Hari pertama masuk SD tidak selalu dimulai dengan tangisan. Ada yang dimulai biasa saja, lalu pelan-pelan menjadi sumpek ketika pintu kelas ditutup.
Tahun 1986, saya masuk SD Negeri Cenderawasih Spadem.
Orang-orang lebih sering menyebutnya SD Spadem. Letaknya tidak jauh dari rumah. Kalau berjalan kaki, saya bisa pergi bersama Leni dan Manda. Nanti, ketika lewat depan rumah Oji, dia ikut bergabung. Begitulah pagi-pagi kami waktu itu: anak-anak kecil dengan tas sekolah, seragam putih merah, sepatu hitam, kaus kaki putih, berjalan di jalan yang belum terlalu ramai.
Saya tidak ingat apakah hari pertama itu saya diantar Bapa atau berjalan bersama teman-teman. Agaknya Bapa mengantar. Sejak TK sampai SD kelas lima, Bapa memang sering mengantar saya ke sekolah. Tapi yang paling saya ingat bukan perjalanan dari rumah ke sekolah.
Yang paling saya ingat adalah pembagian kelas.
Waktu itu kelas satu hanya ada dua: 1A dan 1B.
Saya masuk 1A.
Leni, Manda, Oji, bahkan Yana masuk 1B.
Saya tidak tahu siapa yang membagi. Guru atau kepala sekolah. Mungkin daftar dibuat berdasarkan urutan pendaftaran atau pertimbangan lain yang tidak pernah saya mengerti. Bagi mereka, itu hanya pembagian kelas. Bagi saya, hari itu sekolah seperti punya dua pintu yang arahnya berbeda.
Di luar kelas, saya masih baik-baik saja.
Kami masih bisa berdiri bersama. Masih bisa bicara. Masih bisa baku lihat. Sekolah terasa seperti tempat baru yang akan kami masuki bersama-sama.
Tapi begitu masuk kelas, semuanya berubah.
Teman-teman dekat saya masuk ke pintu lain.
Saya masuk ke 1A.
Di dalam kelas, hawanya terasa berbeda. Bukan karena ruangannya benar-benar sempit. Kelas itu biasa saja: papan tulis, meja guru, bangku-bangku kayu, jendela, gambar Presiden dan Wakil Presiden, beberapa poster pahlawan. Tapi ruangan itu penuh oleh wajah yang saya belum tahu bagaimana menghadapinya.
Anak-anak lain duduk, bicara, tertawa, baku ganggu. Ada yang sudah kenal satu sama lain. Ada yang cepat sekali menemukan teman baru. Ada juga yang sejak awal tampak tahu bagaimana berada di tempat ramai.
Saya tidak.
Saya duduk dan merasa badan saya mengecil.
Tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak minta pindah kelas. Saya duduk saja. Kalau takut atau tidak nyaman, saya biasanya diam. Dan diam sering membuat guru mengira semuanya baik-baik saja.
Padahal di dalam, saya merasa sumpek.
Kata itu yang paling dekat.
Bukan sedih saja. Bukan takut saja. Bukan marah juga. Sumpek. Napas seperti tidak bisa keluar penuh. Ada tembok tidak kelihatan antara saya dan anak-anak lain. Saya mendengar suara mereka, tapi tidak tahu bagaimana masuk ke dalamnya.
Di situ saya mulai sadar, meskipun belum punya kata-katanya, bahwa saya tidak mudah akrab dengan orang baru.
Saya bisa bermain lama dengan Leni, Manda, Oji, Arman. Bisa masuk rumah mereka, makan di teras, tidur-tiduran, memanggil dari pagar, bermain sampai sore. Mereka sudah menjadi bagian dari dunia saya. Dengan orang baru, saya perlu waktu. Perlu rasa aman. Perlu tanda bahwa saya tidak salah masuk.
Di kelas 1A, tanda itu belum ada.
Untung ada Iman.
Iman anak laki-laki yang saya kenal dari TK Al Hikmah. Ibunya, Ibu Harsono, guru TK kami dulu. Saya tidak terlalu dekat dengan Iman, tapi wajah yang sudah pernah dilihat membuat saya lebih tenang. Maka saya duduk dengannya.
Bukan berarti kami langsung menjadi sahabat.
Kami hanya duduk sebangku. Bicara seperlunya. Tapi dalam kelas yang penuh wajah asing, seperlunya pun sudah cukup.
Hari-hari pertama berjalan seperti itu.
Guru mengajar membaca, menulis, berhitung. Saya mengikuti. Untuk pelajaran, saya tidak terlalu kesulitan. Dari TK saya sudah bisa membaca dan menulis. Di rumah, Mama juga sudah sering mengajari saya. Jadi kalau soal huruf, angka, atau membaca kalimat, saya bisa.
Yang sulit justru hal yang bagi anak lain mungkin terjadi begitu saja: bicara dengan teman baru, ikut tertawa pada saat yang tepat, mengajak bermain tanpa merasa diri terlalu agresif, tidak terlihat sendirian.
Saya tidak punya masalah dengan sekolah sebagai tempat belajar.
Saya punya masalah dengan sekolah sebagai tempat ramai.
Di kelas, saya lebih sering diam. Kalau guru bertanya dan saya tahu jawabannya, saya bisa menjawab. Kalau disuruh membaca, saya bisa membaca. Kalau mengerjakan tugas, saya kerjakan. Dari luar saya mungkin terlihat sebagai murid yang baik-baik saja. Anak yang duduk rapi, memperhatikan, tidak membuat ribut.
Tetapi anak yang tidak membuat ribut belum tentu anak yang tidak kesepian.
Saya baru merasa agak lega ketika bel keluar main berbunyi.
Keluar main pertama adalah penyelamatan kecil setiap hari.
Begitu keluar kelas, saya bisa mencari teman-teman 1B. Leni. Manda. Oji. Kadang Yana. Kami bertemu di halaman atau di dekat kios belakang sekolah. Dunia yang tadi terbelah oleh pintu kelas seperti tersambung lagi.
Biasanya kami ke kios Pak Mamo.
Pak Mamo guru Agama Protestan di sekolah kami. Istrinya berjualan di kios kecil di belakang sekolah. Di sana ada es lilin, es kue, pisang goreng, kue-kue kecil. Anak-anak berkumpul, memilih, memegang uang jajan, menunggu giliran.
Saya tidak terlalu ingat apa yang saya beli. Sepertinya es lilin. Atau pisang goreng. Atau kue lainnya. Tapi saya ingat rasa istirahat itu: rasa kembali menjadi diri sendiri.
Di depan teman-teman dekat, saya tidak perlu berpikir terlalu banyak. Tidak perlu menyusun cara masuk ke percakapan. Tidak perlu menebak apakah saya diterima. Saya hanya ada di sana, dan itu cukup.
Kami bisa berdiri dan bicara sebentar.
Oji cerita sesuatu. Leni atau Manda tertawa. Di sisi lain halaman, anak-anak berlari-lari, main kejar-kejaran, enggo, atau main bola di koridor memakai botol air mineral bekas atau batu kecil sebagai bola. Saya jarang ikut permainan yang terlalu membuat berkeringat. Setelah istirahat, kami masih harus masuk kelas lagi. Saya tidak suka badan basah keringat lalu duduk belajar.
Saya memilih jajan dan cerita-cerita saja.
Atau lebih tepatnya: saya memilih tetap dekat dengan orang-orang yang membuat saya tidak merasa asing.
Tapi istirahat selalu pendek.
Tidak lama kemudian lonceng berbunyi lagi.
Teman-teman 1B kembali ke kelas mereka.
Saya kembali ke 1A.
Setiap kali lonceng berbunyi, dada saya terasa turun sedikit. Setelah bertemu sebentar dengan rumah, saya harus kembali ke tempat yang belum terasa rumah.
Di kelas 1A, saya pelan-pelan menemukan bentuk aman yang lain.
Salah satunya lewat Dewi.
Dewi adalah bendahara kelas. Setiap minggu ia menagih uang kas lima puluh rupiah. Uang itu dipakai untuk membeli keperluan kelas: sapu, pigura, gambar Presiden dan Wakil Presiden, gambar pahlawan, atau barang-barang kecil lain yang membuat ruang kelas tampak seperti ruang kelas.
Karena ia bendahara, Dewi harus bicara dengan semua anak. Termasuk saya.
“Tomi, uang kas.”
Kira-kira begitu, sambil menodongkan sebelah tangannya untuk menagih.
Saya mengeluarkan uang lima puluh rupiah dan memberikannya.
Tidak banyak pembicaraan. Tapi karena kejadian itu berulang setiap minggu, Dewi menjadi salah satu orang di 1A yang saya ingat. Bukan karena kami sering bermain bersama. Bukan karena kami akrab. Tapi karena ia hadir dalam rutinitas kecil yang tetap.
Di kelas satu, Dewi selalu ranking dua.
Saya ranking satu.
Tiga caturwulan begitu.
Saya tidak ingat apakah kami pernah bicara soal nilai. Sepertinya tidak. Anak-anak jarang membicarakan ranking dengan cara orang tua membicarakannya. Ranking diumumkan, dicatat, dibawa pulang, lalu membuat orang tua tersenyum atau memberi nasihat. Di dalam kelas, ia tidak selalu membuat dua anak menjadi dekat.
Tetapi saya ingat Dewi karena ia seperti berdiri di tempat yang berdekatan dengan saya, meskipun kami tidak benar-benar dekat.
Saya ranking satu bukan karena saya paling rajin belajar. Barangkali karena saya sudah lebih dulu bisa membaca. Di awal SD, kemampuan membaca membuat banyak hal terasa lebih mudah. Ketika anak lain masih mengeja, saya sudah bisa membaca kalimat. Ketika guru menulis di papan, saya bisa mengikuti lebih cepat.
Tapi kemampuan membaca tidak membuat saya lebih mudah berteman.
Itu pelajaran yang tidak tertulis di rapor.
Setiap pagi sebelum masuk kelas, kami berbaris di depan pintu. Tiga baris. Ketua kelas memberi aba-aba.
Iman ketua kelas.
“Siap, grak!”
Lalu lencang kanan, lencang depan. Barisan yang paling rapi masuk duluan. Saya suka bagian itu, karena ada aturan yang jelas. Kalau berdiri lurus, tangan lurus, diam, barisan dianggap rapi. Semua orang tahu apa yang harus dilakukan.
Hal-hal yang punya aturan selalu lebih mudah bagi saya.
Yang sulit adalah hal-hal yang tidak punya aba-aba: kapan harus menyapa, kapan ikut tertawa, kapan duduk di dekat siapa, kapan seorang teman sudah cukup dekat untuk diajak main, kapan boleh masuk ke dunia orang lain tanpa merasa mengganggu.
Sekolah penuh dengan aturan pelajaran.
Pertemanan punya aturan yang lebih samar.
Hari Senin ada upacara bendera. Semua murid berdiri di halaman. Kelas kecil di depan, kelas besar di belakang. Matahari mulai naik. Guru-guru berdiri di sisi tertentu. Bendera dinaikkan. Kami hormat. Ada pembacaan Pancasila, UUD, doa. Anak-anak yang lebih besar tampak lebih tahu cara berdiri lama tanpa banyak bergerak.
Saya mengikuti saja.
Hari Jumat ada SKJ 84.
Pak Abidin, guru Orkes, memimpin senam di halaman. Kaset diputar dari tape, lalu mikrofon didekatkan ke speaker tape supaya suaranya terdengar lebih besar. Musik SKJ itu sekarang kalau saya ingat, seperti membuka pintu ke halaman sekolah pagi-pagi: anak-anak berbaris, tangan ke atas, tangan ke samping, badan membungkuk, guru-guru mengawasi, debu halaman naik sedikit.
Di saat seperti itu, saya tidak merasa terlalu sendirian.
Senam membuat semua anak bergerak dengan gerakan yang sama. Upacara membuat semua anak berdiri dengan sikap yang sama. Baris sebelum masuk kelas membuat semua anak mengikuti aba-aba yang sama. Dalam kegiatan bersama, saya bisa menghilang dengan aman di antara banyak orang.
Yang berat justru ketika semua orang bebas menjadi dirinya sendiri.
Istirahat.
Jam kosong.
Sebelum guru masuk.
Saat anak-anak memilih sendiri dengan siapa mereka bicara.
Di situ saya merasa paling terlihat sebagai anak yang tidak tahu harus mendekat ke mana.
Itu sebabnya saya menunggu istirahat bukan hanya untuk jajan, tapi untuk menyeberang sebentar ke 1B. Ke teman-teman yang sudah lebih dulu menjadi bagian dari hidup saya.
Saya tidak benci 1A.
Lama-lama, tentu saja, kelas itu menjadi biasa. Wajah-wajah asing menjadi tidak terlalu asing. Iman tetap di dekat saya. Dewi tetap menagih uang kas. Guru-guru tetap mengajar. Buku-buku tetap dibuka. Papan tulis tetap penuh kapur. Saya tetap mendapat nilai baik.
Tapi ada sesuatu dari rasa hari-hari awal itu yang tinggal lama. Rasa asing saat berada di tempat yang seharusnya aman, sementara dunia orang lain tampak mudah dimasuki dari tepian. Di situ saya sadar, semua orang kelihatan sudah tahu cara menjadi teman, sedangkan saya masih belajar membaca tanda-tanda kecil yang tidak pernah diajarkan di papan tulis.
Saya baru mengerti jauh kemudian bahwa pendiam bukan berarti tidak ingin punya teman. Saya ingin. Sangat ingin. Tapi saya tidak selalu tahu cara memulai. Saya tidak mudah menganggap orang baru sebagai teman dekat. Bagi saya, teman dekat bukan hanya orang yang duduk sebangku atau bermain sekali dua kali. Teman dekat adalah orang yang rumahnya bisa saya datangi tanpa sungkan. Orang yang bisa saya panggil dari depan pagar. Orang yang kalau saya lapar, saya bisa duduk di terasnya dan menunggu makanan keluar. Orang yang bersama mereka, saya tidak harus menjelaskan diri.
Itu sebabnya Leni, Manda, Oji, dan Arman terasa berbeda.
Mereka bukan sekadar teman.
Mereka bagian dari peta aman saya.
Sedangkan kelas 1A, pada awalnya, adalah tempat saya harus belajar membuat peta baru.
Pelan-pelan, saya bisa. Saya beradaptasi, meskipun tidak mudah. Saya bisa tampak baik-baik saja, duduk rapi, menjawab pertanyaan guru, mendapat ranking satu, dan tetap menghitung menit menuju bel keluar main.
Kalau sekarang saya mengingat kelas 1A, saya tidak mengingatnya sebagai masa yang buruk.
Tidak.
Saya mengingatnya sebagai salah satu tempat pertama saya belajar bahwa pintar di kelas tidak sama dengan berani di antara orang-orang. Membaca buku lebih mudah daripada membaca manusia. Seorang anak bisa lancar mengeja kalimat, tapi tetap gugup mengeja cara mendekati teman baru.
Mungkin sejak itu saya mulai mencari jalan lain. Menempuh jalur melalui tulisan, benda-benda kecil, tugas, serta rutinitas bersama orang-orang yang pelan-pelan menjadi akrab karena waktu memberi kami kesempatan untuk duduk berdekatan cukup lama.
Setiap kali mengingat SD Spadem, saya selalu melihat dua pintu kelas itu.
Satu pintu menuju 1B, tempat teman-teman dekat saya berada.
Satu pintu menuju 1A, tempat saya duduk dengan Iman, mendengar Dewi menagih uang kas, melihat papan tulis, dan belajar bahwa di tengah ramai anak-anak, seseorang bisa merasa sendirian tanpa pernah menangis.
Hari pertama masuk SD tidak membuat saya berlari pulang.
Tidak membuat saya menolak sekolah.
Tidak membuat saya menangis di depan guru.
Saya hanya duduk.
Diam.
Menunggu keluar main.