Papan catur kayu lipat ukuran dua puluh senti itu menjadi mainan baru. Saban jam berdentang menunjuk angka lima sore, Listy sudah mendekam di selasar lantai dua rumah kos, bersila menunggui kotak-kotak hitam putih yang pionnya sudah berbaris rapi. Tirta paham benar tabiat itu, maka dia selalu menyempatkan diri membungkus nasi rames dari warung pojok jalan sebelum pulang, agar ritual bantai-membantai di atas papan kotak-kotak ini bisa berjalan sambil mengunyah luberan kuah sayur nangka.
Perempuan itu sulit ditebak di atas papan kayu. Tirta pernah dipaksa menelan kekalahan telak, enam kosong tanpa balas dalam tempo tiga jam. Hukumannya mutlak, Tirta harus merelakan mukanya cemong oleh bedak dingin sisa semalam, lengkap dengan kuping yang panas mendengar racauan Listy yang jemawa.
“Magnetnya kayaknya sudah aus, makanya menterimu bergeser sendiri ke jalur maut,” begitu kelakar Listy setiap kali berhasil menyudutkan raja Tirta hingga mati kutu.
“Lho, kok bisa begini posisinya? Padahal aku tadi berniat melangkah ke petak sebelah,” ucap Listy dengan wajah polos yang dibuat-buat, persis anak kecil yang mencuri mangga tetangga lalu berlagak pilon.
Sisi baiknya, papan catur mini itu sanggup mencabut bayangan Nadya dari kepala Tirta. Berbulan-bulan Tirta hidup bagai buronan yang dikejar perasaan bersalah terhadap Nadya, sebuah labirin penyesalan yang sebenarnya tidak perlu karena dia tidak bersalah sama sekali. Listy, dengan segala sifat kediktatorannya yang gemar memaksa, justru berhasil menggeser poros dunia Tirta menjadi lebih berenergi. Tirta memilih menutup mata rapat-rapat mengenai rahasia kegemaran Listy melukai diri sendiri. Dia memposisikan diri sebagai orang asing yang buta huruf terhadap garis-garis luka di kaki perempuan itu, sebab Listy pun tidak pernah membuka ruang untuk membahasnya.
Suasana damai itu mendadak menguap pada suatu selasa yang gerah. Tirta menapaki anak tangga kos dengan langkah berat, bersiap menghadapi serbuan Listy yang biasanya langsung menyeret lengan kemejanya menuju kursi plastik di depan papan catur. Namun, selasar itu lengang. Dua kursi kayu berhadapan di samping meja kecil tampak lowong. Tidak ada papan catur, tidak ada tawa culas yang menyambutnya.
Tirta melangkah masuk ke kamarnya sendiri, mandi dengan air sumur yang terasa segar, lalu menyantap sebungkus nasi ramesnya sendirian. Jarum jam bergeser ke angka setengah enam, senja mulai turun membawa warna jingga yang mati, tetapi pintu kamar sebelah tetap bungkam. Penghuni kos lain, seperti Jaka dan Mas Pur, sudah mulai terdengar berisik menyalakan televisi atau mengoceh di kamar mandi bawah.
Tirta melangkah keluar, lalu mengetuk daun pintu kamar Listy yang sedikit renggang. “Lis, kamu di dalam?”
Keheningan yang pekat menyambutnya. Tirta mendorong pintu itu perlahan. Di sudut ruangan yang remang, Listy sedang meringkuk, memeluk lututnya erat-erat dengan wajah yang ditenggelamkan ke dalam lipatan kain celana jinsnya. Bahunya bergerak naik turun, bergetar seturut irama napas yang patah-patah.
“Lis? Kamu tidur dengan posisi begini?” Tirta melangkah mendekat, mengajukan pertanyaan bodoh demi memecah kecanggungan. Dia tahu perempuan itu tidak sedang bermimpi.
Tirta berlutut di lantai semen, lalu menyentuh pundak Listy yang terasa dingin. “Ada apa, Lis?”
Kepala itu menggeleng kuat tanpa berniat menampilkan wajahnya. “Aku tidak apa-apa, Tir. Keluar saja kamu.” Suaranya parau, tersangkut di tenggorokan yang kering.
“Jangan bohong. Suara kamu gemetar begitu.”
Isakan yang sejak tadi ditahan kini pecah menjadi desis pelan yang menyakitkan. Tirta tidak perlu lagi mencecar dengan rentetan pertanyaan, sebab sepasang matanya menangkap pemandangan yang membuat darah di sekujur tubuhnya mendadak mandek. Sepuluh batang jarum jahit dengan kepala bulatan plastik hitam menancap dalam, berbaris rapi di kulit kaki kiri Listy. Kulit di sekitar logam tipis itu mulai memutih, dikepung lingkaran lebam biru keunguan yang menandakan besi-besi itu sudah bersarang di sana sejak beberapa jam lalu.
“Kamu gila ya, Lis?!” pekik Tirta, bulu kuduknya berdiri menyaksikan pemandangan mengerikan itu.
“Aku tidak apa-apa, Tirta. Sumpah. Tolong tinggalkan aku sendiri.”
“Bagaimana bisa aku keluar dan membiarkan kamu menyiksa diri seperti ini!” Tirta merasakan lambungnya bergolak, membayangkan rasa ngilu jika sepuluh jarum baja menusuk dagingnya sendiri.
Kepala Tirta mendadak kosong. Dia ingin mencabut besi-besi itu, tetapi tangannya bergetar hebat saat jemarinya menyentuh batang jarum yang dingin. Logam itu tertanam terlalu kokoh di bawah jaringan kulit.
“Apa yang sebenarnya ada di otakmu sampai berbuat senekat ini?” Tirta menggerutu, mencoba mengusir rasa ngeri yang mulai melumpuhkan akal sehatnya.
Listy tetap bergeming, mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia tampak sedang bertarung dengan rasa sakit yang merayapi syarafnya, atau mungkin, dia sedang membasuh jiwanya dengan perih itu.
Tirta memaki dalam hati, mengutuk ketidakberdayaannya. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan kaki Listy agar tidak bergeser, sementara tangan kanannya mengambil ancang-ancang. Sambil membuang napas panjang, dia memejamkan mata, memantapkan hati untuk menarik jarum pertama.
Perlahan, dua ujung jarinya menjepit kepala jarum. Tirta bisa merasakan gesekan logam yang berdenyir licin di dalam daging Listy saat dia menariknya keluar. Rasa ngilu yang luar biasa merambat ke jemarinya sendiri. Butuh kegilaan tingkat tinggi untuk sengaja menancapkan benda tajam ke tubuh sendiri, dan Listy memiliki pasokan kegilaan itu dalam jumlah yang melimpah.
Cengkeraman kuku Listy menghunjam dalam ke lengan Tirta saat jarum pertama berhasil lepas. Perempuan itu tidak mengeluarkan satu pun jeritan. Hanya napasnya yang mendadak menderu lebih berat.
Darah segar berwarna merah pekat langsung menyembur dari lubang kecil bekas tusukan. Tirta merasakan kepalanya berputar, lututnya lemas, dan pandangannya mengabur. Demi menyelamatkan harga dirinya, dia menyambar selembar kaos oblong kumal yang tergeletak di lantai, lalu menekannya kuat-kuat ke atas luka Listy.
Listy mendongak, matanya yang basah oleh air mata menatap Tirta lurus-lurus. Tanpa peringatan, dia menepis tangan Tirta dengan sentakan kasar. Dengan gerakan dingin yang efisien, tangan kanannya menjepit sisa jarum-jarum di kakinya, lalu mencabutnya satu per satu seperti orang yang sedang mencabuti rumput liar di halaman rumah.
Tirta terperangah, kehilangan kata-kata. Rasa mual yang hebat menghantam dadanya melihat genangan darah dan ketegaran yang tidak manusiawi itu. Dia bangkit berdiri, berlari tunggang-langgang menuju kamar mandi kos, lalu menumpahkan seluruh isi perutnya ke dalam bak pembuangan.
“Apa yang sebenarnya kamu kejar saat menusukkan besi-besi itu ke tubuhmu? Memangnya tidak perih?” Tirta membuka percakapan setelah situasi agak mereda.
Mereka kini duduk berdampingan di dalam kamar Listy yang hanya diterangi lampu lima watt berwarna kuning suram. Listy meluruskan kaki kanannya, sementara lengan kirinya kini sudah terbebat tujuh lembar plester kain berwarna cokelat. Dia menatap Tirta dengan mata yang bengkak.
“Bagi orang lain mungkin ini kelainan, tapi aku butuh rasa sakit ini, Tir,” jawab Listy datar, tatapannya mengunci manik mata Tirta tanpa ada niat untuk berbohong.
Dada Tirta terasa sesak, seolah ada sebongkah batu es yang menyumbat jalur napasnya. “Sebegitu layakkah rasa sakit itu sampai kamu pelihara? Apa yang kamu dapat dari genangan darah itu?”
Listy tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya pada gorden jendela yang bergoyang ditiup angin malam, sebelum akhirnya kembali menatap Tirta. “Aku menikmati sensasinya, Tir. Suara tercekat di tenggorokan ini, air mata yang keluar, semua itu membawa ketenangan aneh saat ujung logam menembus kulitku.”
Tirta menarik napas dalam-dalam, menahan ngeri yang merayapi tengkuknya. Pengakuan jujur dari mulut Listy ternyata jauh lebih mengerikan ketimbang dugaannya selama ini.
“Lucu ya?” Listy menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan kanan. “Anak muda seusia kita sibuk menenggak pil koplo atau ganja untuk kabur dari kenyataan, sementara aku justru kecanduan rasa perih. Aku memang produk gagal.”
“Kamu tidak gagal, Lis,” sergah Tirta cepat. “Kamu normal. Sama seperti aku, Jaka, atau orang-orang di luar sana.”
“Terima kasih atas kalimat penghiburannya. Tapi aku tahu benar bagaimana isi kepala orang-orang kalau melihat kskiku ini.”
“Oh ya? Hebat kalau kamu sudah tahu,” sahut Tirta agak sarkastik, mencoba mencairkan suasana yang terlampau pekat.
Listy tersenyum, lalu mendaratkan pukulan pelan di lengan Tirta. “Apa kamu juga menganggap aku ini orang gila yang lepas dari bangsal rumah sakit?”
“Kalau aku menganggapmu gila, aku tidak akan sudi mengorbankan kaos oblongku untuk menyeka darahmu tadi. Kamu tahu aku peduli, Lis.”
Ada binar yang berbeda di mata Listy mendengar kalimat itu. “Terima kasih, Tir.”
“Untuk apa?”
“Untuk segalanya. Untuk ketidakhadiran tatapan menghakimi dari matamu. Aku senang ada orang yang bersedia duduk di dekatku tanpa membawa sekeranjang nasihat.”
Tirta merasakan dadanya sedikit menghangat, ada rasa bangga yang kekanak-kanakan timbul di sana. “Justru aku melihatnya terbalik. Kamu selalu repot mengurusi hidungku yang meler atau kepalaku yang pening, tapi kamu mengabaikan tubuhmu sendiri yang babak belur.”
Listy menatap Tirta dengan pandangan yang mendadak melunak. “Aku tahu batas kemampuan tubuhku sendiri.”
“Baguslah kalau begitu. Silakan urus dirimu dengan cara yang lebih manusiawi. Aku tidak punya hak untuk menceramahi kamu.”
“Penerimaan,” ucap Listy lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di luar. “Hanya itu yang aku cari selama ini, Tir. Sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari ruang tamu rumah orang tuaku sendiri. Orang-orang selalu menuntutku menjadi pajangan yang sempurna. Itu alasanku memilih mengurung diri dan menjauh dari keramaian.”
Tirta terenyuh, menyadari ada luka batin yang jauh lebih besar ketimbang sepuluh tusukan jarum jahit di lengan perempuan itu.
“Kamu bersedia menerima monster di dalam diriku ini,” bisik Listy lagi.
“Sudah, stop. Sebelum tingkat kepercayaan diriku melonjak melampaui atap kos ini, mari kita bicarakan hal lain yang lebih berbobot,” Tirta memotong pembicaraan, menyembunyikan salah tingkahnya.
Listy tertawa kecil, matanya menyipit menggelikan. “Mukamu mendadak merah, Tir.”
“Mana ada merah. Lampu kamar kuning redup begini mana bisa kelihatan. Lagipula kamu harusnya mengganti bohlam kamarmu dengan yang lebih terang, biar matamu tidak rusak saat belajar.”
“Kamu jarang mendapat pujian dari perempuan ya?” goda Listy, mengabaikan pengalihan isu dari Tirta.
“Aku heran bagaimana kamu bisa betah membaca buku di dalam kamar yang suasananya mirip rumah hantu begitu.”
“Semua yang aku ucapkan tadi tulus, tidak ada niat membuatmu besar kepala.”
“Aku bisa-bisa jadi mahasiswa abadi kalau mempertahankan gaya belajar minim cahaya seperti kamu. Pantas saja tingkat literasi bangsa kita…”
Kalimat Tirta menggantung di udara. Sesuatu yang lembut dan hangat mendarat cepat di pipi kirinya, meninggalkan sedikit bekas basah yang tertinggal sekejap. Saat Tirta menolehkan wajah dengan kaku, sepasang bola mata Listy berada tepat beberapa senti di depan mukanya. Tirta membeku, menelan ludah dengan susah payah.
“Anggap saja itu sebagai tanda lunas hutang terima kasihku atas kaos oblongmu yang bernoda darah,” ucap Listy santai, seolah-olah tindakan barusan tidak lebih dari sekadar mengetuk pintu kamar.
“Ah… iya… itu… sama-sama,” Tirta mendorong dahi Listy perlahan agar menjauh dari wajahnya.
Listy tidak akan pernah tahu bahwa pasokan darah di tubuh Tirta mendadak berpacu dengan kecepatan maksimal, membuat jantungnya berdegup liar. Lututnya bahkan gemetar karena serangan gugup yang mendadak. Otaknya seketika macet, dipenuhi bayangan abstrak yang campur aduk.
“Sialan, kamu sengaja menempelkan air liur di pipiku ya?” Tirta menggosok pipinya dengan ujung lengan baju, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh.
Tawa Listy meledak, memenuhi ruang kamar yang sempit. “Maaf, aku benar-benar tidak sengaja bikin kamu jantungan.”
Tirta mendengus kesal, mencoba menata kembali isi kepalanya yang acak-acakan akibat serangan barusan. Listy kembali diam, duduk menekuk lutut sambil menatap Tirta dengan senyum tipis yang misterius.
“Kenapa kamu tiba-tiba mencium aku?” tanya Tirta akhirnya, menuntut kejelasan.
“Kan sudah kubilang tadi, itu bentuk ucapan terima kasih karena kamu tidak pingsan melihat darah.”
“Bukan begitu maksudku. Kamu tidak berpikir bahwa tindakan impulsif kamu tadi bisa mengacaukan batasan pertemanan kita?”
“Halah, cuma kecupan di pipi saja kamu bawa sampai ke ranah melodrama,” Listy mengibaskan tangannya, kembali terkekeh. “Aku percaya kamu, Tir. Hal sepele begitu tidak akan membuat kamu mendadak benci dan mengusir aku dari kos ini.”
Sepele kata perempuan ini, batin Tirta menjerit.
Tirta memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia menatap Listy dalam-dalam. Ciuman itu memang murni luapan emosi sesaat dari seorang manusia yang akhirnya menemukan ruang aman untuk menjadi dirinya sendiri. Perempuan memang kerap kali menjelma menjadi teka-teki silang dengan petunjuk yang membingungkan.
Dalam kepasrahan malam itu, Tirta hanya bisa melayangkan doa senyap ke langit-langit kos, berharap logam-logam tajam itu tidak akan pernah lagi merobek kulit Listy. Sebab, menyaksikan perempuan itu terluka, entah bagaimana, memicu rasa sakit yang sama tajamnya di dalam dadanya sendiri.