Ini lanjutan tulisan sebelumnya, dan seperti kemarin, saya pisahkan dulu bagian yang berbau fakta dari bagian yang berbau warung kopi. Yang pertama pendek. Yang kedua panjang. Hidup memang begitu.
Fakta dulu. Selasa 3 November, Menko Hukum Yusril Ihza Mahendra menyatakan Presiden sudah tahu soal dugaan penyadapan itu sejak awal, karena Kapolri sendiri yang melapor. Kapolrinya sekarang Jenderal Suyudi Ario Seto. Sangkaan terhadap tiga jenderal itu mencakup penyadapan ilegal, penghapusan data elektronik, dan akses ilegal. Yusril juga mengakui satu hal yang menarik: sampai sekarang kita tidak tahu untuk apa penyadapan itu dilakukan. Menko Hukum yang bilang begitu, bukan saya. Dan satu fakta lagi, yang akan jadi bahan bakar seluruh tulisan ini: sehari sebelum pengumuman, 2 November, Kapolri menerbitkan telegram mutasi untuk 264 pati dan pamen Polri. Humas Polri menyebutnya penyegaran organisasi biasa.
Sekarang masuk wilayah tebak-tebakan. Silakan duduk yang nyaman. Jangan lupa siapkan kopi.
Mulai dari Gibran.
Hanya empat hari sebelum nama Listyo Sigit muncul di layar televisi, pada 30 Oktober, Mahkamah Agung menyatakan surat penyetaraan pendidikan yang dipakai Gibran untuk mendaftar tidak sah. Dua kabar buruk dalam empat hari, datang dari dua pintu yang berbeda. (Saya tidak menuduh keduanya berhubungan. Saya cuma mencoba mengalkulasi.) Gede Pasek, sebulan lebih awal, sudah mengomentari penunjukan Listyo di Istana dengan kalimat yang kini terdengar seperti ramalan: dinaikkan untuk diredam. Sedangkan Viva menjuluki Listyo jenderal kepercayaan Jokowi, yang artinya, bagi pembaca yang suka menyambung titik, ia orang dekat ayah sang wakil presiden.
Skenario saya begini. Ketika orang dekat poros lama diduga menyadap kepala negara, posisi Gibran berubah. Dari co-pilot, ia jadi sandera politik. Tidak ada yang bilang ia ikut menyadap, tidak ada sumber yang menyebut begitu, dan saya pun tidak. Tapi dalam politik, orang tidak harus bersalah untuk jadi jaminan.
Prabowo tidak akan memecat Gibran. Memakzulkan wakil presiden lewat Pasal 7A dan 7B butuh DPR, MK, lalu MPR, dan hasilnya bisa mengguncang negeri. Terlalu mahal. Cara yang lebih bersih dan lebih tenang namanya pengasingan efektif: lame duck. Tugas-tugas strategis soal geopolitik, pertahanan, dan anggaran pelan-pelan ditarik ke lingkar inti Presiden. Wakil presiden dapat bagian memotong pita, meresmikan proyek sosial, dan hadir di upacara. Fotonya akan tetap bagus, dan seperti meneruskan kegiatan rutin sang ayah sebelumnya.
Saya membayangkan Gibran seperti penghuni aquarium kaca. Di dalamnya, saya duga, komunikasi dan lalu lintas staf di sekitar sang wakil presiden berada di bawah pantauan ketat, entah dari kontra-intelijen atau pihak lain yang pandai. Ironi yang indah: yang dulu diduga ikut sistem penyadapan kini hidup di bawah lampu sorot yang sama. Senjata makan tuan, kah?
Penangkapan Listyo juga memberi satu kartu truf. Berkas perkaranya bisa ditarik lebih jauh kapan saja untuk mencari siapa dalang di balik layar, dan bagi poros lama, itu kalimat yang paling tidak enak didengar. Gibran terjebak dilema: bertahan sebagai simbol tanpa gigi, atau mundur dan membuka konfrontasi terbuka yang bisa merembet ke keluarganya. Dua-duanya mahal.
Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2467/XI/KEP./2026, tertanggal 2 November. Dari 264 personel yang dimutasi, 224 masuk kategori promosi dan flat. Humas menyebutnya wajar dan bagian dari pembinaan karier. Saya percaya mutasi memang rutin. Tapi jadwalnya rapi sekali: telegram turun hari Senin, tiga jenderal ditetapkan tersangka hari Selasa. Saya tidak pernah ke kantin Mabes. Tapi saya bisa membayangkan sebuah tempat nongkrong di mana beredar rumor bahwa itu adalah kebetulan paling tertib yang pernah dicatat sejarah Bhayangkara.
Dugaan saya, yang tentu saja belum ada konfirmasinya: perwira di pos-pos vital, seperti intelijen, reserse, dan siber, sedang dalam mode bertahan. Payung pelindung lama sudah lipat di Rutan Mabes. Akses ke server penyadapan, kalau skenario saya benar, dikunci ulang dan diaudit. Pemeriksaan internal oleh Propam dan Irwasum mungkin berembus, walau yang satu itu rumor semata. Perwira di daerah yang dulu berada di area abu-abu kini sibuk menyatakan loyalitas tegak lurus, karena nasib karier tidak menunggu siapa pun. Saya menyebutnya silent purge: pembersihan yang tidak pernah memakai kata “pembersihan”, hanya surat telegram dan kata “penyegaran”.
Satu pesan, menurut tafsir saya, dikirim ke seluruh negeri. Masa akomodasi sudah habis. Tidak ada dua matahari, tidak ada kabinet di dalam kabinet, tidak ada bayangan yang mengatur dari balik layar. Atau setidaknya, tidak lagi diam-diam. Genderang perang, cepat atau lambat harus ditabuh.
Tapi apakah poros lama akan duduk tenang melihat bentengnya dikuliti satu per satu? Ataukah ada manuver balasan yang sedang disusun di luar gelanggang?
Akuarium kaca punya satu keuntungan: semua orang bisa melihat siapa yang memberi makan.