Langit sore di atas Balai Desa menggantung berat, warna abu-abu tembaga yang menjanjikan hujan namun enggan tumpah. Di dalam ruangan, bau keringat bercampur aroma balsem dan minyak kayu putih menguar tajam. Dua puluh kepala duduk berhimpitan di kursi lipat yang berderit tiap kali ada yang bergerak. Mereka semua datang dengan satu janji muluk di brosur pudar: cara instan meraih bahagia.
Di depan, Pak Damar berdiri tegak. Wajahnya licin, nyaris tanpa pori, seolah hidupnya tidak pernah tersentuh beban cicilan atau sakit gigi. Dia baru saja berhenti bicara tentang teori-teori abstrak yang membuat orang mengantuk. Tiba-tiba, dia membagikan balon karet berwarna-warni kepada setiap peserta. Suara karet yang diregangkan jemari terdengar nyaring di ruangan sunyi. Pak Damar memerintahkan mereka menulis nama masing-masing di permukaan balon itu dengan spidol hitam.
Semua balon dikumpulkan ke ruang sebelah.
Lima menit. Hanya ada waktu lima menit untuk menemukan balon dengan nama sendiri. Pintu ruangan itu dibuka lebar. Peserta menyerbu masuk bagai kawanan sapi melihat palungan penuh. Tubuh saling sikut, kaki menginjak kaki orang lain, umpatan kasar terdengar bersahutan. Pak Budi, seorang pensiunan yang lututnya sering nyeri, terdorong hingga menabrak lemari. Mbak Lastri sibuk mengaduk tumpukan balon di sudut, rambutnya kusut, peluhnya membanjiri pelipis. Tidak ada yang peduli orang lain. Fokus mereka satu. Nama mereka sendiri di atas balon itu adalah harga mati.
Waktu habis. Tidak ada yang membawa balon.
Wajah-wajah itu merah padam. Napas mereka memburu, tersengal. Kecewa menumpuk di mata yang menatap lantai.
Pak Damar muncul lagi. Dia memberi instruksi baru. Mereka diminta masuk kembali, mengambil satu balon mana saja secara acak, lalu memberikannya kepada pemilik nama yang tertulis di sana.
Hening sejenak.
Mereka bergerak perlahan. Kali ini tidak ada lagi suara benturan fisik. Mbak Lastri mengambil balon biru yang di sana tertulis nama Pak Budi. Dia berjalan, menyerahkan balon itu dengan senyum kecil yang tulus. Pak Budi menerima, lalu beralih mengambil balon merah untuk diberikan kepada orang lain di dekatnya. Ruangan itu perlahan berubah menjadi bursa pertukaran yang tenang.
Kurang dari lima menit, semua orang memegang balon dengan nama mereka sendiri.
Pak Damar memperhatikan dari ambang pintu. Dia tidak tersenyum. Dia hanya memandang mereka dengan tatapan datar yang menembus hingga ke jantung. Kebahagiaan memang benda aneh, pikir orang-orang itu sambil memandangi balon masing-masing. Mereka selama ini sibuk mencarinya di kerumunan, sikut-menyikut, menganggap bahagia adalah sesuatu yang harus dirampas. Padahal, kebahagiaan mereka ternyata ada di tangan orang lain.
Kini ruangan itu terasa sesak oleh keheningan. Mereka diam dengan balon di tangan, sementara di luar, rintik hujan mulai mengetuk jendela, pelan namun pasti.