Desa Teluk Sunyi bukanlah tempat yang ramah bagi orang asing. Rumah-rumah panggung di sana tampak saling bersandar, lesu, seolah menanggung beban dosa dari masa lalu yang tak pernah dibicarakan. Bagi Bima, seorang insinyur akustik yang gila kerja, kedatangannya ke sini hanyalah soal angka. Ia datang untuk memecahkan misteri anomali frekuensi di danau yang memagari desa itu. Baginya, suara hanyalah gelombang yang bisa dijinakkan dengan matematika.
Pak Darmo, pria sepuh pemilik penginapan tempat Bima tinggal, memberikan peringatan dengan nada dingin. Ia tidak bicara banyak soal hantu atau kutukan. Ia hanya berujar bahwa danau itu memiliki detak jantung sendiri. Bima mengabaikannya. Ilmu pengetahuan tidak mengenal takhayul.
Malam kedua, Bima turun ke tepi danau. Air hitam pekat di hadapannya tampak seperti cermin retak. Ia memasang hidrofon, alat penyadap suara bawah air, dan memasang earphone. Awalnya, hanya desis air yang ia dengar. Namun, tak lama kemudian, frekuensi itu berubah. Ada pola yang berdenyut, ritme yang berupaya merangkai kata. Bima mengerutkan dahi. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengintip melalui gelombang suara itu.
Sesampainya di kamar, Bima memutar ulang rekamannya. Ia memperbesar volumenya hingga batas maksimal. Di sana, terkubur jauh di bawah desis air, ia mendengar bisikan.
Itu suaranya sendiri. Menyebut namanya, berulang-ulang, dengan nada yang sedikit terpeleset di akhir suku kata. Bima mematikan laptop dengan tangan gemetar.
Besoknya, Bima kembali ke danau saat matahari masih tinggi. Ia ingin pembuktian. Ia ingin kontrol. Begitu alatnya menyentuh permukaan air, danau itu seolah menyambut. Suara-suara lain muncul, tumpang tindih, terdengar seperti kerumunan orang yang sedang menangis sekaligus memberi peringatan. Saat Bima mendekatkan mikrofon ke permukaan air, ia mendengar suaranya sendiri lagi, kali ini bukan sekadar menyebut nama, tapi mengundang.
“Mendekatlah, Bima.”
Bima lari. Ia meninggalkan alat-alatnya di lumpur. Malam itu, dinding penginapan bergetar. Ritme yang sama yang ia rekam di danau kini bergema di dalam kayu-kayu tua rumah itu. Pak Darmo mengetuk pintunya. Pria tua itu tidak lagi menyembunyikan kecemasannya. Ia bercerita bahwa puluhan tahun silam, sebuah tim riset pernah melakukan eksperimen resonansi bawah air di sini. Mereka mencoba mengirimkan sinyal ke dasar bumi. Sinyal itu berhasil, tapi sesuatu di bawah sana mulai menjawab.
Proyek itu dihentikan, namun danau itu tidak pernah berhenti mendengar.
Pak Darmo bicara dengan nada datar, seolah ia sudah terbiasa dengan kematian. Orang-orang yang mendengar terlalu lama, katanya, perlahan akan kehilangan diri mereka sendiri. Air itu belajar meniru, lalu menggantikan.
Bima tidak percaya. Namun, rasa penasaran tetap menggerogoti jiwanya. Sebelum fajar, ia kembali ke tepi danau untuk satu ujian terakhir. Ia berbicara pada air, meminta danau itu mengulangi frasa yang ia tentukan.
Danau itu menurut. Ia mengulangi kata-kata Bima, lalu menambahkan sesuatu yang tidak pernah diucapkan Bima. Sesuatu yang terdengar sangat intim, sangat personal.
Bima terlonjak. Ia mendengar suaranya sendiri, bukan dari alat perekam, bukan dari air, tapi dari dalam kepalanya. Suara itu berbicara di dalam pikiran, memanggilnya untuk kembali ke pelukan air yang dingin.
Ia berlari kembali ke penginapan dengan napas tersengal. Pak Darmo berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sudah tahu segalanya. Ia tidak bertanya, ia hanya membiarkan Bima masuk. Bima masuk ke dalam kamar, mengunci pintu, dan bersandar di dinding dengan peluh dingin membanjiri tubuhnya.
Ia mencoba mengatur napas. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah aman.
Namun, saat ia terdiam, ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku. Ritme yang tadi ia dengar dari danau, detak yang bergema di dinding kayu penginapan itu, kini tidak lagi terdengar dari luar.
Ritme itu berdetak di dalam dadanya sendiri.
Ia meletakkan tangan di dada, merasakan jantungnya tidak lagi berdetak dengan ritme manusia. Ia mulai mendengar suara-suara di bawah detak jantung itu. Suara air, suara mesin riset yang terkubur, dan suara suaranya sendiri yang kini mulai memanggil nama orang lain yang ia cintai. Danau itu tidak lagi meniru Bima. Danau itu kini telah menjadi Bima.