Pasar Malam Sukamaju datang saat kabut tipis mulai memeluk pinggiran kota. Tidak ada pengumuman resmi. Tiba-tiba saja, deretan lampu bohlam warna-warni berpendar di tanah lapang bekas perkebunan karet, mengundang laron-laron menari hingga mati kelelahan. Penduduk sekitar berbisik. Pemiliknya, seorang pria tua bernama Pak Darmono, jarang menampakkan diri. Dia lebih suka membiarkan sirkus itu bicara lewat suara musik organ yang terdengar sumbang dan memanggil-manggil.
Nanda, Gilang, dan Rini berdiri di depan gerbang kayu yang penuh ukiran aneh. Aroma minyak goreng, debu, dan sesuatu yang manis seperti gulali bercampur menjadi satu. Rini membetulkan letak tasnya. Dia gugup.
“Tempat ini aneh, tidak seperti pasar malam biasa,” ucap Rini.
Gilang tertawa, meski tawanya terdengar kering. “Namanya juga hiburan. Sudah, jangan banyak tanya.”
Mereka masuk. Komidi putar berputar lambat tanpa penumpang. Akrobat melompat-lompat di atas tali di ketinggian yang tidak masuk akal. Semua terasa nyata, sekaligus mimpi buruk yang dipaksakan jadi indah. Nanda merasa ada mata yang memperhatikan dari balik bayang-bayang tenda.
Jam besar di pusat lapangan berdentang dua belas kali. Suara detiknya berat, menghantam tanah. Semua wahana berhenti serentak. Lampu-lampu meredup.
Sebuah sosok tinggi kurus muncul dari balik tenda utama. Pak Darmono. Jubah hitamnya menyapu tanah lapang.
“Selamat datang,” suaranya serak, seolah terbuat dari gesekan batu. “Kalian mencari jawaban? Tantangan tersedia untuk jiwa yang berani. Masuklah ke Ruang Cermin.”
Nanda, Gilang, dan Rini saling pandang. Mereka masuk ke dalam tenda yang penuh cermin besar. Permukaan kaca itu tidak jernih. Begitu mereka berkaca, bayangan mereka sendiri mulai memelintir. Tangan Nanda di cermin menjadi panjang, mata Gilang di kaca terlihat kosong, wajah Rini berubah menjadi topeng menakutkan.
“Ingat,” Nanda mencengkeram lengan teman-temannya. “Semua ini tipuan. Jangan percaya apa yang kalian lihat.”
Cermin-cermin itu mulai mengeluarkan suara. Bisikan tentang kegagalan masa lalu. Tentang ketakutan paling dalam yang selama ini mereka kubur rapat-rapat. Gilang hampir berteriak. Dia hampir memecahkan kaca itu dengan kepalan tangannya sendiri.
Tepat saat ketakutan mereka berada di titik puncak, mereka menemukan satu cermin terakhir di ujung ruangan. Permukaannya bening. Begitu mereka melangkah melewatinya, dunia berubah. Mereka tidak lagi di tenda, melainkan di sebuah padang luas di bawah langit bertabur bintang yang diam.
Pak Darmono berdiri di sana. Wujud aslinya bukan lagi pria tua, melainkan sosok bersinar yang tampak seperti penjaga ambang batas dunia.
“Kalian lulus,” katanya tanpa gerak bibir. “Pasar ini tempat untuk menguji apakah kalian mampu menghadapi bayangan sendiri atau membiarkan bayangan itu menelan kewarasan.”
Fajar mulai menyapu cakrawala. Ketiga sahabat itu terbangun di rumput basah pinggiran kota. Pasar malam telah lenyap. Tidak ada tenda, tidak ada lampu, hanya jejak roda mobil tua di tanah lapang.
Mereka pulang dengan rasa ringan yang aneh. Ketakutan yang selama ini menghantui pikiran mereka seolah telah dibakar habis di dalam cermin-cermin tersebut.
Bertahun-tahun berlalu, mereka jarang bicara tentang malam itu. Namun, setiap kali bulan purnama bersinar terang dan aroma gulali tercium samar terbawa angin malam, mereka tahu ada pelajaran yang tertanam dalam di jiwa. Hidup bukan sekadar berjalan di atas tanah rata, melainkan keberanian menatap bayangan diri sendiri dan tetap melangkah pulang tanpa rasa takut lagi.