Melampaui Batas Monster dalam Ingatan

Lantai kamar itu terasa sedingin es di kulit Saras. Dia meringkuk seperti janin, memeluk lututnya sendiri, sementara isak tangis yang tertahan selama berminggu-minggu akhirnya pecah menjadi raungan yang menyayat. Di ambang pintu, Baskoro mematung. Pria itu menatap istrinya dengan mata yang basah. Sudah empat tahun berlalu sejak malam di mana keruntuhan itu terjadi, namun setiap kali bayang-bayang depresi datang menjemput, Saras merasa dia kembali ke titik nol.

Saras telah hidup dengan diagnosa gangguan bipolar selama dua puluh tahun. Dia sudah melakukan segalanya. Obat-obatan diminum tepat waktu, sesi terapi dijalani dengan disiplin, dan gaya hidup sehat dipaksakan meski hatinya sering kali merasa sedang ditarik paksa menuju lubang hitam yang tak berdasar. Namun, otak manusia sering kali memiliki rencananya sendiri, rencana yang tidak memedulikan seberapa keras seseorang mencoba menjadi “normal”.

Masa kecilnya adalah tumpukan puing. Kakek dan nenek membesarkannya di sebuah rumah di pinggiran Jakarta, karena sang ibu hanyalah bayangan yang terus menghilang di balik jeratan candu. Ayah? Dia adalah nama yang hampir tidak pernah disebut, seorang pecandu alkohol yang sibuk merusak dirinya sendiri di suatu tempat yang jauh.

Di rumah kakek yang kaku, tidak ada ruang untuk bicara. Saras remaja merasa benci dan putus asa. Saat dia menelan separuh botol obat pelemas otot milik sang kakek, dia tidak merasa takut. Dia hanya ingin berhenti merasakan dunia.

Saras terbangun di rumah sakit seminggu kemudian dengan kemarahan yang meluap. Tidak ada yang bertanya mengapa dia melakukan itu. Tidak ada yang memeluknya. Dokter hanya menatapnya dengan pandangan kosong, lalu memulangkannya ke rumah yang terasa semakin asing. Dia belajar menjadi ahli dalam memakai topeng. Dia akan tersenyum saat dunia menuntutnya, dan menyembunyikan badai yang mengamuk di balik kemeja seragamnya.

Begitu cukup umur, dia mendaftar menjadi tentara untuk melarikan diri. Seragam militer menjadi topeng yang paling sempurna. Namun, di dalam barak yang bising pun, suara-suara di kepalanya tidak pernah diam.

Suatu hari di usianya yang ke dua puluh delapan, segalanya hancur. Dia melakukan kesalahan fatal yang melukai putrinya sendiri. Saras gemetar saat menceritakan itu pada seorang kawan dekat. Kawan itu membawanya ke sebuah klinik kecil. Di sanalah, setelah serangkaian tes yang melelahkan, dia mendapatkan diagnosa bipolar dengan gejala psikosis.

Saras merasa lega. Akhirnya dia punya nama untuk monster yang tinggal di kepalanya. Pengobatan yang tepat mulai bekerja, meski badai tidak pernah benar-benar hilang. Dia masih harus bertarung, terutama saat usianya menginjak empat puluh lima tahun, ketika dokter memperingatkannya bahwa episode depresi bisa menjadi jauh lebih dalam.

Kini, setiap kali dia merasa tidak sanggup lagi, dia akan duduk di depan ponsel. Kamera itu menjadi saksi bisu bagi gadis tiga belas tahun yang dulu hampir menyerah. Saras merekam video setiap tanggal sepuluh September. Dia menceritakan pada dirinya yang dulu bahwa putri sulungnya telah lulus kuliah dan kini tengah belajar menjadi seorang terapis. Dia menceritakan tentang perjalanan ke berbagai penjuru negeri yang dulu hanya berani dia impikan.

“Lihat,” bisik Saras pada layar ponselnya, suaranya parau namun teguh. “Aku sampai di sini. Hidup ini ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan dulu.”

Baskoro masuk ke kamar, duduk di sampingnya, lalu menggenggam jemari Saras yang dingin. Mereka tidak perlu bicara banyak. Menjadi pendengar yang baik tidak menuntut banyak kata, terkadang hanya kehadiran yang tidak menghakimi. Saras tahu dia bukan identitas penyakitnya. Dia adalah seorang ibu, istri, dan pemimpin organisasi sosial yang tangguh. Penyakit itu hanyalah tamu yang sesekali datang bertamu, bukan pemilik rumah yang berhak menentukan ke mana arah hidupnya akan melangkah.

[Memperingati World Suicide Prevention Day (WSPD), 10 September 2025]

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Plus Exclusive Smilies 3.0 Kaskus-style Large Kaskus-style Small Standard Smilies
:welcome
:terimakasih
:tepuktangan
:tepar
:sudahkuduga
:siapgan
:semangat
:sale
:pertamax
:pencet
:paket
:nyantai
:nulisah
:monggo
:merdeka
:kangen
:jones
:insomnia
:hargapas
:goyang
:garudadidadaku
:gagalpaham
:gaasik
:dor
:cih
:ceyem
:butuhpacar
:bokek
:belumtidur
:batik
:banggapakebatik
:ayoindonesia
:ngamuk
:lemparbata
:keepposting
:hansip
:cendolgan
:bigkiss
:xmas
:wow
:wkwkwk
:wakaka
:ultahhore
:ultah
:travel
:toast
:telolet4
:telolet3
:telolet2
:telolet1
:takut
:sup:
:sup2
:sorry
:shakehand2
:selamat
:salamkenal
:salaman
:salahkamar
:request
:repost:
:repost2
:repost
:recsel
:rate5
:peluk
:omtelolet
:nyepi
:nosara
:nohope
:ngakak
:ngacir2
:ngacir
:najis
:motret
:mewek
:matabelo
:marigerak
:marah
:malu
:maafaganwati
:maafagan
:lehuga
:kts:
:kr
:kiss
:kimpoi
:ketupat
:kbgt:
:kacau:
:jrb:
:imlek2
:imlek
:ilovekaskus
:iloveindonesia
:hoax
:hn
:hammer
:hai
:games
:entahlah
:dp
:cystg
:cool
:coblos
:cipok
:cendolbig
:cendol
:cekpm
:cd:
:cd
:catchemall:
:bola
:bingung
:bigo:
:betty
:berduka
:bedug
:batabig
:babygirl
:babyboy1
:babyboy
:angpau
:angel
:2thumbup
:1thumbup
:malu2
:siul
:newyear
:alay
:hoax2
:hope
:hotrit
:lapar
:mahongintip
:mewek2
:nerd
:pertamax
:rate
:sungkem
:supermaho
:thanks2
:tkp
:Yb
:takuts
:sundulgans
:shutups
:reposts
:ngakaks
:najiss
:malus
:mads
:kisss
:ilovekaskuss
:iloveindonesias
:hammers
:cendols
:cendolb
:cekpms
:capedes
:bookmarks
:bingungs
:bettys
:berdukas
:berbusas
:batas
:bata
:armys
:addfriends
:)b
;)
:wowcantik
:tv
:thumbup
:thumbdown
:think:
:tai
:tabrakan:
:table:
:sun:
:siul
:shutup:
:shakehand
:rose:
:rolleyes
:ricebowl:
:rainbow:
:rain:
:present:
:Phone:
:Peace:
:Paws:
:p
:Onigiri
:o
:norose:
:nohope:
:ngacir:
:moon:
:metal
:medicine:
:matabelo:
:malu:
:mad
:linux2:
:linux1:
:kucing:
:kissmouth
:kissing:
:kimpoi:
:kagets:
:hi:
:heart:
:hammer:
:gila:
:genit
:fuck:
:fuck3:
:fuck2:
:frog:
:fm:
:flower:
:exclamati
:email
:eek
:doctor
:D
:cool:
:confused
:coffee:
:clock
:ck
:buldog
:breakheart
:bingung:
:bikini
:berbusa
:beer:
:baby:
:babi:
:army
:anjing:
:angel:
:amazed:
:afro:
:)
:(