Menopause Adalah Keniscayaan, Bukan Untuk Diacuhkan

4 menit baca

Bau anyir darah dan suara logam berderik masih menghantui ingatan Rosy Devi. Perempuan berusia 38 tahun itu terengah-engah menapaki jalan setapak di Bihar, India. Napasnya pendek, dadanya bergemuruh seperti dihantam godam, dan sekujur tulangnya ngilu. Semua bermula dari pisau bedah tahun 2019 yang merenggut rahimnya secara paksa, menjebloskannya ke dalam jurang menopause prematur. Ia tidak pernah menduga pengangkatan organ reproduksi akan meremukkan fisiknya sedemikian rupa hingga wajahnya memantulkan bayangan renta yang asing.

Dia merasa tua dalam semalam.

Transisi hormonal ini bukan sekadar keringat malam atau rasa gerah yang datang tiba-tiba. Setengah populasi dunia pasti bersinggungan dengan babak ini, namun dunia memilih menutup mata rapat-rapat.

Masyarakat terlanjur dicekokkan dengan dongeng bahwa menopause adalah soal perempuan paruh baya yang kehilangan kesabaran. Faktanya, menopause adalah berhentinya menstruasi permanen selama lebih dari 12 bulan. Secara global, WHO mencatat usia rata-rata menopause berada di angka 45 hingga 55 tahun. Namun, data dari Amerika Serikat dan Korea Selatan menunjukkan bahwa sekitar 9,4% perempuan mengalaminya di usia 40 hingga 44 tahun, bahkan 8,6% lainnya harus menghadapi fase ini sebelum menginjak usia 40. Ada kasus yang jauh lebih ekstrem, di mana ovarium berhenti berfungsi sejak usia 20-an, baik karena alasan medis maupun histerektomi total.

Sebuah survei di Inggris menampar kesadaran kita. Sembilan puluh persen perempuan tidak pernah mendengar kata ‘menopause’ di bangku sekolah. Mereka dibiarkan meraba-raba dalam gelap.

Dokter pun sering kali angkat tangan. Alih-alih mendapatkan pencerahan, perempuan justru pulang dengan perasaan diabaikan dan terasing. Vonis histerektomi dijatuhkan begitu saja atas dasar keluhan pendarahan tanpa edukasi memadai, terutama bagi mereka yang terpinggirkan di pedesaan India. Tubuh perempuan kerap direduksi sekadar mesin pengerah keturunan.

Gejala menopause mencabik-cabik tubuh secara brutal. Delapan puluh persen perempuan menjerit karena hot flashes dan keringat malam.

Sakit kepala dan migrain hebat mencengkeram pelipis. Insomnia merampas waktu istirahat, sementara inkontinensia urin meremukkan kepercayaan diri saat harus bekerja.

Daftar keluhan ini terus memanjang. Jantung berdebar, nyeri otot, penurunan gairah seksual, hingga kabut mental dan kerontokan rambut adalah paket lengkap yang sering kali sulit dibedakan dari kondisi kesehatan lainnya. Gayathri Delanerolle dari NHS Inggris bahkan mencatat adanya keluhan kulit gatal hingga perubahan penglihatan yang sering dianggap angin lalu.

Estrogen terjun bebas. Lemak dan kolesterol menari-nari tanpa kendali, membuka pintu lebar-lebar bagi risiko penyakit jantung—penyebab kematian nomor satu bagi perempuan di seluruh dunia. Belum lagi ancaman PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis yang mengintai pasca-menopause.

Profesor Om Kurmi dari Coventry University muak dengan kebisuan ini. Menurutnya, abai terhadap transisi ini sama dengan membiarkan perempuan berjalan menuju jurang. Gaya hidup harus dirombak total. Berhenti merokok, mengurangi alkohol, dan olahraga teratur adalah kewajiban jika tidak ingin tulang keropos mendahului usia. Siksaan mental berupa kecemasan dan depresi menghantui dalam senyap, sering kali tak kasat mata namun mematikan.

Terapi sulih hormon sebenarnya menawarkan jalan keluar dengan mengganti hormon yang hilang. Sayangnya, akses terhadap pengobatan ini sangat timpang. Di negara maju, debat bergeser dari “ketakutan akan efek samping” menuju pemberian akses yang lebih luas—seperti keputusan FDA di AS yang menghapus label peringatan ekstrem pada produk HRT agar perempuan tidak terjebak ketakutan.

Sebaliknya, di negara berpenghasilan rendah, biaya dan minimnya pengetahuan tenaga medis menjadi tembok besar. Banyak perempuan terpaksa menahan sakit karena tidak ada pilihan lain yang tersedia.

Kebijakan publik masih lumpuh. Negara berkembang masih terjebak dalam ilusi bahwa urusan perempuan selesai begitu saja setelah masa melahirkan mereka berakhir. Anggaran kesehatan terkunci rapat pada angka kematian ibu, menelantarkan mereka yang berada di fase pascareproduksi.

Pemerintah mendefinisikan perempuan sebatas rahimnya.

Pandangan busuk ini harus dirobohkan. Gayathri Delanerolle menyuarakan perombakan kurikulum secara radikal. Anak-anak remaja putri harus diajarkan bahwa menopause bukan akhir dari napas kehidupan, melainkan transisi yang perlu dipahami sejak dini.

Buku belum ditutup. Ini hanyalah halaman baru yang menuntut keberanian untuk membalik halamannya, menuntut kebijakan yang memanusiakan perempuan di luar fungsi reproduksinya.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(