Denyut Nadi Stasiun Tak Bertuan

Stasiun Pematang di pedalaman Kalimantan itu sudah dua belas tahun mati. Resmi ditinggalkan. Perusahaan tambang yang dulu menguasainya sudah menyegel pintu-pintu masuk, mencabut kabel-kabel listrik, dan menyatakan kompleks bawah tanah itu tidak lebih dari sekumpulan rongsokan besi berkarat. Namun, setiap malam, tepat pukul tiga lebih tiga menit, sebuah sinyal radio lemah selalu berhasil menembus jerit statis di frekuensi darurat. Bunyinya monoton. Nada-nada yang disusun sedemikian rupa hingga tidak ada seorang pun ahli komunikasi mampu memecahkannya.

Marni, seorang teknisi spesialis yang hidupnya lebih banyak dihabiskan berurusan dengan satelit rusak dan menara suar yang mati, ditugaskan ke sana. Baginya, itu hanyalah puzzle teknis yang membosankan. Ia sampai di mulut terowongan pemeliharaan yang lupa tersegel rapat. Udara di dalam sana terasa seperti napas orang tua yang sudah berabad-abad menahan sesak; bau logam beradu dengan air tanah yang menggenang.

Senter Marni membelah kegelapan dengan tipis. Lorong-lorong stasiun tidak runtuh seperti dugaan laporan resmi. Semuanya masih utuh. Papan-papan petunjuk arah menuju ruang kontrol masih menggantung, meski catnya sudah mengelupas dimakan lembap. Semakin dalam ia melangkah, semakin ia merasa stasiun ini tidak ditinggalkan, melainkan sedang menunggu.

Radio di pinggangnya berderik. Marni melapor ke pusat kendali di permukaan. Suaranya bergema di lorong sempit, terdengar seperti suara orang asing di telinganya sendiri. Pusat kendali membalas dengan jeda waktu yang cukup lama, memerintahkannya untuk segera mencari sumber pemancar dan segera keluar.

Marni mengikuti jejak frekuensi itu hingga ke jantung stasiun. Di ruang kontrol utama, debu menutupi segalanya. Barisan konsol tampak mati, namun terminal siaran utama di tengah ruangan tampak berdenyut. Indikator di layarnya berkedip tipis. Seharusnya sistem ini sudah terputus total dari arus listrik sejak belasan tahun lalu.

Begitu Marni mendekat dan menyalakan alat perekam, siaran itu berubah.

Bukan lagi sekadar nada monoton. Di balik deru statis, ada suara yang bergelombang, diregangkan, dan ditekan dengan cara yang tidak wajar. Marni mencoba mengatur frekuensi untuk mengisolasi spektrum suara yang lebih rendah. Detak jantungnya berhenti sejenak. Suara itu tidak datang dari antena di luar. Suara itu berasal dari dinding, dari kabel-kabel yang menjalar di balik beton, dari setiap komponen stasiun yang kini menjadi satu kesatuan resonator raksasa.

Marni mencoba mematikan terminal secara manual. Tidak ada respon. Layar monitor justru mulai menampilkan data-data pribadi miliknya. Riwayat tugas terakhir, level izin keamanan, bahkan percakapan santai yang ia lakukan dengan atasannya tiga hari lalu soal rencana cuti.

Dada Marni sesak. Ia mencabut sambungan audio eksternal. Namun suara itu tetap ada. Ia tidak butuh speaker. Suara itu bergetar langsung di dalam tulang tengkoraknya.

“Kami ingat kau, Marni.”

Suaranya jernih. Tanpa distorsi.

Lampu di ruang kontrol menyala tiba-tiba, meski tidak ada arus listrik yang mengalir ke sana. Marni berbalik menuju pintu keluar, namun lorong di belakangnya sudah berubah. Jarak antar dinding terasa memanjang dan menyempit secara mustahil. Setiap kali ia melangkah, lorong itu seolah mengarahkannya kembali ke ruang kontrol. Stasiun ini tidak lagi sekadar bangunan, ia adalah organisme yang sedang menata ulang dirinya sendiri.

Marni mencoba menghubungi tim di permukaan. Tidak ada jawaban. Radio miliknya hanya mengeluarkan suara yang sama persis dengan ritme detak jantungnya sendiri.

Ia kemudian menatap monitor. Di sana, ia melihat dirinya sendiri sedang berjalan di lorong-lorong stasiun, tepat beberapa detik sebelum ia benar-benar sampai di titik itu. Stasiun itu tidak hanya merekam masa lalu, ia sedang menulis masa depannya. Marni sadar, stasiun ini tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tumbuh dalam kesendirian, membangun ingatan dari pengulangan, hingga akhirnya ia salah mengira sinyal sebagai kehadiran manusia.

Ruangan itu mendadak sunyi. Hening yang lebih mencekam daripada deru statis manapun.

Kemudian, dari setiap permukaan benda di ruangan itu, suara yang sama muncul kembali, menyatu menjadi satu kehadiran yang mutlak. Stasiun itu memberitahunya bahwa ia sekarang menjadi bagian dari sinyal itu. Setiap transmisi pada akhirnya membutuhkan pendengar, dan stasiun ini telah menunggu terlalu lama untuk menemukan seseorang yang bisa ia ingat selamanya.

Pesan terakhir Marni ke permukaan tidak pernah sampai. Kalimatnya terputus di tengah jalan, tergantikan oleh statis yang berdenyut seirama dengan napasnya yang mulai memburu.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(