Kalau pulang sekolah dan tidak ada teman main, saya pasti ke belakang rumah. Di sana ada gudang tempat Bapa menyimpan kayu balok, papan, dan peralatan tukang. Tepat di samping gudang tersebut berdiri kandang kambing.
Tahun 1987, ada penghuni baru di kandang itu, seekor kambing bandot warna putih. Bapa membelinya karena Kaka Ham meminta. Tidak ada nama khusus, kami cukup menyebutnya kambing bandot.
Dia diikat di tiang dekat kandangnya, jinak, dan Kaka Ham sering bermain dengannya. Bahkan kalau punggungnya dinaiki, kambing itu diam saja. Kami semua ikut memberi makan. Daun kelor dan daun pisang, tinggal ambil dari halaman. Tapi kulit pisang adalah yang paling dia sukai. Dia akan langsung mendekat kalau dibawakan kulit pisang.
Hari itu saya pulang sekolah lebih dulu. Kaka Ham dan Kaka Lili belum pulang, baru sekitar jam satu nanti. Mama di dapur memasak, Bapa di ruang kerja. Saya sendirian di belakang rumah, dan seperti biasa mencari permainan sendiri.
Saya membawa kartafel, menyiapkan kaleng bekas sebagai sasaran, pasang, tembak, sampai bosan. Lalu saya buat jerat untuk ayam, simpul benang dibentuk lingkaran di tanah, beras ditaburkan di sekelilingnya, ayam datang, kakinya masuk ke lingkaran, saya tarik, ayam terjerat, saya tangkap. Lepaskan, jerat lagi. Kadang saya bikin sambit pisau, bukan pisau betulan, hanya kayu yang saya runcingkan, saya lempar ke batang pohon pisang sampai menancap.
Sampai semua itu juga sudah membosankan, dan tinggal kambing yang belum saya ganggu.
Saya mengambil daun pisang muda, saya beri dia makan. Lama-lama saya mulai iseng, daun pisang itu saya angkat tinggi-tinggi, di luar jangkauannya. Kambing berdiri, mendekat, tidak sampai. Saya mundur satu langkah, dia ikut maju.
Begitu terus. Mundur, maju, mundur, maju, sampai satu ketika talinya lepas.
Saya masih belum takut, masih memegang daun pisang, masih berpikir dia hanya mengejar daun pisang. Tapi kali ini dia maju berbeda, cepat, dan saya tidak sempat lari.
Tanduknya mengenai pinggang saya. Saya terdorong ke belakang, sampai punggung menempel di tembok rumah. Sesaat saya merasa badan saya mengapung, kaki tidak benar-benar menyentuh tanah. Tanduknya menusuk di bagian pinggang celana sekolah saya, kainnya robek.
“Bapa!”
Bapa keluar dari ruang kerja. Saya sudah berdiri rapat di tembok, kambing itu sudah mundur, masih dekat, tapi tidak mengejar lagi. Ia malah asyik memakan daun pisang yang tadi saya pegang, seperti tidak ada kejadian apa-apa.
“Kenapa?” tanya Bapa.
“Kambing tanduk saya,” jawab saya, sambil menunjuk kambing itu.
Bapa langsung menggendong saya masuk ke dalam, diikuti omelan Mama.
“Makanya, terlalu nakal to. Pulang sekolah tu makan, baru tidur siang!”
Celana saya robek, tapi badan saya tidak apa-apa, tidak ada luka, tidak ada darah. Cuma celana sekolah yang harus diganti.
Kaka Ham baru tahu setelah pulang sekolah. Mama yang menceritakan kejadian itu, sambil menambahkan, “Itu kambing tadi tanduk Ade. Lebih baik potong saja.”
“Jangan,” Kaka Ham langsung protes. “Salah sendiri ganggu-ganggu.”
Tapi dia tetap ikut membantu Bapa menggergaji tanduk kambing itu, agar tidak terlalu panjang dan tajam lagi.
Besok, besoknya, dan seterusnya saya masih tidak kapok mengganggu kambing bandot itu. Sampai dia menghilang di Lebaran Haji.