Insiden Sentuhan Tanpa Sengaja

Bau kapur tulis bercampur keringat anak-anak remaja tanggung menguap di bawah atap seng ruang kelas delapan F. Udara siang itu terasa gerah, segerah gejolak hormonal yang meletup-letup di kepala Boim. Remaja belasan tahun selalu memiliki cara sendiri untuk merayakan kebodohan mereka. Selama ini, Boim menganggap Alika sekadar teman sebangku yang asyik diajak bertukar contekan tugas sejarah atau melempar gumpalan kertas ke arah punggung ketua kelas.

Semua kenyamanan tanpa batas gender itu mendadak menguap setelah sebuah insiden di lorong belakang dekat laboratorium biologi.

Siang itu, lorong sekolah sepi karena sebagian besar murid berkerumun di kantin. Alika merebut buku komik milik Boim, memancing aksi kejar-kejaran yang kekanak-kanakan di antara tumpukan meja rusak. Boim menjulurkan tangan kanan, berniat mencengkeram ujung jaket Alika untuk menghentikan pelariannya.

Langkah Alika mendadak berhenti karena ujung sepatunya tersandung lantai semen yang retak. Tubuhnya berputar.

Tangan Boim yang sudah meluncur deras kehilangan sasaran awal. Telapak tangannya justru mendarat telak di bagian dada Alika. Jemarinya meremas secara refleks, merasakan gundukan lunak yang baru bertumbuh di balik seragam putih yang tipis. Boim mendadak kaku, membeku di tempat dengan telapak tangan yang masih menempel erat.

Pikiran Boim langsung melompat pada peringatan-peringatan menakutkan tentang reproduksi remaja. Darahnya berdesir hebat, membuat sekujur badannya merinding dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia ketakutan setengah mati, membayangkan Alika akan mendadak hamil dalam waktu beberapa menit ke depan akibat sentuhan tersebut.

Alika mundur satu langkah, mukanya merah padam menyerupai warna sirup cocopandan di kantin. Boim menarik tangannya dengan canggung, memandangi jemarinya sendiri yang mendadak terasa asing. Keheningan yang ganjil dan mencekam langsung membungkus mereka berdua di lorong yang pengap itu.

Ingatan Boim mendadak melompat pada percakapannya dengan Bagas di bawah pohon keres tempo hari. Bagas, kawannya yang sok tahu urusan perempuan, pernah berbisik penuh rahasia.

“Kamu perhatikan anak-anak perempuan kelas delapan sekarang, Im. Mereka itu golongan remaja tanggung yang baru mengalami pertumbuhan fisik, istilahnya baru mekar,” kata Bagas sambil mengunyah es mambo.

Boim saat itu hanya melongo dongo. “Mekar bagaimana maksudmu?”

“Dasar kurang pergaulan. Maksudnya dada mereka mulai menonjol, tandanya mereka sudah bukan anak-anak lagi.”

Sekarang, Boim merasakan sendiri kebenaran ucapan Bagas lewat telapak tangannya. Efek sentuhan tidak sengaja itu merusak konsentrasi belajarnya sepanjang sisa jam pelajaran sore. Boim hanya menatap papan tulis dengan pandangan kosong, membayangkan bentuk gundukan di balik seragam Alika. Ketika bel pulang berbunyi, dia berjalan menyusuri trotoar dengan senyum-senyum sendiri seperti orang kurang ingatan.

Dasar bocah bodoh, setibanya di rumah, Boim langsung mencari ibunya yang sedang melipat pakaian di ruang tengah.

“Ibu, tadi di sekolah aku tidak sengaja memegang dada Alika!” aduan itu meluncur polos tanpa saringan.

Satu sabetan kain celana langsung mendarat sukses di lengan atasnya. Ibunya melotot dengan mata nyaris keluar. “Kurang ajar kamu ya! Itu area terlarang perempuan, Boim! Kamu harus minta maaf besok pagi, jangan jadi anak nakal!”

Boim meringis kesakitan, memegangi lengannya yang memerah. Sepanjang malam dia bergulingan di atas kasur kapuknya, tidak bisa memejamkan mata karena bayangan Alika terus berputar-putar di langit-langit kamar.

Esok harinya, saat bel istirahat pertama berdentang, Boim langsung mencegat Alika di dekat mading sekolah.

“Alika, tunggu sebentar,” cetus Boim sambil menarik ujung lengan seragam gadis itu menjauh dari kerumunan.

Alika menoleh dengan muka tersipu. “Ada apa lagi, Im?”

“Masalah yang kemarin, aku minta maaf banget. Sumpah, aku tidak ada niat sengaja berbuat mesum.”

“Iya, tidak apa-apa. Aku tahu kamu cuma panik waktu aku mau jatuh,” jawab Alika pelan, matanya menunduk menatap ujung sepatu jinjingnya.

Boim menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. “Tapi gara-gara kejadian itu, aku jadi terus memikirkanmu semalaman. Aku suka sama kamu, Alika. Mau tidak jadi pacarku?”

Alika terdiam beberapa detik, memainkan ujung jilbabnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Iya, aku mau.”

Kegembiraan Boim membubung tinggi, rasanya dia ingin melompat melewati pagar sekolah. Sayangnya, kebahagiaan itu hanya berumur sepanjang waktu istirahat. Tepat saat bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi, Alika menepuk pundak Boim dengan wajah serius.

“Boim, sepertinya kita batalkan saja yang tadi,” ujar Alika tanpa beban.

Boim melongo, mulutnya menganga lebar. “Lho, kenapa? Kan kamu baru saja menerimaku?”

“Aku berubah pikiran. Rasanya aneh kalau kita pacaran, lebih baik kita berteman biasa saja seperti dulu. Anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi.”

Alika melangkah masuk ke dalam kelas dengan santai, meninggalkan Boim yang berdiri mematung di koridor sekolah. Hubungan asmara yang melelahkan itu resmi kandas dalam waktu empat puluh lima menit, memecahkan rekor pacaran paling singkat sekaligus paling konyol dalam sejarah SMP Negeri Tiga.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(