Setiap kota punya batas yang resmi. Tapi masa kecil biasanya punya batasnya sendiri.
Bagi saya waktu kecil, salah satu batas Merauke adalah SD Spadem.
Lebih tepatnya: Ujung Aspal.
Begitu orang menyebut tempat itu, semua langsung tahu. Bukan nama kampung. Bukan nama jalan resmi. Bukan juga nama yang tertulis di papan. Tapi di Merauke waktu itu, nama yang dipakai orang sehari-hari sering lebih kuat daripada nama yang tertulis di dokumen pemerintah.
“Turun di mana?”
“Ujung Aspal.”
Dan sopir taksi akan mengerti.
Taksi yang saya maksud tentu bukan taksi seperti di kota besar, yang punya argometer, pintu bagus, dan sopir yang duduk sendiri di depan. Di Merauke, taksi adalah Suzuki Carry minibus. Warnanya seragam, biru muda. Tidak ada trayek. Pintunya agak susah dibuka-tutup. Kursinya sudah tipis, dengan sarung jok yang mengelupas di sana-sini. Kadang jendelanya harus didorong kuat supaya bisa terbuka. Di dalamnya, penumpang duduk berdesakan, membawa tas belanja, karung kecil, ikan, sayur, atau apa saja yang perlu dibawa dari kota ke rumah.
Selalu ada sopir.
Dan hampir selalu ada kenek.
Kenek itu yang buka-tutup pintu, teriak tujuan, menagih uang, mengatur orang supaya masih bisa masuk meskipun sebenarnya sudah penuh.
“Spadem! Spadem! Ujung Aspal!”
“Masih bisa, geser sedikit!”
“Tarik!”
Bagi anak kecil, suara kenek adalah bagian dari suara kota.
Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai paham bahwa SD Spadem adalah batas terakhir taksi. Mungkin karena sering mendengar orang bicara. Mungkin karena melihat sendiri bagaimana taksi berhenti dan putar balik di situ. Sesuatu yang diulang terus oleh orang-orang pelan-pelan menjadi hukum kecil dalam kepala saya.
Taksi dari kota biasanya datang lewat Jl. Raya Mandala.
Dari sekitar Toko Dua, jalan itu memanjang melewati Kota, Bampel atau Bambu Pemali, Muli, lalu Spadem. Di ujung Spadem, dekat SD kami, aspal seperti berhenti. Setelah itu jalan masih ada, tapi bukan lagi jalan yang sama. Tanah merah, debu kalau panas, becek kalau hujan. Ke arah sana orang menyebut Jl. Garuda Spadem, lalu lebih jauh lagi Jl. Garuda Mopah Lama.
Bagi kami anak-anak SD, semua penjelasan nama jalan itu belum penting.
Yang penting: di dekat sekolah kami, aspal habis.
Dan karena aspal habis, kota terasa ikut habis.
Padahal Merauke tidak benar-benar selesai di sana. Masih ada rumah dan jalan di sana. Orang-orang dan ritme kehidupan tetap berlanjut melewati batas itu, namun waktu kecil, saya belum punya peta yang lengkap. Peta saya dibuat dari tempat-tempat yang sering saya lewati: rumah kami, rumah Om Abe, Masjid Spadem, SD Spadem, kios Pak Mamo, jalan ke Muli, jalan ke kota, Toko Dua, Toko Adil.
Di luar itu, dunia menjadi agak samar.
Ujung Aspal adalah garis tempat yang jelas berubah menjadi samar.
Setiap pagi, kalau Bapa mengantar saya ke sekolah, saya tidak terlalu memikirkan itu. Saya duduk di mobil, membawa tas, masih mengantuk, masih mengingat apakah ada PR atau tidak. Bapa menyetir pelan dan hati-hati. Ia bukan tipe orang yang membawa mobil seperti sedang mengejar sesuatu. Kalau ada orang menyeberang, ia memberi jalan. Kalau ada motor dari jauh, ia menunggu. Kalau jalan agak rusak, ia pelankan mobil.
Dari rumah ke sekolah jaraknya tidak jauh.
Tapi bagi anak kecil, bahkan jarak pendek bisa penuh tanda: tikungan tertentu, rumah teman, pagar yang dikenal, pohon yang sering dilewati, anjing yang kadang menggonggong, suara pesawat dari arah Mopah, anak-anak lain berjalan dengan seragam putih merah.
Di dekat sekolah, suasana pagi menjadi lebih ramai.
Anak-anak datang dari berbagai arah. Ada yang berjalan kaki. Ada yang diantar orang tua. Ada yang naik sepeda. Ada yang turun dari taksi. Sebagian masih membawa wajah mengantuk. Sebagian langsung ribut. Tas-tas bergoyang di punggung kecil. Sepatu menginjak tanah, batu kecil, pasir, dan sisa debu jalan.
Kalau hari panas, debu cepat naik.
Kalau hujan turun semalam, tanah merah menempel di sepatu.
Kami masuk halaman sekolah seolah-olah itu hal biasa. Saat itu, peta dunia saya sebagai anak kecil masih sangat sederhana; hanya seputar bunyi bel masuk, ruang kelas, papan tulis yang penuh kapur, dan kios milik Pak Mamo di belakang sekolah. Dunia itu baru terasa luas saat istirahat pertama tiba dan saya bisa bertemu kembali dengan teman-teman 1B.
Pulang sekolah selalu terasa berbeda dari berangkat.
Berangkat sekolah selalu membawa rasa tergesa tentang ketakutan terlambat masuk kelas dan kewajiban memastikan tidak ada buku pelajaran yang tertinggal di rumah. Tetapi saat pulang sekolah, dunia seperti dibuka kembali. Begitu bel berbunyi, anak-anak langsung menghambur keluar hingga halaman mendadak riuh; sebagian langsung berlari mengejar teman, menunggu jemputan kakak, mengantre membeli jajanan di kios, atau berdiri di pinggir jalan menunggu taksi Carry biru muda melintas.
Saya biasanya berjalan pulang.
Bersama Oji, Leni, dan Manda.
Kalau pagi saya sering diantar Bapa, siang hari saya lebih sering pulang dengan teman-teman. Dari SD Spadem, kami berjalan melewati jalan yang sama, tapi rasanya lain. Matahari sudah lebih tinggi. Seragam mulai kusut. Sepatu sudah berdebu. Perut mulai lapar. Sekolah sudah selesai, dan sore masih jauh.
Kami berjalan sambil cerita-cerita.
Tidak selalu ada cerita penting. Anak-anak bisa membicarakan apa saja: guru tadi bilang apa, siapa yang dimarahi, siapa yang jatuh, siapa yang beli es lilin, siapa yang dapat nilai bagus, siapa yang tadi baku ganggu di kelas. Kadang kami diam sebentar, lalu ada yang memulai lagi.
Jalan pulang itu menjadi semacam perpanjangan dari sekolah, tapi tanpa guru.
Di sana kami lebih bebas.
Ada rumah-rumah yang kami lewati, pagar, kebun, dan halaman yang kami kenal. Jalan kecil masuk ke rumah orang berbaur dengan suara ayam, anjing yang membuat kami harus sedikit waspada, serta terik panas yang membuat bayangan kami memendek di tanah.
Kalau sampai di depan rumah Oji, ia belok duluan.
Leni dan Manda lanjut ke arah rumah mereka.
Saya ke rumah saya.
Pulang sekolah bukan hanya perjalanan dari sekolah ke rumah. Ia juga cara kami berpisah satu-satu dari dunia bersama, sampai akhirnya masing-masing kembali ke rumah sendiri.
Ujung Aspal tetap ada di belakang kami.
Batas itu seperti menandai dari mana kami berangkat setiap hari.
Saya tidak tahu apakah anak-anak lain merasakan hal yang sama. Bagi mereka, Ujung Aspal mungkin hanya tempat turun taksi. Bagi sopir, itu titik terakhir sebelum memutar atau mencari penumpang lagi. Bagi orang tua, itu hanya ujung jalan beraspal yang nanti suatu saat bisa diperpanjang.
Tapi bagi saya, Ujung Aspal tetap menyimpan sepotong ingatan tentang pinggir kota yang letaknya jauh dari pusat keramaian. Sebuah wilayah di mana kami hidup berdekatan dengan hutan, rawa, landasan bandara, kompleks AURI, jalan tanah, dan halaman-halaman rumah yang luas. Kota Merauke memang ada di sana, tetapi ia tidak menelan seluruh alam. Ia seolah-olah berjalan pelan dari pusat kota menuju arah kami, lalu memilih untuk berhenti sejenak tepat di depan pintu SD Spadem. Setelah itu, alam kembali memiliki ruangnya yang luas.
Ketika mendengar kata Ujung Aspal, yang muncul bukan hanya jalan. Yang muncul adalah seluruh suasana: matahari pagi di halaman sekolah, taksi Suzuki Carry berhenti, kenek membuka pintu, anak-anak turun satu-satu, debu merah di pinggir jalan, dan rasa bahwa kami tinggal di tempat yang tidak sepenuhnya kota, tapi juga bukan lagi kampung kecil yang terpisah.
Merauke waktu itu memang begitu dalam ingatan saya.
Tidak tergesa.
Tidak terlalu penuh.
Jarak antar tempat masih terasa dekat.
Kalau dari Spadem ke kota, kami melewati Muli, Bampel, lalu masuk ke bagian yang lebih ramai. Di sana ada toko-toko, kendaraan lebih banyak, orang lebih ramai. Ada Toko Dua. Ada Toko Adil. Ada Jl. Aru. Ada bioskop. Ada tempat-tempat yang membuat kota terasa kota.
Tapi begitu kembali ke arah Spadem, kota seperti menurunkan suaranya.
Rumah-rumah menjadi lebih renggang.
Langit terasa lebih luas.
Angin membawa bau tanah, rumput, kadang asap bakar sampah, atau bau rawa setelah hujan.
Mungkin ingatan saya memperindah sebagian dari semua itu. Tempat yang biasa dilewati setiap hari sering baru tampak berarti setelah kita jauh darinya. Waktu kecil, saya hanya tahu jalan itu ada, sekolah itu ada, taksi berhenti di sana, dan kami pulang melewatinya.
Dan hati saya pernah berada di Ujung Aspal. Di sana, hari sekolah, jalan pulang, hingga pertemuan dengan teman-teman dimulai.
Perasaan terpisah dari 1B, lalu disambung lagi saat keluar main, juga terjadi di sekitar sana.
Kios Pak Mamo, halaman sekolah, barisan pagi, SKJ 84, anak-anak yang turun dari taksi, semua berkumpul di wilayah kecil yang dulu saya anggap biasa saja.
Sekarang saya tahu, tidak ada yang benar-benar biasa kalau sudah menjadi masa kecil.
Bahkan ujung jalan pun bisa berubah menjadi alamat ingatan.
Saya juga ingat cara orang menyebut tempat ketika naik taksi.
Kalau penumpang tidak terlalu banyak yang ke Spadem, sopir kadang harus ditanya dulu. Apakah mau sampai Ujung Aspal atau tidak. Kalau hanya satu-dua orang, mungkin ia enggan mengantar terlalu jauh. Bisa saja penumpang diturunkan sebelum sampai, diminta menambah sedikit, atau harus menunggu taksi lain yang memang mau ke sana.
Saya tidak selalu mengalami sendiri semua perundingan itu, tapi saya sering mendengar dan melihatnya.
Di Merauke, naik taksi bukan hanya soal naik dan bayar. Ada sedikit negosiasi. Ada sedikit membaca situasi. Penumpang bertanya. Kenek menjawab. Sopir kadang diam, kadang memberi keputusan dari balik kemudi.
“Om, Ujung Aspal ka?”
“Iyo, naik sudah.”
Seratus rupiah waktu itu cukup untuk membuat anak-anak paham bahwa perjalanan punya nilai. Tidak besar, tapi nyata. Dengan seratus rupiah kita bisa naik taksi dari kota ke Spadem. Dengan seratus rupiah juga, dalam dunia anak-anak, kita bisa membeli sesuatu di kios. Uang kecil punya banyak kemungkinan.
Di depan sekolah, saya selalu suka memperhatikan taksi yang memperlambat kecepatan lalu berhenti. Begitu pintunya dibuka, riuh aktivitas pinggir kota langsung keluar; anak sekolah yang turun sambil membetulkan letak tas di punggung, mama-mama yang menjinjing berat belanjaan pasar, hingga orang dewasa yang kembali dari kota dengan sisa wajah lelah. Taksi itu kemudian bergerak kembali untuk memutar arah, melaju sedikit lebih jauh melewati batas tanah merah, atau diam sejenak menunggu penumpang yang hendak balik ke arah pusat kota. Semua itu tampak sederhana.
Saya suka melihat taksi berhenti.
Dari situ saya belajar bahwa kota tidak hanya dibentuk oleh gedung dan jalan. Kota juga dibentuk oleh rute kecil yang dihafal orang: dari pasar ke Spadem, dari Spadem ke kota, dari Toko Dua ke Muli, dari Ujung Aspal ke rumah.
Setiap orang punya titik turun.
Setiap orang punya kalimat yang diucapkan sebelum sampai.
“Minggir, Om!”
“Depan, Om, sedikit lagi.”
“Om, PGT ada ya.”
Dan taksi berhenti di tempat yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, tapi bagi penumpang adalah rumah, atau jalan menuju rumah.
Anak kecil belajar membaca kota dari kalimat-kalimat seperti itu.
Bukan dari peta atau nama jalan. Tapi dari tubuh orang-orang yang bersiap turun, dari tangan yang mengetuk pintu mobil, dari suara kenek yang mengulang tujuan, dari cara sopir memperlambat kendaraan sebelum tikungan.
Ujung Aspal menjadi salah satu kata pertama yang membuat saya mengerti bahwa sebuah tempat bisa memiliki nama murni karena orang-orang membutuhkannya. Nama resmi tinggal di kertas. Nama sehari-hari hidup di mulut orang.
Sekarang tentu Merauke sudah berubah. Jalan-jalan bertambah. Aspal diperpanjang. Anak-anak yang dulu berjalan pulang sudah menjadi orang dewasa, sebagian tinggal jauh dari sana, sebagian mungkin masih melewati jalan yang sama tanpa merasa apa-apa.
SD Spadem pun mungkin sudah tidak seperti dalam ingatan saya.
Saya tidak ingin memaksa tempat itu tetap sama.
Tempat punya hak untuk berubah.
Tapi ingatan juga punya hak untuk mempertahankan bentuk lamanya.
Di dalam ingatan saya, SD Spadem tetap berdiri kokoh tepat di garis batas itu, di antara ujung aspal dan awal tanah merah. Saya seperti kembali melihat taksi Carry biru muda itu memperlambat kecepatan, mendengar teriakan kenek yang memanggil dari balik jendela, dan memperhatikan anak-anak berseragam putih-merah yang turun satu per satu. Di tengah halaman yang mulai sepi saat sekolah usai, ada saya kecil yang berdiri diam menatap debu merah mulai naik dari ban mobil taksi yang berputar balik menuju arah kota.