Sore itu, langit di atas sebuah kota kecil di Jawa Barat berwarna jingga pucat. Jalanan tampak lengang. Hanya sesekali sepeda motor melintas, memecah kesunyian yang merambat bersama turunnya kabut tipis. Ratih berjalan santai. Tas sekolah tersampir di bahunya, beban ringan yang menemaninya pulang kerja dari sebuah toko kelontong. Dia memikirkan menu makan malam. Dia memikirkan ujian akhir minggu depan. Tidak ada tanda bahaya. Tidak ada firasat buruk yang membisikinya untuk berlari.
Tepat di persimpangan jalan yang menuju rumahnya, sebuah mobil berhenti. Empat pemuda keluar. Mereka tidak tampak seperti penjahat dalam film. Mereka tampak seperti anak sekolah yang baru pulang bermain bola. Namun, senyum mereka dingin.
“Hei, ikut kami sebentar,” ujar salah satu dari mereka, suaranya datar, tanpa emosi.
Ratih menggeleng. “Tidak, aku harus pulang. Ibu menunggu.”
“Jangan banyak tanya,” potong pemuda lainnya, tangannya mencengkeram lengan Ratih dengan kasar.
Sesuatu yang seharusnya berakhir dalam lima belas menit berubah menjadi neraka yang berlangsung selama empat puluh empat hari. Mereka membawa Ratih ke sebuah rumah di ujung gang yang tampak normal. Rumah itu dikelilingi pagar tinggi. Di dalamnya, kehidupan yang seharusnya menjadi masa depan Ratih, berhenti.
Hari-hari pertama adalah kabut ketakutan. Ratih menangis. Dia memohon. Dia menunjuk ke arah pintu depan, “Tolong, biarkan aku pulang. Ibu pasti mencari.”
“Diam atau kamu tahu apa yang terjadi,” ancam salah satu dari mereka sambil memutar pisau di tangannya.
Ketakutan melumpuhkan. Di luar rumah, kehidupan tetap berjalan. Tetangga menjemur pakaian. Tukang bakso lewat dengan bunyi denting mangkuk yang khas. Orang-orang tertawa di depan televisi. Mereka tidak tahu, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri, seorang gadis remaja sedang dihancurkan perlahan-lahan.
Minggu-minggu berlalu. Ancaman menjadi senjata utama. Mereka memaksa Ratih menelepon keluarganya, memerintahkannya untuk berbohong bahwa dia sedang menginap di rumah teman. Kepolisian mencari. Keluarga menempel poster di tiang-tiang listrik. Namun, kebohongan yang dipaksakan itu membuat jejak Ratih samar, seolah dia memang sengaja pergi.
“Kapan aku bisa pulang?” tanya Ratih suatu pagi, suaranya nyaris hilang karena luka di tenggorokannya.
“Kamu tidak akan pernah pulang,” jawab pemuda itu sambil tertawa, suara yang terdengar lebih menyeramkan dari teriakan apa pun.
Udara di dalam ruangan itu terasa berat. Bau anyir dan debu bercampur menjadi satu. Ratih tidak lagi menghitung hari. Dia hanya menghitung napas. Setiap kali dia mencoba melawan, kekerasan yang dia terima jauh lebih brutal. Mereka menggunakan ancaman tentang kelompok geng yang lebih besar, mengklaim bahwa jika Ratih berani bersuara, keluarga Ratih akan menjadi korban selanjutnya.
Pernah suatu malam, seseorang mengetuk pintu. Itu tetangga yang ingin meminjam tangga. Ratih menahan napas. Dia ingin berteriak. Namun, mata pemuda di sampingnya berkilat tajam, menekan mulut Ratih dengan tangan yang kuat. Tetangga itu pergi setelah percakapan singkat. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang bertanya apa yang terjadi di balik pintu rumah yang tampak tenang itu.
Januari datang membawa dingin yang menggigit. Ratih sudah tidak sanggup berdiri. Tubuhnya bukan lagi tubuh seorang gadis remaja yang penuh mimpi. Itu hanya tumpukan luka yang dibungkus rasa sakit yang tak terlukiskan.
“Ibu,” bisiknya lemah, memanggil nama yang selalu dia jaga di dalam lubuk hatinya.
Pada tanggal empat Januari, napasnya berhenti.
Rumah itu kembali sunyi. Mereka membawa tubuhnya pergi ke sebuah kawasan industri yang jauh, berharap tanah akan menutup segala kebenaran. Mereka pikir mereka berhasil. Namun, rahasia adalah beban yang tidak bisa disimpan selamanya. Seseorang mulai bicara saat tertangkap dalam kasus lain. Polisi mulai mencocokkan kepingan teka-teki yang selama ini mereka abaikan.
Saat kebenaran terungkap, seluruh kota gempar. Orang-orang tidak sanggup membaca beritanya. Mereka tidak sanggup membayangkan bagaimana sebuah komunitas bisa membiarkan kejahatan itu terjadi begitu lama. Mengapa tetangga diam? Mengapa mereka tidak curiga dengan kegaduhan yang terdengar di balik dinding?
Banyak yang menyalahkan hukum yang terlalu lunak bagi pelaku di bawah umur. Namun, yang tertinggal bukanlah sekadar pasal hukum atau debat tentang keadilan. Yang tertinggal adalah pertanyaan tentang kemanusiaan. Tentang bagaimana ketakutan bisa membuat orang menutup mata. Tentang bagaimana sebuah rumah di tengah pemukiman bisa menjadi tempat di mana seorang gadis kehilangan segalanya, sementara dunia di luar sana tetap sibuk dengan urusannya sendiri.
Ratih tidak pernah sampai di rumah sore itu. Dia tidak pernah makan malam bersama ibunya. Dia tidak pernah menjadi wanita dewasa yang dia rencanakan. Dia hanya menjadi sebuah nama yang kini diingat sebagai peringatan, bahwa terkadang, bahaya terbesar tidak datang dari tempat yang asing, melainkan dari balik pintu yang tampak paling biasa.