Atari, Keseruan yang Datang dan Pergi Diam-Diam

Jam sebelas kurang sedikit saya pulang sekolah. Pintu samping rumah, yang langsung tembus ke ruang tengah, sudah terbuka.

“Assalamualaikum!” saya mengucapkan salam seperti biasa.

Tidak ada yang menjawab. Tapi dari arah televisi terdengar suara yang belum pernah saya dengar. Bukan suara televisi yang biasa mengisi rumah kami. Bukan suara video player yang sering memutar film seri silat Cina.

Saya masuk. Sofa sudah bergeser mendekat ke televisi, meja ikut dimajukan. Bapa dan Mama duduk bersebelahan di depan TV Sony yang baru saja kami punya. Di tangan Bapa ada benda hitam kecil, jempol kirinya bergerak cepat di atasnya, sementara tangan kanannya mengendalikan tuas. Matanya lekat ke layar.

“Dapat!” Bapa berseru, lalu tertawa. Tawa yang jarang sekali saya dengar keluar dari mulut Bapa.

Di layar, seorang koboi memacu kuda mengejar hewan kecil yang bentuknya tidak jelas, entah rusa atau anjing.

Saya berdiri di depan pintu, tas sekolah masih di pundak, seragam belum sempat diganti. Di bawah televisi, di atas video player, ada mesin yang belum pernah saya lihat. Tulisannya jelas terbaca: ATARI 2600.

Rumah kami di Spadem, tempat kami berlima tinggal, Bapa, Mama, Kaka Lili, Kaka Ham, dan saya. Malam-malam sesudah makan, ruang tengah itu selalu jadi tempat kami berkumpul. Kalau tidak ada kaset film silat baru yang bisa ditonton, kartu remi keluar dari lacinya, kulitnya lecek karena terlalu sering dikocok. Kami bermain kartu Sambung Tulang. Keributan selalu muncul kalau ada yang dicurigai menyimpan kartu bagus terlalu lama. Kalau bosan main kartu, kami menggelar papan Scrabble di meja, huruf-huruf plastik dibagi rata dari kotak yang disimpan dalam kantong plastik hitam. Giliran Bapa mengambil huruf selalu lama, jarinya meraba-raba permukaan kotak plastik, mencari yang halus tanpa cetakan huruf, supaya dapat kotak kosong yang bisa dipakai sebagai pengganti huruf apa saja.

Mama membawa Atari itu dari Jayapura, oleh-oleh ketika Ia ke sana untuk rapat kerja. Bapa dan Mama sudah mencobanya lebih dulu, sebelum saya dan kakak-kakak pulang sekolah. Permainan baru, satu opsi lagi masuk ke daftar keseruan malam hari kami.

Malamnya, sesudah makan, kami main berlima. Joystick-nya cuma dua, jadi harus gantian. Bapa yang paling seru kalau sudah pegang stick. Setiap kali koboi di layar melontarkan tali laso, badannya ikut condong ke kiri. Kalau kudanya melompat rintangan, Bapa hampir berdiri dari duduknya, satu tangan masih memegang joystick, satu tangan lagi ikut terangkat ke udara.

Saya yang paling sering kalah. Setiap kali kalah, saya turun, duduk di lantai menunggu giliran berputar lagi sampai ke saya. Rasanya tidak pernah cukup. Baru main sebentar, sudah harus diserahkan ke yang lain.

Itu yang bikin saya mengendap bangun malam-malam, sesudah semua orang tidur. Rumah gelap, cuma suara jangkrik dari halaman belakang. Saya turun pelan-pelan, menghindari lantai di dekat kulkas yang biasanya tergenang air. Atari itu saya turunkan dari rak, saya pasang kabelnya di bawah cahaya remang dari lampu teras yang menembus kaca jendela.

Volume televisi saya putar sekecil mungkin, sampai suara derap kaki kuda di Stampede nyaris tidak terdengar. Saya duduk menempel ke layar, telinga dekat speaker, joystick digenggam dua tangan supaya tuasnya tidak berbunyi keras.

Saya tidak dengar Mama datang sampai suaranya sudah dekat sekali di belakang saya.

“Eh, kenapa main lagi? Kayak tidak ada waktu lain saja.”

Joystick lepas dari genggaman saya, jatuh ke lantai.

Mama berdiri di belakang saya, tangannya belum sempat menyalakan lampu. Saya menunduk, tangan masih di dekat joystick yang tergeletak.

“Besok sekolah to? Kasih mati itu, baru tidur!”

Saya matikan Atari itu tanpa membantah. Suara kabelnya dicabut lebih keras dari suara permainan yang baru saja saya matikan.


Kaka Lili berangkat kuliah ke Makassar waktu saya masih SD. Malam itu ruang tengah masih kami pakai, kartu remi tetap keluar, tapi tempat duduknya berubah, dan tidak ada yang berkomentar soal itu.

Tiga tahun kemudian giliran Kaka Ham, melanjutkan kuliah ke kota yang sama. Kali ini yang berubah bukan cuma tempat duduk. Joystick yang biasa direbutkan berdua sekarang cukup satu tangan yang memegangnya, tidak ada tangan kedua yang menunggu di sebelah. Scrabble jarang digelar lagi, tiga orang terasa terlalu sedikit untuk untuk mencari keseruan, dan kotak huruf plastik itu lebih sering tetap tersimpan dalam kantong hitamnya.

Sore hari sekarang berbeda. Mama main tenis tiap sore, pulangnya baru menjelang magrib. Bapa duduk di ruang tengah hanya sesekali, Ia tidak lagi tertarik memegang joystick.

Saya turunkan Atari itu jam dua siang, terang benderang, tanpa harus menunggu siapa pun tidur dulu. Volume televisi saya besarkan. Suara derap kaki kuda memenuhi ruang tengah, dan tidak ada langkah kaki yang datang dari arah kamar untuk menyuruh saya mengecilkannya.

Saya main Stampede dari awal sampai selesai, kalah atau menang, tidak perlu lagi bergantian.

Puas, seperti yang saya mau dulu.

Cuma itu. Ruang tengah siang itu cuma ada saya dan koboi di layar, dan entah kenapa itu yang justru terasa aneh.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(