Kunci gudang disimpan di rumah Mas Siram, persis di sampingnya. Tiap Minggu sore, sebelum latihan dimulai, kami datang lebih awal untuk mengambilnya, lalu membuka gudang sendiri, menyapu lantainya sebelum siapa pun datang.
Gudang Pensip aslinya dipakai menyimpan beras dan peralatan pegawai penerbangan sipil. Di tanggal-tanggal tertentu, karung-karung beras disusun berjejer sepanjang dinding, mengelilingi bagian tengah yang kami pakai untuk latihan. Hari lain, ruang yang sama dipakai untuk main bulu tangkis. Lantainya semen kasar, tidak diaci, dan udaranya selalu panas karena gudang itu tertutup rapat. Kalau pelatih memberi aba-aba, suaranya menggema sampai ke sudut-sudut, berbaur dengan bau karung beras yang tidak pernah hilang dari ingatan.
Kaka Lili dan Kaka Ham yang didaftarkan Mama, bukan saya. Umur saya belum cukup. Tapi saya ngotot, mengikuti mereka berlatih, sampai Mama menyerah dan mendaftarkan saya juga.
Kakek saya, Puang Cege Derru, tentara sekaligus guru pencak silat, punya aliran sendiri, pernah membuka perguruan di Jambi. Mungkin karena itu Mama tidak ragu memasukkan anak-anaknya ke perguruan silat, meski yang termuda baru kelas dua SD.
Sabuk saya sendiri tidak bisa saya ikat. Tiap kali sebelum latihan dimulai, Kaka Ham atau Kaka Lili yang membungkuk, melilitkannya dua kali di pinggang saya, menyimpulkannya, baru saya berdiri di barisan bersama yang lain.
Tiap Minggu sore, kami bertiga berboncengan satu sepeda menuju Gudang Pensip, dekat rumah. Pelatih kami Mas Siram dan Mas Bariman, mengajari jurus-jurus sikap satria, pendeta, harimau, tendangan sabit, cakar harimau, gerakan menghindar gesit dan egos.
Karena saya paling kecil di tempat latihan, saya tidak pernah dapat pasangan sparing. Sampai satu hari, Kak Irna bergabung. Cucu Pak Markali, tetangga depan rumah, seangkatan dengan Kaka Lili, jauh lebih tua dari saya. Tapi ia satu-satunya perempuan di sana, tanpa pasangan juga, sama seperti saya.
Kami dipasangkan.
Pelatih berteriak aba-aba, “Hup!”, tanda giliran menyerang. Kak Irna gerakannya lambat sekali, nyaris seperti gerak lambat di layar televisi, dan saya harus menunggu, menahan diri, sebelum menangkis. Giliran saya menyerang, saya yang harus memperlambat gerakan saya sendiri, supaya ia sempat menghindar.
Suatu sore, konsentrasi saya lepas sedikit. Sikap pendeta, pukulan lurus ke depan, keluar lebih cepat dari yang seharusnya. Kepalan kecil saya masuk tepat ke perutnya.
Ia terdiam sebentar, menahan napas.
Saya berdiri di tempat, tangan masih terkepal, tidak tahu harus bilang apa. Rasanya seperti memukul orang yang sama sekali tidak siap dipukul.
Sore lain, giliran dia menyerang lebih cepat dari biasanya. Sebuah tendangan datang ke arah saya, dan saya, yang sudah terbiasa memperlambat gerakan menghindar untuknya, tidak sempat mengangkat kaki tepat waktu. Tendangan itu membentur tulang kering saya.
Kakinya yang justru kesakitan.
Ujian kenaikan sabuk dimulai dari praktik gerakan-gerakan itu, lalu ditutup dengan lari dari Pensip sampai Sional. Dari putih ke hitam, dari hitam ke merah, cakel(calon keluarga). Badge di dada bertambah satu garis putih di bagian bawahnya begitu saya lulus jadi “keluarga”. Saya sudah bisa mengikat sabuk saya sendiri jauh sebelum itu, tapi tidak benar-benar ingat kapan persisnya berhenti meminta bantuan.
Dua sampai tiga tahun begitu, sampai tugas-tugas sekolah mulai menyita waktu Kaka Lili dan Kaka Ham, dan latihan Minggu sore itu perlahan berhenti dengan sendirinya.
Yang paling tinggal di ingatan bukan sikap-sikap atau ujian sabuknya, melainkan Senin paginya. Upacara bendera, berdiri berjajar di lapangan yang mulai panas, sementara paha dan betis masih terasa seperti ditusuk-tusuk tikus kecil dari dalam.