Di sebuah pojok bandara yang bising, suara mesin jet menderu, meredam percakapan orang-orang. Saya melihat seorang ayah melepas putrinya di ambang pintu keberangkatan. Wajah sang ayah lelah, kulitnya seperti kertas tua yang dilipat berkali-kali. Sebelum gadis itu melangkah menjauh, ia memegang tangan anaknya.
“Ayah menyayangimu. Ayah harap hidupmu cukup,” ucapnya pelan.
Gadis itu terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca menatap pria yang membesarkannya. Ia menjawab dengan suara yang bergetar. “Ayah, hidup kita selama ini sudah lebih dari cukup. Kasih sayang Ayah adalah segalanya bagi saya. Saya juga mengharapkan hal yang cukup bagi Ayah.”
Mereka berpelukan. Sebuah ciuman di pipi, lalu gadis itu menghilang di balik pintu.
Pria itu berjalan gontai menuju jendela tempat saya duduk. Ia berdiri mematung, menatap landasan pacu yang basah sisa hujan. Bahunya naik turun. Pria itu menahan tangis. Saya pura-pura fokus pada buku di tangan, tapi ia malah berbalik arah dan menatap saya dengan tatapan kosong.
“Apa kau pernah mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang dengan sadar bahwa itu untuk selamanya?” tanyanya.
Saya mengangguk pelan. Kenangan tentang ayah saya sendiri muncul kembali, saat saya harus bicara jujur tentang semua kasih sayang yang tak pernah sempat saya katakan di masa muda. Saat itu saya tahu waktu sudah menipis, seperti lilin yang apinya tinggal sepucuk sumbu. Saya paham benar rasa sesak di dada pria di depan saya ini.
“Maaf, mengapa ini menjadi pertemuan terakhir?”
Ia tersenyum getir. “Saya sudah tua. Dia tinggal sangat jauh di sana. Realitasnya kejam. Perjalanan dia berikutnya ke sini adalah untuk menghadiri pemakaman saya.”
Saya kembali teringat kalimat awal mereka. “Tadi Anda mengatakan berharap hidupnya ‘cukup’. Apa maksud kalimat aneh itu?”
Pria itu tersenyum lebar. Matanya menerawang, seolah sedang membaca sebuah surat wasiat yang tak terlihat. “Itu doa warisan dari orang tua saya dulu. Mereka selalu mengucapkannya kepada siapa saja.”
Ia menarik napas panjang. “Saya berharap orang yang saya cintai memiliki hidup yang berisi hal-hal yang pas untuk menopang jiwa mereka.”
Lalu ia mulai merapalkan kalimat itu seperti doa yang dihafal mati di luar kepala.
“Saya berharap kamu mendapatkan cukup matahari agar hatimu selalu terang. Saya berharap kamu mendapatkan cukup hujan agar kamu bisa lebih menghargai hangatnya surya. Saya berharap kamu mendapatkan cukup kebahagiaan agar jiwamu tetap hidup. Saya berharap kamu mendapatkan cukup rasa sakit agar kegembiraan terkecil sekalipun terasa jauh lebih besar. Saya berharap kamu mendapatkan cukup keberhasilan agar keinginanmu terpuaskan. Saya berharap kamu mendapatkan cukup kehilangan agar kamu belajar menghargai apa yang ada di genggaman. Saya berharap kamu mendapatkan cukup sapaan selamat datang agar kamu kuat menghadapi perpisahan terakhir.”
Setelah kalimat terakhir terucap, pertahanannya runtuh. Bahunya terguncang hebat. Pria tua itu terisak, lalu melangkah pergi, meninggalkan saya sendirian di antara hiruk pikuk manusia yang tidak peduli pada duka orang lain.