Pagi itu, di sebuah sudut kota yang tidak pernah tidur, mobil van putih melaju meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Di dalamnya ada Citra dan Rindra. Mereka sedang memulai perjalanan yang sudah lama diimpikan. Van itu hasil modifikasi sendiri, berisi kasur kecil, kompor gas, dan tumpukan barang yang disusun sedemikian rupa agar muat di ruang sempit.
Foto-foto mereka di media sosial tampak sempurna. Citra selalu tersenyum di balik kemudi. Rindra tampak cekatan mengedit video. Bagi pengikut mereka, hidup itu tampak seperti mimpi. Bebas. Tanpa jadwal. Pemandangan gunung dan pantai yang berganti setiap hari.
Rindra memarkir van di pinggir jalan raya, lalu mereka turun untuk merekam konten di depan hamparan sawah. “Tersenyumlah, Citra,” bisik Rindra sambil memegang kamera. Citra tersenyum, meski matanya tampak lelah.
Namun, di balik bingkai layar yang terang, ada cerita yang tidak pernah mereka unggah. Ruang sekecil itu membuat segalanya menjadi tegang. Siapa yang harus mengemudi. Berapa uang yang tersisa untuk bensin. Di mana mereka akan tidur malam ini. Setiap pilihan menjadi bahan perdebatan yang menguras emosi.
Puncaknya terjadi di sebuah kota di Jawa Tengah. Polisi mengetuk pintu van setelah menerima laporan tentang pertengkaran di tempat parkir. Rekaman kamera tubuh polisi yang kemudian tersebar memperlihatkan Citra yang gemetar, menangis sesenggukan. Rindra berdiri di sampingnya dengan wajah dingin, mencoba tenang saat menjelaskan situasi kepada petugas. Tidak ada penahanan. Petugas hanya meminta mereka berpisah untuk sementara agar emosi mendingin.
“Kenapa kamu harus membuat ini menjadi sulit?” tanya Rindra saat mereka kembali masuk ke dalam van.
“Aku hanya ingin pulang,” jawab Citra lirih.
Rindra tidak menjawab. Dia hanya menjalankan van itu menjauh dari kerumunan petugas.
Setelah kejadian itu, komunikasi Citra dengan keluarganya di rumah mulai berubah. Pesan yang dikirimkan terasa berbeda. Kalimat-kalimat yang diketik tidak lagi mencerminkan gaya bahasa Citra yang biasanya ceria. Keluarga mengira itu karena sinyal yang buruk di pelosok daerah, atau mungkin Citra terlalu sibuk mengedit video untuk diunggah.
Hingga akhirnya, pesan berhenti datang sama sekali.
Rindra pulang ke rumah orang tuanya di pinggiran kota tanpa Citra. Van putih itu terparkir di garasi, sepi. Saat keluarga Citra mulai mencari, Rindra tidak memberikan penjelasan apa pun. Dia menutup diri di balik pintu rumah yang tertutup rapat. Kepanikan yang tadinya pelan, berubah menjadi jeritan pilu saat polisi mulai bergerak memeriksa van tersebut.
Pencarian besar-besaran melibatkan banyak pihak. Orang-orang di media sosial mulai berbagi peta. Mereka menelusuri setiap rekaman video yang pernah diunggah pasangan itu. Seseorang menemukan potongan gambar van putih di sebuah area perkemahan yang jauh di pedalaman Jawa Timur. Itu petunjuk yang menjadi kunci.
Tim pencari menyisir hutan dan semak-semak selama berhari-hari. Helikopter melintas di atas hutan yang rimbun. Di sebuah titik yang tersembunyi di balik pepohonan, mereka menemukan jasad Citra.
Kabar itu seperti pukulan telak. Bagi keluarganya, itu adalah akhir dari harapan yang selama ini mereka pegang erat. Bagi dunia maya yang selama ini mengikuti perjalanan mereka, itu adalah realitas yang mengerikan di balik foto-foto yang tampak bahagia.
Rindra tidak ada di rumah orang tuanya saat polisi datang kembali. Dia melarikan diri ke area hutan yang rawa dan berlumpur. Pencarian kedua dimulai, kali ini untuk mencari pria yang sudah menjadi orang paling dicari di negeri ini. Setelah berminggu-minggu, mereka menemukan barang-barang milik Rindra dan sisa tubuhnya di area rawa yang sulit dijangkau. Sebuah catatan ditemukan di sana, sebuah pengakuan yang tertulis di atas kertas basah.
Kasus ini membekas dalam ingatan banyak orang. Banyak yang mendiskusikan tentang bagaimana media sosial bisa menciptakan ilusi tentang kehidupan seseorang. Bahwa senyum di foto belum tentu berarti kedamaian di dalam rumah. Bahwa perjalanan yang terlihat bebas bisa menjadi jeruji besi yang mematikan.
Citra seharusnya pulang dengan ribuan cerita dan foto untuk dibagikan. Dia seharusnya merayakan hari ulang tahunnya tahun depan dengan orang-orang yang dia cintai. Namun, takdir berkata lain. Namanya kini tertulis sebagai pengingat bahwa di balik layar yang cerah, ada kegelapan yang sering kali terabaikan. Pemandangan indah di luar sana masih ada, jalanan masih terbentang luas, namun bagi Citra, perjalanannya berhenti di sana, di tempat yang sunyi, jauh dari rumah yang selama ini dia rindukan.