Desa Telaga Sunyi menyimpan rahasia busuk di balik kabut tebal yang tak pernah benar-benar pergi. Penduduk desa mematikan lampu rumah lebih awal, menutup daun jendela rapat-rapat, demi menghindari suara biola yang menyayat malam. Melodi itu bukan sekadar musik. Itu ratapan roh yang dendam.
Ratna, seorang pemain biola dengan jemari lentik, mendengar cerita itu bukan sebagai peringatan. Baginya, itu tantangan. Dia ingin membuktikan bahwa ketakutan penduduk desa hanyalah dongeng pengantar tidur bagi pengecut.
Dia melangkah menuju rumah tua di tepi tebing, sebuah bangunan kayu yang sudah dimakan rayap. Bau kemenyan dan debu tua menyambutnya tepat di ambang pintu.
“Konyol sekali,” gumamnya, meski suara detak jantungnya sendiri terdengar keras di telinga.
Dia masuk ke ruang tengah. Debu menari di bawah sorot cahaya bulan. Di sana, di atas stand musik yang miring, terletak sebuah buku partitur berjudul Simfoni Kepedihan. Ratna mengangkat biolanya. Dia menarik busur, membiarkan nada pertama mengalun. Suaranya perih, menusuk tulang.
Tiba-tiba, suhu ruangan turun drastis. Ratna berhenti sejenak, menelan ludah. Napasnya membentuk uap.
“Ayo mainkan lagi,” sebuah suara mendesah tepat di belakang telinganya.
Ratna memutar tubuh. Di sudut gelap, seorang perempuan bergaun lusuh berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dipenuhi kesedihan yang tak tertanggungkan. Air mata hitam mengalir di pipinya yang transparan.
“Rohku terkunci di dalam kotak kayu itu,” perempuan itu menunjuk biola yang dipegang Ratna. “Selesaikan lagunya. Biarkan aku pergi.”
Tangan Ratna bergetar. Dia nyaris menjatuhkan biola itu. Ketakutan merayap di punggungnya, tapi rasa penasaran dan keberanian aneh menahannya untuk tidak berlari. Dia meletakkan kembali busurnya ke senar. Kali ini, dia bermain dengan seluruh emosi yang dia miliki.
Nada-nada melengking tinggi, mengisi ruangan dengan resonansi yang menghancurkan kaca-kaca jendela tua. Semakin cepat dia bermain, semakin kuat tubuh hantu itu bergetar.
Crescendo.
Ratna menarik busurnya sekuat tenaga di nada terakhir.
Ledakan energi muncul dari biola, menjalar ke seluruh penjuru rumah. Kayu-kayu dinding mengerang, retak, dan terlepas dari pakunya. Hantu itu menjerit, sebuah jeritan panjang yang membebaskan, sebelum tubuhnya menguap menjadi debu yang hilang tertiup angin malam.
Ratna terduduk lemas. Hening kembali merajai Desa Telaga Sunyi.
Dia keluar dari reruntuhan rumah tua itu tepat saat matahari pertama menyentuh ufuk timur. Penduduk desa perlahan keluar dari persembunyian mereka, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ratna tidak berkata apa pun. Dia hanya menyimpan biolanya, meninggalkan tempat itu selamanya.
Nama Ratna kini menjadi legenda baru di warung-warung kopi. Bukan lagi tentang kutukan, melainkan tentang keberanian seseorang menghadapi kegelapan. Patung perunggu Ratna berdiri tegak di alun-alun desa, memegang biola yang pernah membebaskan jiwa dari siksaan abadi. Musik, bagi mereka, sekarang bukan lagi perihal takut, melainkan bukti bahwa luka paling dalam bisa disembuhkan melalui nada yang tepat.