Tirta tiba di kos dengan pakaian basah kuyup. Kulitnya menggigil. Kamar Jaka tertutup rapat, si penghuni pasti sedang tewas setelah dihajar sif malam di pabrik. Tirta melangkah ke depan pintu kamar Listy.
Tok. Tok.
“Masuk, tidak dikunci,” seru Listy dari dalam.
Tirta mendorong daun pintu. Kamar itu sempit. Listy sedang menekuni lembar-lembar buku kusam di atas kasur busa. Tirta langsung memburu dispenser di pojok ruangan. Dingin makin menggigit belulang. Tanpa permisi, Tirta menjatuhkan badan ke kasur Listy, menarik selimut garis-garis sampai menutup kepala.
“Kamu datang langsung merusak pemandangan,” protes Listy. Mata tidak lepas dari buku.
Tirta menurunkan ujung kain selimut hingga sebatas hidung. “Dingin.”
Listy melirik sekilas. “Kalau mengantuk, tidur saja.”
“Teh manis hangat dulu, baru aku pindah kamar.” Tirta bangkit.
“Cabut kabel dispensernya sekalian,” perintah Listy.
Tirta menuruti tanpa membantah. Di luar, air menghantam atap seng. Tirta duduk bersila di tepi kasur, menyesap teh hangat.
“Kamu pernah dengar lagu Gloomy Sunday?” Listy memecah kesunyian.
Tirta menggeleng. Gelas panas didekatkan ke dada. “Lagu apa? Tidak pernah lewat di radio.”
“Lagu pengantar kematian. Banyak nyawa melayang secara sukarela setelah mendengarkan alunannya.” Suara Listy datar. Tajam.
“Oh ya?” Tirta menanggapi seadanya.
Listy menutup bukunya dengan sentakan keras. Buku terhempas ke atas bantal kapuk.
“Tirta.”
“Apa?”
“Kamu percaya surga?” Listy menatap lurus.
Tirta terdiam. Gelas kosong diputar-putar di atas lantai semen. “Maksudmu?”
“Kamu percaya tempat itu nyata setelah kita mati?” Nada suara Listy mendesak.
“Pertanyaanmu berat.”
“Aku tidak sedang bercanda. Aku butuh isi kepalamu.”
Tirta menghela napas. “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal sensitif? Lembar keyakinan kita sudah memastikan adanya kehidupan setelah jasad dikubur.”
“Bagaimana kalau semua itu bualan? Bagaimana kalau ini satu-satunya kesempatan kita bernapas, lalu setelah ini tidak ada apa-apa lagi selain kegelapan? Bagaimana kalau tempat seindah surga itu tidak pernah diciptakan?”
Lidah Tirta kelu. Pertanyaan itu sebenarnya sering menggerogoti kepalanya sendiri saat malam terlalu larut.
“Seandainya dunia ini memang satu-satunya panggung kita, apa yang akan kamu kejar?” Tirta balik bertanya.
Listy terdiam. Beberapa jenak berlalu. “Aku memilih percaya tempat itu ada,” suaranya lirih.
“Bagus. Tugasmu tinggal mencari cara agar mendapat tiket masuk ke sana. Selesai perkara.”
“Tapi, apakah kita akan berada di tempat yang sama di sana nanti?”
Tirta mengernyit. “Kamu aneh sejak tadi.”
Mata Listy menatap sayu. “Aku sadar, waktu seperti ini tidak akan berjalan selamanya. Suatu hari kaki kita akan melangkah di jalan yang berbeda. Tapi, apakah ingatan kita akan saling menemukan di tempat itu nanti?”
“Pikiranmu terbang terlalu jauh.”
“Jawab saja.”
“Iya, kita pasti bertamu di sana. Nanti aku kirim pesan singkat untuk menentukan titik kumpulnya,” jawab Tirta asal.
Tanpa peringatan, Listy menghambur. Tubuh Tirta didekap erat. Tangis perempuan itu pecah di pundak Tirta. Bahunya terguncang hebat.
“Apakah di sana kita masih bisa duduk berdua seperti ini?” Isak Listy makin keras.
“Hei, kamu kenapa, Lis?”
“Apakah kamu masih mengenali wajahku?”
Tirta mencoba merenggangkan dekapan. Sia-sia. Kedua tangan Listy mengunci tubuh Tirta dengan kekuatan besar. Kaos oblong Tirta basah oleh air mata.
“Terlalu melelahkan memikirkan hal yang belum terjadi. Lebih baik selesaikan tugas akhirmu. Kejar mimpimu. Itu masuk akal. Paham?”
Kalimat Tirta justru seperti menyiram bensin ke api. Tangis Listy makin menjadi.
“Lis, aku masih duduk di sini. Tepat di depanmu. Kita belum ke mana-mana. Kenapa meratapi sesuatu yang tidak ada?”
Listy tetap menolak berhenti. Tirta menyerah. Untuk pertama kali, lengan Tirta melingkari tubuh perempuan itu. Dekapan hangat.
“Maafkan aku,” Listy menyeka sisa air mata di pipi dengan punggung tangan.
Gerimis di luar mereda. Aroma tanah basah menyeruak masuk melalui ventilasi.
“Kenapa kamu mendadak melankolis?” tanya Tirta, mencoba memulihkan keadaan.
Listy memaksakan tawa kecil. Bibirnya agak pucat. “Dua malam berturut-turut mimpiku buruk.”
“Mimpi tentang apa?”
“Sesuatu yang mengerikan.”
“Cerita saja.”
“Kamu berjanji tidak akan sedih setelah mendengarnya?”
Tirta mengangguk.
“Aku memimpikan kamu terbujur kaku di dalam keranda, Tirta.”
Kamar kos mendadak senyap. Tatapan mereka bertubrukan dalam keheningan janggal.
“Lalu?” tanya Tirta datar.
“Kenapa responmu hanya ‘lalu’? Kamu tidak ngeri melihat dirimu mati di dalam mimpi?” Listy gusar.
Tirta tersenyum tipis. “Kematian adalah kepastian setiap manusia. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”
Saat kalimat itu keluar, bayangan wajah mendiang Nadya mendadak melintas di dinding ingatan Tirta.
“Kamu memang egois. Tinggal memejamkan mata lalu selesai. Kamu tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan orang yang ditinggalkan.”
Tirta tertawa kecil, mengusir atmosfer kelam. “Sudahlah, mimpi itu akibat kamu lupa mencuci kaki sebelum tidur. Jangan dilebih-lebihkan.”
“Kenapa?”
Tirta bungkam.
“Kenapa kamu tidak bisa menangkap rasa takutku saat membayangkan kehilangan kamu?”
Kalimat itu menghantam dada Tirta. Telak.
Listy menarik napas panjang. Gusar. “Kamu pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang paling kamu sayangi?”
“Maksudmu, ditinggal pergi untuk selamanya?”
Listy mengangguk.
“Pernah.” Rasa seperti ada batu besar menyumbat tenggorokan Tirta. Kotak pandora terpaksa dibuka. “Mantan kekasihku. Dia berpulang hampir setahun lalu.”
“Siapa namanya?”
“Apakah itu mengubah keadaan jika kamu mengetahuinya?”
“Aku ingin melengkapi potongan ceritamu.”
“Nadya.”
Listy mengangguk kecil, menatap ujung kaki. “Lalu bagaimana caramu berdamai? Kamu sudah merelakan dia?”
“Urusan rela atau tidak itu nomor dua. Faktanya, dia tidak akan pernah melangkah kembali ke dunia. Pilihan satu-satunya hanyalah mengikhlaskan.”
“Artinya kamu tidak merasa kehilangan?”
“Bukan begitu jalurnya. Kehilangan itu pasti, rasanya mengerikan. Tapi manusia yang masih memiliki detak jantung harus tetap melanjutkan langkah. Tidak boleh mengurung diri dalam ruang duka selamanya. Aku bisa bicara begini karena aku sudah khatam merasakan perihnya bagian itu.”
Hening kembali.
“Seandainya aku yang harus berangkat terlebih dahulu memenuhi panggilan takdir, kamu akan merasa kehilangan tidak, Tir?”
“Kenapa hari ini isi kepalamu penuh dengan skenario kematian?”
“Tinggal jawab saja.”
“Membayangkannya saja sudah membuat dadaku sesak.”
Listy tersenyum. Ada binar kepuasan di matanya. “Begini Tirta, misal posisiku saat ini adalah kekasihmu. Kemudian aku mati. Apakah kamu punya keberanian untuk ikut mati demi menyusulku?”
“Di luar sana masih bertebaran wanita cantik dengan lekuk tubuh menarik. Untuk apa aku membuang nyawa secara konyol hanya demi kamu?” sahut Tirta, dibumbui cengiran lebar.
“Sialan kamu, Tirta! Aku sudah membuang air mata berharga untuk meratapi mimpiku, dan ini balasan yang aku terima?” Listy merengut, melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya cemberut.
Tirta justru semakin terpingkal.
“Awas saja, kalau nanti kamu yang mati duluan, aku tidak akan sudi meneteskan air mata setetes pun di atas makammu,” ancam Listy.
Tawa Tirta pecah. “Sudah ah, aku tidak nyaman membahas topik ini. Biarkan saja hidup berjalan sesuai arusnya.”
Listy mendelik tajam. Kemarahan yang dibuat-buat untuk menutupi malu. Wajah cemberutnya justru terlihat menggemaskan sore ini.
“Aku menyesal telah membuka obrolan ini denganmu,” gerutunya sambil memutar tubuh membelakangi Tirta.
“Iya, maaf. Habisnya kamu aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Masih muda, masa depan panjang, tapi obrolanmu sudah mirip kakek-kakek di surau yang bersiap menghadapi ajal.”
“Memangnya apa yang salah? Angka di kartu tanda penduduk tidak pernah menjadi jaminan durasi umur seseorang lebih panjang, kan? Banyak contoh anak muda pulang lebih cepat.”
“Aku paham logika itu. Tapi banyak juga kan yang memilih menikah di usia muda?”
“Kamu benar-benar tidak bisa diajak bicara serius!”
Listy mendadak menyambar bantal kapuk. Pukulan bertubi-tubi melayang ke arah bahu dan kepala Tirta. Tirta hanya bisa meringkuk, memasang kedua lengan sebagai tameng. Serangan itu tidak kuat.
“Aku benci kamu,” ucap Listy akhirnya, menghempaskan bantal kembali ke kasur. Napasnya agak memburu.
“Wah, ada yang merajuk rupanya,” goda Tirta. “Benar-benar benci?”
“Sangat marah.”
“Yakin?”
“Menyebalkan.”
Tirta tersenyum. Pergelangan tangan Listy diraih perlahan, ditarik agar kembali duduk mendekat.
“Sini, dengarkan aku dulu, Lis,” bisik Tirta tepat di dekat telinganya.
Listy tidak menjawab, tapi membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti tarikan tangan Tirta. Ini kali kedua di sore yang sama Tirta mendekap tubuh penuh rahasia ini. Kehangatan tubuh Listy mengusir sisa dingin hujan.
“Dengarkan baik-baik ya,” lanjut Tirta, suaranya tenang di antara gemercik sisa air di luar. “Aku memang buta soal peta menuju surga. Tapi satu hal yang kuyakini, tempat itu tidak pernah menyediakan ruang untuk air mata kesedihan. Isinya hanya ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan tanpa batas.”
“Kamu seyakin itu, Tir?” suara Listy merambat pelan di dada Tirta.
“Seratus persen yakin.” Tirta mempererat lingkaran lengan. “Saat kita berhasil menciptakan ruang ketenangan, kebahagiaan, kedamaian, dan kenyamanan di dalam hati kita sendiri di dunia ini, saat itulah kita sebenarnya sudah berhasil membangun surga kecil untuk diri kita.”
Tirta merenungi kalimatnya sendiri. Terdengar asing bagi pria sekasar dia.
“Terima kasih, Tirta,” bisik Listy lirih, wajahnya tersembunyi di balik dada Tirta.
Sore itu, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter, dua manusia saling menelanjangi ketakutan terbesar yang selama ini dibungkus rapat. Sebuah ketakutan yang nyata: ketakutan jika salah satu harus melangkah pergi meninggalkan yang lain sendirian di dunia yang fana. Rasa takut akan kehilangan. Dan di detik itu Tirta akhirnya tersadar, mereka telah terjerat dalam rasa sayang yang dalam.