Runtuhnya Mantra Gadis Bodoh

Di rumah kami yang pengap di pinggiran Solo, sebuah mantra jahat menggantung di udara seperti asap dapur yang tak kunjung hilang. “Dasar gadis bodoh.” Empat kata itu meluncur setiap kali aku melakukan kesalahan sekecil apa pun. Ayah, pria dengan urat leher yang selalu menegang, menyukai sebutan itu. Baginya, perempuan memang diciptakan untuk menjadi pajangan yang tidak perlu banyak berpikir.

Hari itu, nilai ujian IPS-ku hancur lebur. Angka merah di atas kertas buram menjadi surat perintah bagi Ayah untuk mengamuk. Dia menendang pintu kamarku, menyeretku, lalu menempelkan kertas-kertas ujian itu di dinding tepat di depan mataku.

Deloken! Ben kabeh wong ngerti kowe rak ono uteke!” teriaknya.

Aku baru sebelas tahun. Saat itu juga, aku memutuskan bahwa aku memang tidak layak untuk menjadi pintar. Aku mulai memalsukan tanda tangan Ibu setiap kali nilai jelek keluar, menyembunyikan kenyataan di balik tumpukan buku yang tidak pernah kubaca. Hidup berubah menjadi permainan bertahan hidup yang melelahkan. Di rumah, Ayah adalah bom waktu yang siap meledak. Kakak laki-lakiku? Dia memiliki definisi kejamnya sendiri tentang bagaimana memperlakukan adik perempuan. Ibu? Dia terlalu sibuk menenggelamkan diri dalam botol-botol minuman keras untuk sekadar melirikku.

Lapangan basket menjadi satu-satunya tempat di mana aku bisa bernapas. Di sana, ada aturan yang jelas. Siapa pun yang melanggar akan dihukum. Pelatihku, Pak Slamet, adalah sosok pelindung yang tidak pernah kumiliki di rumah. Dia melihat potensiku, bukan label bodoh yang ditempelkan keluargaku.

Tahun-tahun berlalu. Aku melarikan diri ke Jakarta untuk kuliah, belajar psikologi, dan mencoba merakit kembali puing-puing jiwaku yang berserakan. Aku bertemu Bimo. Dia pria yang lembut, orang yang membuatku gemetar setiap kali aku berpikir dia akan jengah dengan masa laluku lalu pergi. Namun, dia tetap di sana. Dia tetap menggenggam tanganku bahkan saat aku terbangun karena mimpi buruk tentang Ayah.

Kehidupan kami mulai stabil hingga sebuah berita di televisi mengubah arah angin pada tahun sembilan puluhan akhir. Sebuah sekolah menengah di pinggiran kota yang dulu menjadi tempatku berlindung dari kekerasan rumah tangga, berubah menjadi medan perang. Penembakan massal. Pak Slamet, pelatih basketku yang hangat, tewas di sana.

Aku berdiri di pemakaman Pak Slamet. Mataku sembab, melihat guru-guruku menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah. Rasa tanggung jawab yang aneh menusuk ulu hatiku. Aku tidak bisa diam.

Aku mulai terjun ke dunia advokasi, mencoba menyuarakan kontrol ketat terhadap senjata. Dunia yang keras. Aku berhadapan dengan orang-orang yang menganggap hak mereka terancam. Teriakan mereka, cacian mereka, sering kali membuatku membeku. Suara Ayah seolah muncul kembali dari tenggorokan orang-orang asing itu. “Dasar gadis bodoh,” bisik suara itu di kepalaku setiap kali aku gagal merangkai kalimat dalam debat publik.

Bimo menggenggam tanganku di balik panggung setiap kali kakiku gemetar. Dia mengingatkanku bahwa suaraku berharga.

Perlahan, aku mulai meruntuhkan dinding-dinding beracun di kepalaku. Setiap kali keraguan itu muncul, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku akan bicara seperti ini pada putriku?” Jawabannya selalu tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan putriku merasa sekecil itu.

Menyembuhkan diri bukanlah perjalanan sehari. Butuh waktu puluhan tahun di kursi terapis untuk menyadari bahwa aku tidak pernah bodoh. Aku hanya dipaksa untuk mempercayai kebohongan mereka agar aku tidak memberontak. Hari ini, setiap kali aku berani bersuara di depan podium, aku sedang memukul mundur Ayah dan semua orang yang ingin membuatku bungkam. Aku bukan gadis bodoh yang mereka ciptakan dalam dongeng kebencian mereka. Aku adalah perempuan yang tahu persis siapa diriku.

(10 Oktober 2025, Memperingat Hari Kesehatan Mental Sedunia)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(