama-nama lain yang selalu lebih dulu menyapa kami. Ogen. Kres. Paha. LINTAR. Kadang muncul juga LANKO, dengan huruf A yang ditulis terbalik. Rasanya hampir tidak ada tembok di Merauke yang belum mengenal nama-nama itu.

Pernah lewat depan rumah Bu Siregar, wali kelas Trisno.

“Ibu Guru! Ada Trisno ni!”

Trisno langsung panik. Pagi harinya dia bolos sekolah. Malamnya malah ikut jalan-jalan ke pameran.

Di Jalan Aru kami singgah makan bakso.

Mangkok ayam jago putih. Mie kuning, bihun, bakso, kuah panas. Ada yang menambah sambal sampai kuahnya merah. Saya tetap seperti biasa. Bakso dan kuah saja.

Sesudah itu perjalanan dilanjutkan lagi.

Satu per satu teman mulai berpisah.

Syamsul belok lebih dulu.

Trisno menyusul.

Yang lain juga menghilang ke jalan masing-masing.

Tinggal saya dan Ade.

Rumah kami memang paling jauh.

Sebelum sampai Spadem, kami harus melewati Kuburan Muli.

Kuburan Islam di kiri jalan. Kuburan Kristen di kanan. Keduanya hanya dipisahkan jalan raya dan pagar kawat duri. Pohon-pohon kamboja yang besar menaungi kedua kompleks itu. Bunganya berguguran sampai ke pinggir jalan.

Malam itu gelap sekali.

Lampu jalan belum sampai ke sana.

Dari jauh Ade sudah melepas sandalnya.

Sandal itu dipegang di kedua tangan.

Sepanjang jalan saya sengaja bercerita macam-macam tentang hantu Kuburan Muli.

Katanya pernah ada dua orang saling tembak dari dua arah kuburan.

Katanya ada perempuan berbaju putih.

Katanya…

Begitu sampai di depan Gereja Petra, saya pura-pura berlari.

Ade langsung ikut.

Saya baru beberapa langkah, lalu berhenti.

Saya duduk di aspal sambil tertawa.

Ade terus berlari.

Baru setelah cukup jauh dia menoleh.

Saya masih di belakang.

Dia ikut berhenti.

Lama.

Kepalanya menoleh ke depan.

Lalu ke belakang.

Akhirnya dia memilih berlari kembali ke arah saya.

Saya masih duduk di aspal, tidak sanggup berhenti tertawa.

Bagikan

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(