Retorika Versailles dan Janji Perdamaian yang Rapuh

Orang-orang bersorak, merayakan secarik kertas yang ditandatangani di Istana Versailles antara Amerika Serikat dan Iran. Mereka menyebutnya sebuah fajar baru, sebuah harapan bagi miliaran manusia yang selama ini dicekam ketakutan akan perang.

Saya melihat kerumunan ini, orang-orang yang begitu mudah terbuai oleh upacara mewah, seolah-olah dengan berjabatan tangan di atas meja kayu yang mahal, semua kebencian yang mendarah daging di antara bangsa-bangsa akan lenyap begitu saja seperti embun pagi.

Padahal kalau mau jujur, kita akan sepakat bahwa sejarah adalah tumpukan nisan dari perjanjian-perjanjian damai yang hanya bertahan selama tinta di atasnya belum mengering. Mereka bicara tentang stabilitas, tentang jalur perdagangan, dan tentang harga minyak yang akan kembali bersahabat dengan pasar. Lucu sekali. Seolah-olah kehidupan manusia dan nasib bangsa-bangsa hanyalah angka-angka dalam grafik ekonomi yang bisa dikendalikan dengan satu kali goresan pena.

Apakah mereka sungguh percaya bahwa perdamaian yang dipaksakan oleh tekanan ekonomi dan rasa takut akan kehancuran akan melahirkan keadilan?

Kita disuguhi narasi bahwa dunia membutuhkan dialog, penghormatan atas kedaulatan, dan diplomasi yang beradab. Kedengarannya memang manis, seperti madu yang dioleskan di atas luka bernanah. Namun, ingatlah, perdamaian yang dicapai melalui diplomasi antara para penguasa seringkali hanyalah jeda untuk mengisi kembali peluru, atau sekadar gencatan senjata sementara karena salah satu pihak merasa tidak sanggup lagi menanggung biaya kerugian.

Di manakah posisi kemanusiaan yang sebenarnya? Apakah kemanusiaan itu hanya dihitung seberapa lancar kapal-kapal tanker melintasi Selat Hormuz tanpa gangguan?

Pihak-pihak yang terlibat memuja perjanjian ini sebagai kemenangan diplomasi. Namun, kita harus bertanya: perdamaian bagi siapa? Apakah bagi petani-petani di Timur Tengah yang tanahnya hancur oleh bom? Atau bagi mereka yang selama ini hidup di bawah ancaman sanksi yang mencekik?

Kita tidak boleh hanya menjadi pemandu sorak bagi tatanan dunia baru yang sebenarnya hanya menukar dominasi satu pihak dengan kesepakatan elit global. Indonesia, atau bangsa mana pun yang mengaku merdeka, janganlah menjadi budak euforia. Kita harus menjadi pengawal yang curiga, bukan pendukung yang naif.

Perdamaian yang sejati tidak lahir dari ruang-ruang istana atau dari meja negosiasi yang diawasi oleh lembaga-lembaga internasional yang seringkali hanyalah kepanjangan tangan dari negara-negara kuat. Perdamaian sejati lahir dari kesadaran setiap manusia bahwa setiap nyawa, di mana pun ia berada, memiliki hak untuk tidak dirampas oleh kepentingan geopolitik negara-negara besar.

Jika kita masih membiarkan keamanan global ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling banyak atau siapa yang mengendalikan suplai energi dunia, maka perdamaian itu hanyalah sebuah kebohongan yang sangat rapi.

Jangan tertipu oleh kemegahan Versailles. Jangan terbuai oleh janji-janji implementasi yang diawasi oleh pihak ketiga yang kredibilitasnya selalu bisa dibeli. Dunia ini sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana perdamaian dikhianati oleh tangan-tangan yang menandatanganinya sendiri. Tetaplah terjaga. Jangan biarkan harapan menjadi candu yang membuat kita buta terhadap ketidakadilan yang masih bercokol di balik topeng perdamaian. Sebab, ketika perdamaian itu hanyalah kesepakatan antara kaum berkuasa untuk membagi wilayah pengaruh, maka rakyat kecil, seperti biasa, akan tetap menjadi korban yang tidak pernah dilibatkan dalam perjamuan mereka.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(