Namanya Tomi. Bagi orang-orang, ia adalah Om Tomi. Bagiku, ia adalah Ayah.
Dua bulan mungkin waktu yang terlalu singkat bagi orang lain, namun cukup bagiku untuk mengenali suara derit kursinya, langkahnya ke dapur, dan caranya membelai rambutku. Ayah tidak membawa aroma parfum tajam atau asap rokok seperti teman-temannya. Tubuhnya lebih sering menyimpan wangi sabun dan pelembut baju, aroma yang membuatku tahu: di dekatnya, tidak ada yang perlu kucurigai.
Jam setengah satu siang. Ayah duduk di depan meja komputernya, menatap layar monitor hampir tak berkedip. Di layar itu ada garis-garis berwarna yang terus bergerak. Kadang naik, kadang jatuh, seolah ada binatang kecil terperangkap di dalam kaca. Ayah menatapnya lama sekali. Sesekali bibirnya bergerak tanpa suara. Kadang ia tersenyum tipis, kadang menghela napas panjang.
Ayah sedang bekerja. Aku tidak ingin mengganggunya, tapi aku harus. Sudah waktunya ia beranjak untuk salat dan mengisi perut.
Ayah tidak pernah sarapan. Aku sendiri jarang menunggu makan siang. Kami punya ritme yang berbeda, namun selalu bertemu saat malam, selepas Isya.
Maka, aku menghampirinya, duduk di pangkuannya. Ayah tersenyum. Tangannya berhenti sebentar dari meja, lalu pindah membelai rambutku.
Ia segera paham.
Kami beranjak ke dalam. Aku menemaninya dalam ritual tengah hari itu. Aku duduk di kursi, tidak jauh darinya. Ia berdiri, membungkuk, lalu menempelkan dahinya ke lantai. Setelah itu barulah ia ke dapur. Aku mengikutinya dari belakang, seperti bayangan kecil yang tidak ingin tertinggal.
Setelah Ayah kembali sibuk, rumah menjadi milikku lagi.
Aku menyusuri ruang tengah, teras, lalu kembali ke dalam. Siang membuat rumah lebih pelan. Suara kipas, bunyi kabel yang tersentuh kaki meja, gesekan sandal jauh di luar pagar, semua terdengar lebih jelas ketika orang-orang berhenti bergerak. Ada bau debu di bawah kursi. Ada bau kayu tua di dekat lemari. Ada jejak kaki Ayah yang tertinggal di beberapa tempat, tipis, tapi cukup untuk membuat rumah terasa aman.
Seekor cicak jatuh tepat di depanku.
Ia membeku di lantai. Tubuhnya menempel pada ubin, seolah lantai tiba-tiba menjadi tempat yang salah baginya. Aku diam, menunggu. Ada saat seperti itu yang sangat kusukai: ketika ia takut bergerak, dan aku tahu aku bisa tiba lebih dulu.
Ketika ia mencoba lari, kakiku lebih dulu tiba di kepalanya.
Ia meronta sebentar, lalu diam. Aku mengangkat kakiku sejenak. Ia mencoba bergerak, tapi tidak jauh. Aku menahannya sekali lagi, lebih lama kali ini, sampai tubuh kecil itu berhenti memberi alasan untuk diperhatikan.
Setelah itu ia sudah tidak menarik bagiku.
Aku meninggalkannya di sana.
Di teras, seekor kodok meloncat ke sana ke mari, meninggalkan jejak basah di lantai. Aku mengejarnya. Ia semakin lincah meloncat, tubuhnya pendek dan licin, seperti gumpalan malam yang salah masuk rumah. Aku bisa lebih cepat darinya. Aku tahu itu. Tapi setiap kali ia terlalu dekat, aku berhenti.
Aku tidak suka kulitnya.
Aku tidak suka sesuatu yang basah dan dingin menempel di tubuhku.
Kodok itu meloncat ke sudut teras, lalu menghilang ke halaman yang mulai gelap. Aku masih berdiri beberapa saat, mengawasi arah perginya. Setelah itu rumah kembali sepi. Aku berputar sebentar di dekat pintu, memastikan sandal ayah aman di tempatnya, di antara kaki kursi kayu. Udara malam pelan-pelan turun dari langit.
Aku masih sempat bermain beberapa lama malam itu, sebelum akhirnya masuk untuk beristirahat karena kelelahan. Ayah sudah lebih dulu masuk ke kamarnya. Lampu-lampu dipadamkan satu per satu. Rumah menjadi lebih luas ketika gelap, tapi aku sedang mencoba mengikuti kebiasaan Ayah: tidur di malam hari.
Entah berapa lama aku tertidur.
Kilatan petir menyambar dari luar jendela, disusul gelegar guntur yang membuat seluruh rumah seperti terangkat sesaat. Aku terjaga. Di luar, suara hujan menghantam seng dengan keras, rapat, bertubi-tubi, seolah langit sedang menuangkan seluruh isinya sekaligus.
Ada perasaan tidak nyaman di hatiku.
Aku ingin membangunkan Ayah, tapi aku tahu itu sia-sia. Ayah sangat mencintai hujan. Setiap kali hujan turun, tubuhnya seperti menyerah dengan lebih mudah. Bahunya turun, napasnya melambat, dan wajahnya tidak lagi sekeras ketika menatap layar. Ayah jarang tidur pulas. Karena itu, ketika hujan datang, aku belajar membiarkannya bahagia.
Malam itu, hujan membuatnya tidur sangat dalam.
Aku berusaha tidur kembali. Tidur-tidur ayam, setengah tidur, setengah bangun. Setiap kali kilat menyambar, tubuhku menegang menunggu suara besar itu datang. Aku mencoba menebak jaraknya. Cahaya. Diam sebentar. Lalu gelegar. Kadang dekat sekali, kadang sedikit jauh, tapi semuanya tetap membuat dadaku tidak tenang.
Air terus jatuh.
Pukul setengah lima. Azan subuh terdengar tersendat, tenggelam oleh riuh hujan. Suaranya datang dari jauh, pecah, lalu hilang, seolah masjid pun sedang berbicara dari dasar air.
Hidungku menangkap bau tanah yang asing. Bau lembap yang tidak biasa. Bukan bau hujan di halaman, bukan bau sandal basah, bukan pula bau pakaian yang belum kering. Ini bau tanah yang masuk ke rumah. Bau selokan. Bau dingin yang bergerak.
Saat kubuka mata, lantai yang kukenal telah hilang.
Rumah kami telah menjadi bagian dari sungai yang entah datang dari mana. Air memenuhi ruang tengah. Kaki kursi terendam. Meja seperti benda asing yang dipaksa mengapung di tempatnya sendiri. Beberapa barang kecil bergerak pelan, terseret arus tipis yang berputar di dalam rumah.
Aku tidak langsung bergerak.
Rumah yang tadi malam menjadi wilayahku kini tidak lagi mengenaliku. Bau Ayah hilang dari lantai. Bau debu hilang dari sudut-sudut. Semua tertutup bau air. Semua berubah menjadi sesuatu yang dingin, licin, dan tidak bisa kupercaya.
Aku benci kebasahan. Aku benci air yang merayap mengepungku.
Aku diam, menahan tubuhku serapat mungkin. Tetapi hatiku tetap tak tenang. Air terus naik sedikit demi sedikit. Suaranya tidak keras, namun justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Ia tidak datang seperti guntur. Ia datang tanpa marah, tanpa terburu-buru, tapi mengambil semuanya.
Aku memanggil Ayah.
Suaraku kalah oleh hujan.
Aku memanggil lagi, lebih keras, tapi yang terdengar hanya seng yang dihantam air, benda-benda yang terseret, dan suara alam yang tiba-tiba menjadi terlalu jelas. Aku mencoba berdiri. Kakiku gemetar. Dari kamar Ayah tidak terdengar apa-apa.
Mungkin ia masih tidur. Hujan masih memeluknya terlalu erat.
Lalu tiba-tiba terdengar suara air tersibak dengan kasar.
“May! May…!”
Suara itu memecah subuh yang mencekam. Ada kepanikan yang jujur di sana. Ada napas yang terputus-putus. Ada langkah yang menerjang air tanpa ragu.
Aku meloncat ke arahnya.
Detik berikutnya, aku tak lagi merasa kedinginan. Tubuhku terangkat dari meja, dari air, dari rumah yang berubah menjadi sungai. Aku meringkuk di balik dekapan hangatnya. Bau sabun dan pelembut baju itu masih ada, samar, bercampur hujan dan lumpur, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa dunia belum sepenuhnya hilang.
Di tengah genangan yang menelan segalanya, aku merasakan detak jantung Ayah sangat dekat, seolah-olah berasal dari dalam dadaku sendiri.
(Merauke, 20 Maret 2019)