Sejak pagi, sofa di ruang tengah sudah digeser ke ruang tamu. Bapa mengeluarkan satu tempat tidur dari kamar. Seprei dipasang, lalu dialasi karpet plastik. Sebuah meja diletakkan di sampingnya, menunggu.
Jam sebelas siang dokter datang.
Di dalam rumah hanya ada kami berenam. Bapa, Mama, saya, dua pasien, satu dokter. Gorden sudah dirapatkan, tapi di luar jendela, Leni dan beberapa teman tetap mengintip, berebut celah yang tersisa.
Kaka Lili lebih dulu. Ia berbaring tenang, membiarkan dokter menyuntik bius di ujung kulitnya, menggunting, menjahit. Selesai, ia bangun seperti tidak terjadi apa-apa.
Giliran Kaka Ham.
Dokter belum selesai mengisi obat ke suntikan, tangisnya sudah meledak. Mama memegang tangannya, mencoba menenangkan. Sedikit demi sedikit, bius disuntikkan ke ujung kulit. Tangisan itu tidak berhenti.
Beberapa saat berlalu sebelum tangan dokter bergerak lagi.
“Masih rasa, kah?”
“Masih,” kata Kaka Ham, di sela isak.
Dicubit sedikit. “Masih rasa?”
“Masih.”
Tidak ada sentuhan sedikit pun kali ini, hanya pertanyaan, “Kalau ini, masih rasa ka tidak?”
“Masih, Dokter,” jawabnya, meski tidak terjadi apa-apa di sana.
Ada tawa kecil, seperti orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya.
Dokter mengambil gunting.
Kaka Ham menangis lagi, lebih keras. “Dokter, sabar dulu, sedikit lagi.”
“Tidak, ini dokter cuma pegang saja,” katanya, sementara gunting itu sudah semakin dekat.
Saya berdiri di pintu, melihat semuanya. Saya berteriak ke arah Kaka Ham, “De tipu! Dokter de tipu!”
Bapa buru-buru menarik saya masuk kamar, tangannya berusaha membekap mulut saya yang cerewet.
Itu de su mo potong tu!” Saya masih sempat berteriak memperingatkan Kaka Ham.
Tawa dokter pecah, sampai berhenti sejenak dari guntingnya. Mama ikut tertawa. Kaka Ham menangis lebih keras lagi.
Bertahun-tahun kemudian, giliran saya sendiri berbaring di depan dokter, di sebuah Puskesmas di Makassar. Tidak ada gorden yang perlu dirapatkan, tidak ada Leni yang mengintip dari jendela. Hanya Mama, berdiri di samping tempat tidur itu, persis di posisi yang sama seperti dulu ia berdiri di samping Kaka Ham.
Ujung kulit yang dipotong dokter saya masukkan ke dalam botol kecil berisi alkohol. Saya membawanya pulang ke Merauke, dan menguburnya sendiri di garasi samping rumah.