Jalanan Jakarta berubah menjadi kuali panas yang mendidih. Asap hitam membubung tinggi, menelan cakrawala yang biasanya sesak oleh knalpot dan ego. Tujuh nyawa melayang sia-sia. Ratusan tubuh terkapar dengan luka lebam. Gedung-gedung negara terbakar, menyisakan kerangka hitam yang membusuk di bawah terik matahari.
Kemarahan ini meledak bukan karena satu pemicu tunggal. Ia merupakan akumulasi dari kebusukan yang dipupuk dengan rapi di ruang-ruang berpendingin udara. Rakyat melihat anggota dewan menuntut tunjangan perumahan yang melampaui logika kemanusiaan, sementara Prabowo Subianto menekan perut rakyat dengan kebijakan hemat yang memotong hak pendidikan dan kesehatan.
Ketimpangan ini menampar wajah mereka yang saban hari bergelut dengan upah minimum.
Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek berusia dua puluh satu tahun, menjadi puncak tragedi. Rekaman video memperlihatkan kendaraan lapis baja milik polisi elit melindas tubuhnya tanpa belas kasihan. Mobil besar itu terus melaju seolah ia hanya menabrak gundukan sampah. Keheningan malam Jakarta seketika pecah.
Aksi massa merembet ke segala penjuru. Gorontalo, Bandung, Palembang, Banjarmasin, Yogyakarta, hingga Makassar ikut terbakar. Kantor polisi dan gedung dewan menjadi sasaran empuk. Massa yang marah merasa muak dengan retorika elite yang memihak konglomerat dan militer.
Di Makassar, tiga orang tewas saat gedung dewan dikuasai api. Seorang lainnya meregang nyawa setelah massa menghajarnya karena salah mengira pria itu sebagai intelijen. Mahasiswa di Yogyakarta tumbang di tangan polisi anti-huru-hara. Seorang pengemudi becak di Solo tewas setelah menghirup gas air mata yang mematikan napasnya yang sudah ringkih oleh asma.
Rumah Sri Mulyani tak luput dari jarahan. Beberapa legislator pulang ke rumah yang sudah hancur lebur.
Aparat mengklaim penangkapan seribu dua ratus empat puluh orang. Gubernur Jakarta menyebut kerugian mencapai puluhan miliar rupiah. Fasilitas umum hancur. Kereta bawah tanah berhenti beroperasi.
Prabowo membatalkan kunjungan ke China. Ia memerintahkan tindakan keras. Sang mantan jenderal berteriak tentang makar dan terorisme. Ia menyuruh polisi dan militer menghantam mereka yang berani melawan.
Di sisi lain, ia mencoba meredam amarah dengan janji manis. Tunjangan perumahan dewan dipotong. Perjalanan dinas luar negeri dikurangi. Ia berjanji mengusut kematian sang pengemudi ojek.
Janji itu terasa hambar.
Apalagi ketika Prabowo kemudian memamerkan wajah angkuh di rumah sakit. Ia justru mempromosikan empat puluh personel polisi yang terluka. Ia mengabaikan kebrutalan anak buahnya dan memilih memuja mereka sebagai pahlawan.
Dunia internasional tidak tinggal diam. Perserikatan Bangsa-Bangsa menuntut penyelidikan atas kekerasan yang tidak proporsional. Kelompok hak asasi manusia mencibir sikap pemerintah yang melabeli demonstran sebagai teroris. Mereka menyoroti sejarah panjang aparat yang gemar menggunakan peluru dan pentungan daripada dialog.
Kedutaan asing sibuk mengeluarkan peringatan perjalanan. Mereka melarang warganya mendekati kerumunan.
Jakarta, dan kota-kota lain, kini menyisakan bau hangus dan kecurigaan. Rakyat berdiri di atas abu dari janji yang dikhianati. Elit bersembunyi di balik barisan tameng polisi. Tidak ada kata maaf yang tulus. Hanya ada kekerasan yang saling balas di jalanan yang semakin sempit bagi mereka yang menuntut keadilan.