Langit Karangwangsa pecah. Air tumpah. Aspal abu-abu menjelma genangan keruh.
Tirta dan Listy berlari menembus tirai hujan. Mata pedih. Pakaian melekat di kulit. Dingin menembus pori-pori begitu mereka sampai di selasar kos berlantai dua. Gigi Tirta gemertak. Tubuhnya bergetar. Dia teringat jemuran kemeja kerja di atas dak beton.
Tirta melesat ke tangga atas. Napas memburu. Nihil. Di atas sana hanya ada kawat berkarat yang menangis direndam air.
Tirta turun kembali dengan langkah gontai. Air menetes dari ujung celana. Dia menghampiri kamar sebelah. Jaka sedang tenggelam di depan televisi tabung belasan inci. Stik Play Station bergetar di tangannya.
“Jak, lo lihat seragam gue yang di atas?” suara Tirta bergetar menahan gigil.
“Sudah gue amankan ke kamar lo,” jawab Jaka. Mata tidak bergeser dari lintasan balap fiktif di layar kaca.
Satu helaan napas lega keluar. Di atas kasur kapuk, tumpukan kain wangi matahari menyambut Tirta. Seusai membersihkan badan dengan air sumur yang dinginnya mirip es balok, Tirta membungkus diri dengan jaket tebal dan sarung. Dia menyeduh teh manis hangat.
Pintu kamar berderit. Jaka masuk membawa segelas teh serupa. Dia mengenyakkan pantat di kasur, tepat di samping Tirta yang meringkuk seperti trenggiling.
“Dari mana saja lo tadi?” Jaka meniup permukaan tehnya yang mengepul.
“Diajak Listy muter-muter ke Lapangan Bentara,” sahut Tirta dari balik kain sarung.
“Makin lengket saja gue lihat. Sudah jadian?”
Tirta menyibakkan kain yang menutupi muka. Dia menatap Jaka dengan sebal. “Pertanyaan lo itu-itu saja. Gue sama dia cuma berteman.”
Jaka terkekeh.
Sesosok tubuh muncul di ambang pintu yang terbuka setengah. Listy berdiri di sana. Tersenyum lebar. Dia sudah berganti celana jins biru tua. Sepasang stoking hitam tetap menyembul di balik pergelangan kaki. Kombinasi gaya yang selalu membuat Tirta heran.
“Eh, ada Jaka juga,” sapa Listy. Matanya beralih ke Tirta. “Tir, lagi sibuk tidak?”
“Sibuk sekali. Ini sedang mencoba bertahan hidup di balik selimut,” jawab Tirta ketus.
“Main catur lagi, yuk?” Listy memamerkan papan catur kayu mini dari balik punggung.
“Ogah. Besok-besok saja. Badanku mau rontok.”
“Kenapa? Takut kalah lagi seperti tadi?”
“Tadi itu kamu cuma beruntung karena aku belum fokus. Otakku belum panas.”
“Kalau dia tidak mau, sama aku saja, bagaimana?” Jaka menyela. Matanya menantang.
“Nah, lawan si Jaka saja sana,” Tirta menyambar usulan itu dengan cepat. “Dia jagoan komplek.”
“Ya sudah, ayo bertarung.” Listy melangkah masuk. Mengambil posisi di sisi kasur. “Geser sedikit, Tir.” Tubuh mungilnya menyenggol Tirta hingga terdesak ke sudut tembok kamar yang lembap.
“Kenapa tidak sekalian kamu dorong aku ke luar jendela?” gerutu Tirta.
“Sayang temboknya kalau sampai retak kena kepalamu, nanti pemilik kos menyuruh aku ganti rugi.”
“Terserah kamu lah,” Tirta menarik kembali selimutnya sampai melewati batas telinga.
Hawa hangat mulai terasa di balik kain pelindung. Ingatannya melayang pada masa belasan tahun lalu. Saat terakhir kali dia membiarkan tubuhnya diguyur hujan bersama anak-anak kampung di dekat pematang sawah. Sensasi hangat itu mendadak buyar oleh rasa berdenyut hebat di pelipis kiri. Sesuatu seperti menusuk-nusuk masuk ke tempurung kepala. Jantungnya berdegup cepat. Tirta mengerang. Memegangi kepala yang terasa seberat batu kali.
“Kenapa lo, Tir?” Jaka menyadari perubahan raut muka temannya yang mendadak pias.
“Sakit kepala. Efek air hujan tadi sepertinya. Sumpah, ini sakit sekali.” Tirta meringis. Memejamkan mata rapat-rapat demi mengusir denyutan yang kian merajalela.
“Gue belikan obat ke warung depan dulu,” Jaka bangkit. Menyambar payung di sudut pintu lalu melesat pergi.
Kini tinggal Listy yang duduk di tepi kasur. Memandang Tirta dengan tatapan menyelidik. Mirip anak kecil yang sedang mengamati tingkah laku seekor kumbang di dalam toples.
“Benar-benar sakit kepala?” tanyanya. Terdengar polos namun ada nada cemas yang disembunyikan.
“Menurutmu, kalau aku pegang kepala sambil merem-merem begini, yang sakit pantat gue?”
“Ih, ditanya baik-baik malah sinis begitu. Orang bertanya serius juga.”
“Iya, maaf. Ini benar-benar berdenyut sampai ke mata.” Tirta memilih mengalah. Tenaganya habis untuk menahan nyeri.
“Sini, biar aku pijat sedikit supaya agak reda.” Tanpa menunggu persetujuan, Listy menarik kepala Tirta. Gerakannya agak kasar, membuat Tirta sempat mengaduh.
Listy mengambil posisi di belakang kepala Tirta. Jemari tangannya yang lentik namun bertenaga mulai menekan titik-titik di pelipis Tirta. Gerakannya memutar. Konstan. Perlahan mengirimkan rasa nyaman yang aneh. Tirta terdiam. Rasa sakitnya seolah mendapat lawan sepadan. Dia membiarkan matanya terpejam. Menikmati setiap tekanan dari jemari Listy.
“Bagaimana? Agak mendingan?” suara Listy melunak di atas ubun-ubun Tirta.
“Enak juga. Ternyata kamu punya bakat terpendam.”
Langkah kaki yang tergesa memecah obrolan mereka. Jaka kembali dengan bagian bawah celananya yang basah kuyup. Memegang sebungkus obat.
“Nih, cepat minum,” Jaka melemparkan bungkusan itu ke kasur.
“Minum sana. Aku mau lanjut mematikan langkah catur Jaka,” Listy kembali beralih ke papan permainan. Tampak sangat bernafsu untuk segera memenangkan pertandingan yang sempat terkendala.
Tirta meraih segelas air putih. Menelan dua butir pil itu sekaligus. Dia kembali merebahkan diri. Denyut di kepalanya masih ada, tapi intensitasnya berkurang setelah sentuhan tangan Listy tadi. Di luar jendela, simfoni air hujan yang menghantam seng atap rumah tetangga menjadi latar suara yang monoton. Perlahan menyeret kesadaran Tirta ke dasar tidur yang lelap.
***
Tirta tersentak bangun. Kamar sudah temaram. Rasa sakit di sisi kiri kepalanya kembali datang. Kali ini dengan daya hantam yang jauh lebih liar. Refleks, dia mencengkeram dahinya yang basah oleh keringat dingin. Leher dan tengkuknya memanas. Kontras dengan udara malam pasca-hujan yang menusuk tulang. Rasa pening itu memicu gelombang mual yang hebat dari dasar lambungnya.
Tirta merangkak turun dari kasur dengan pandangan yang berputar dan dipenuhi bintik-bintik cahaya hitam. Dia setengah berlari menuju kamar mandi di ujung lorong kos. Di depan kloset, dia memuntahkan cairan asam yang membakar tenggorokannya hingga dadanya terasa sesak. Setelah menyiram sisa kemalangan itu, dia kembali ke kamar dengan langkah kaki yang limbung. Memegangi dinding pembatas agar tidak ambruk.
Anehnya, saat dia meraba dahi sendiri, suhunya normal. Tidak ada demam.
“Kamu kenapa, Tir?” Listy tiba-tiba muncul di ambang pintu. Wajahnya menunjukkan guratan cemas. “Aku dengar suara orang muntah-muntah dari seberang. Kamu tidak apa-apa?”
“Masuk angin sepertinya,” jawab Tirta dengan suara serak yang hampir habis.
“Minum obat lagi saja kalau begitu.”
“Sudah tadi sebelum tidur.”
“Ya sudah, tidur lagi. Jangan banyak gerak dulu,” Listy memegang lengan Tirta. Membantunya naik ke atas kasur busa yang sudah agak cekung itu.
Napas Tirta memburu. Rasa sakit di kepalanya kini menjalar ke bagian belakang leher. Tegang bagai kawat jemuran yang ditarik kencang.
“Muka kamu pucat sekali,” Listy mengulurkan tangan. Menyibakkan beberapa helai rambut yang menempel di dahi Tirta karena keringat. Telapak tangannya terasa hangat. Memberikan kontras yang nyaman di kulit Tirta yang dingin. “Aku kerok saja bagaimana?”
“Jangan. Tidak usah. Aku tidak terbiasa dikerok. Malah tambah sakit nanti.”
“Tunggu di sini,” Listy mengabaikan protes itu. Melesat ke kamarnya dan kembali membawa sekeping koin kuningan kuno serta sebotol kecil balsem hijau. “Ayo, buka bajunya.”
Listy menarik bahu Tirta hingga terduduk. Dengan cekatan dia menyergap ujung kaos Tirta. Menariknya ke atas melewati kepala tanpa memedulikan hidung Tirta yang sempat tersangkut kain.
Logam dingin koin kuningan itu mulai menyentuh kulit punggung Tirta. Diikuti aroma mentol yang tajam memenuhi rongga kamar. Di luar dugaan, balsem yang dibawa Listy tidak membakar. Ada sensasi dingin yang perlahan meresap ke dalam pori-porinya seiring dengan guratan-guratan konstan yang dibuat Listy di sepanjang tulang rusuknya. Sentuhan Listy ternyata cukup ahli. Tirta mulai merasakan dadanya yang semula sesak menjadi sedikit lebih lapang.
“Nih, pakai lagi kaosmu,” Listy melempar selembar kain katun itu ke punggung Tirta setelah menyelesaikan kerokannya.
Tirta membiarkan kaos itu menutupi punggungnya yang kini dipenuhi garis-garris merah tua. Terasa lengket namun ada rasa hangat yang menjalar rata. Listy berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tangannya yang berminyak. Dia kembali dan duduk bersila di lantai, bersandar pada tepi ranjang Tirta.
“Lain kali kalau mau mengerok aku, koinnya disimpan saja,” celetuk Tirta. Matanya menatap langit-langit.
“Terus pakai apa? Daun pisang?”
“Pakai jari tanganmu saja langsung. Lebih ramah di kulit.”
“Enak saja! Tuman!”
“Kamu tahu tidak, Lis?”
“Tidak tahu dan tidak mau tahu,” potong Listy cepat.
“Kebiasaan. Dengarkan dulu orang bicara sampai selesai, jangan main potong saja.”
Listy terkekeh. “Iya, iya. Apa memangnya?”
“Kamu itu persis nenek sihir,” Tirta menjeda kalimatnya saat melihat tangan kiri Listy sudah bergerak meraih botol balsem kaca, “tapi jenis yang punya hati baik di akhir cerita dongeng anak-anak.”
Listy menurunkan kembali tangannya. “Tetap saja sebutan itu membuat aku terdengar tua. Memang mukaku sudah berkerut? Rambutku memutih?”
Tirta tertawa kecil. Rasa sakit di kepalanya seolah menguap bersama candaan malam itu.
Malam bergulir kian jauh. Melampaui batas kewajaran jam malam sebuah rumah kos mahasiswa. Obrolan mereka bergerak acak. Melompat dari satu topik konyol ke topik hambar lainnya, hingga akhirnya ritme pembicaraan melambat dengan sendirinya karena kehabisan bahan bakar. Pertanyaan Tirta hanya dibalas dengan gumaman pendek. Lalu senyap.
Suara napas yang teratur dan halus mulai terdengar dari bawah kasur. Tirta menengokkan kepalanya ke tepi ranjang. Listy sudah terlelap di atas tikar plastik. Berbantalkan lengannya sendiri. Dalam tidurnya, gurat kekerasan kepala yang biasanya mendominasi wajah gadis itu surut sepenuhnya. Digantikan oleh ekspresi polos yang damai. Seolah semua rahasia dan benteng pertahanan yang selalu dia bangun rapat-rapat saat terjaga, ikut luruh ke dalam mimpi.
Di luar, hujan kembali datang dalam bentuk rintik yang rapat. Mengetuk seng-seng tua dengan ritme yang monoton. Sesekali kilatan cahaya lampu badai dari langit malam menembus celah ventilasi. Menerangi kamar sesaat sebelum diikuti gemuruh rendah di kejauhan.
Tirta masih terjaga. Matanya enggan terpejam. Ada rasa nyaman yang asing merayapi dadanya. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak dia izinkan singgah sejak badai masa lalu menghancurkan hidupnya. Dia memandangi wajah gadis berstoking hitam yang kini mendengkur halus di samping kasurnya. Beberapa bulan lalu, dia hanyalah sosok misterius yang gerak-geriknya selalu Tirta intip dari balik gorden jendela karena rasa penasaran yang konyol. Kini, takdir membawa gadis itu tidur begitu dekat dengannya. Menjadi orang yang merawatnya di kala sakit.
Tirta tersenyum tipis dalam kegelapan kamar. Dia menyadari, di balik segala keanehan dan tembok tinggi yang membatasi kepribadian Listy, ada keindahan tersendiri yang tidak perlu terburu-buru untuk diungkap. Biarkan semuanya mengalir mengikuti takdirnya sendiri. Di atas kasur busa itu, Tirta terus menatap wajah yang damai itu hingga perlahan-lahan kelopak matanya terasa berat, dan dia pun menyerah pada kantuk yang menjemputnya.