Malam merayap di Desa Lembah Hitam, membawa kabut dingin yang mematikan sisa-sisa kehidupan. Sepuluh tahun silam, penduduk desa menguap tanpa jejak, menyisakan bangunan-bangunan tua yang membusuk ditelan lumut. Bram, Susi, dan Aris nekat menerabas batas. Mereka percaya legenda setempat hanyalah bualan orang-orang tua yang takut gelap.
Bram memimpin jalan menuju sebuah rumah besar bergaya kolonial yang berdiri angkuh di tengah perempatan jalan. Lantai kayunya berderit menyambut kaki mereka. Bau bangkai tikus dan debu tua memenuhi rongga hidung. Susi menyorotkan senter ke dinding yang terkelupas, menangkap siluet bayangan yang bergerak sendiri.
“Pergi atau kalian akan jadi bagian dari sini,” suara bisikan itu muncul dari arah belakang.
Susi tertawa sumbang, berusaha membuang getar di suaranya. “Cukup main-mainnya. Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban. Mereka tetap melangkah masuk lebih jauh. Udara berubah beku. Nyala senter meredup, berkedip, lalu padam sama sekali. Kegelapan total mencengkeram erat.
Di sebuah kamar, mereka mendapati cermin besar dengan bingkai emas berukir sulur tanaman yang rumit. Cahaya bulan menembus kaca, memantulkan wajah mereka yang penuh keringat dingin. Suara itu kembali, lebih tajam, lebih dekat.
“Kubilang kalian jangan masuk.”
Tangan-tangan tak terlihat menyambar lengan Aris. Dia terseret masuk ke permukaan cermin yang tiba-tiba beriak seperti air. Susi menjerit tertahan saat tubuhnya ikut tertarik ke dalam kaca, mulutnya terbungkam oleh lapisan dingin yang kenyal.
Bram membeku. Lidahnya kelu.
“Kalian seharusnya patuh,” bisik sosok di balik kaca.
Cermin meledak. Pecahannya berhamburan ke lantai, tapi alih-alih suara denting kaca, ruangan itu justru dibanjiri jeritan putus asa. Sosok-sosok bayangan merayap keluar dari retakan, menyeret Bram ke dalam kehampaan. Rumah itu kembali sunyi. Hanya tertinggal tiupan angin malam yang membawa tawa puas dari balik dinding-dinding busuk, menunggu mangsa berikutnya untuk terjebak selamanya.